Renungan dan Refleksi: Fr. Boy Ingatkan Umat untuk Keluar dari Zona Nyaman dalam Pewartaan Injil

 

Foto Fr. Alexander Fransesco 

Renungan dan Refleksi: Fr. Boy Ingatkan Umat untuk Keluar dari Zona Nyaman dalam Pewartaan Injil

Ketapang, 3 September 2025.Ketapang kembali disegarkan dengan sapaan rohani melalui renungan dan refleksi Injil yang disampaikan oleh seorang frater muda penuh semangat dan dedikasi, Frater Alexander Fransesco Agnes Ranubaya, S.Kom., S.Fil., atau yang akrab disapa Fr. Boy. Melalui Injil Lukas 4:38-44, ia mengajak umat untuk merenungkan kembali makna perutusan Yesus yang tidak pernah berhenti bergerak dari desa ke desa, dari kota ke kota, untuk mewartakan Kabar Gembira.

Renungan tersebut menekankan satu hal mendasar: Yesus tidak datang untuk menetap dan mencari kenyamanan, melainkan untuk meninggalkan zona nyaman demi karya keselamatan. Dalam bahasa sederhana, Fr. Boy menggambarkan bahwa hidup orang beriman sering kali terjebak dalam keinginan untuk tetap berada di “zona nyaman,” padahal panggilan iman justru mengharuskan setiap orang siap diutus, sekalipun ke tempat yang penuh tantangan.

Yesus yang Tidak Pernah Berdiam Diri

Dalam Injil Lukas 4:38-44, digambarkan bagaimana Yesus melakukan perjalanan misi yang penuh dinamika. Ia tidak hanya menetap di satu tempat, melainkan selalu bergerak, berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain, dari satu kota ke kota berikutnya.

Yesus menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat, namun Ia tidak menjadikan mukjizat-mukjizat itu sebagai sarana untuk membangun popularitas pribadi. Ia pun tidak mencari keuntungan materi, meskipun dengan kuasa yang Ia miliki, Ia bisa saja hidup dengan penuh kenyamanan.

Fr. Boy menekankan bahwa Yesus adalah teladan bagi setiap orang yang dipanggil untuk melayani, bukan untuk dilayani. “Yesus tahu bahwa tugas-Nya bukanlah menetap dan menikmati pujian manusia, melainkan terus berjalan untuk menghadirkan Kerajaan Allah,” ungkapnya dalam renungan singkat namun penuh makna.

Refleksi: Godaan Zona Nyaman

Dalam refleksi yang ia sampaikan, Fr. Boy dengan lugas menyinggung salah satu pergumulan manusia modern: keinginan untuk terus bertahan dalam zona nyaman.

Menurutnya, banyak orang saat ini lebih memilih kenyamanan dibandingkan tantangan. Hidup yang serba instan, fasilitas yang serba mudah, serta pola pikir yang cenderung mencari jalan pintas, membuat banyak orang takut menghadapi kesulitan. Padahal, justru dalam kesulitanlah karakter manusia ditempa dan kekuatan iman bertumbuh.

Seringkali dari kita ingin tetap merasa nyaman di zona aman. Kita tidak mau bersusah-susah ketika diutus ke tempat yang sulit. Dari kesulitan-kesulitan, orang menjadi kuat dan terus ditempa. Dari kenyamanan-kenyamanan, orang ingin terus berada di zona nyaman yang lambat laun akan menghancurkannya dari dalam seperti kerupuk,” tegas Fr. Boy.

Perumpamaan “kerupuk” yang ia gunakan membuat umat tersenyum, tetapi sekaligus merenung. Sebab, kerupuk memang enak dan renyah ketika dimakan, namun jika terlalu lama dibiarkan, ia mudah melempem, rapuh, dan akhirnya tidak berguna lagi.

Pesan Bagi Kaum Muda dan Umat Paroki

Sebagai seorang frater muda yang aktif membagikan renungan rohani melalui media sosialnya di Instagram @frater_boy, Fr. Boy juga menekankan pentingnya keterlibatan kaum muda dalam kehidupan Gereja.

Kaum muda, menurutnya, sering kali terjebak dalam kenyamanan dunia digital, hiburan, atau rutinitas harian. Padahal, mereka justru memiliki energi, semangat, dan daya kreatif yang besar untuk menjadi saksi iman di tengah dunia yang terus berubah.

Ia menegaskan bahwa umat, terutama orang muda, dipanggil untuk tidak hanya menjadi penonton dalam pewartaan Injil, tetapi juga pelaku aktif. Seperti Yesus yang tidak pernah berhenti berjalan, orang muda pun diajak untuk berani melangkah keluar, menanggapi tantangan, dan tidak takut untuk diutus ke tempat-tempat yang mungkin tidak nyaman.

Menghidupi Injil dalam Kehidupan Sehari-hari

Renungan ini bukan hanya sekadar ajakan teoritis. Fr. Boy menghubungkannya langsung dengan realitas kehidupan sehari-hari umat.

Ia mencontohkan bagaimana banyak orang tua sering kali lebih memilih “nyaman” dengan membiarkan anak-anaknya sibuk dengan gawai, dibandingkan meluangkan waktu mendampingi dan mendidik mereka.

Dalam dunia kerja, banyak orang yang lebih suka mencari jalan aman, bahkan dengan cara yang tidak jujur, daripada bekerja keras menghadapi risiko. Begitu pula dalam pelayanan gereja, sering kali umat hanya mau aktif jika tidak terlalu repot atau mengganggu kenyamanan pribadi.

“Padahal, iman yang sejati tumbuh ketika kita berani meninggalkan kenyamanan dan menghadapi kesulitan demi kasih kepada Tuhan dan sesama,” ujarnya.

Ketapang sebagai Lahan Misi

Dalam konteks lokal, Ketapang sendiri adalah wilayah yang luas dengan keberagaman budaya, etnis, dan agama. Tantangan pastoral di daerah ini cukup besar, mulai dari jarak antar-paroki yang jauh, keterbatasan tenaga pastoral, hingga kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang beragam.

Renungan yang disampaikan Fr. Boy menjadi semakin relevan ketika dihubungkan dengan situasi nyata umat Katolik di Ketapang. Pewartaan Injil di daerah ini menuntut semangat perutusan yang kuat, sebagaimana teladan Yesus sendiri.

Fr. Boy menekankan bahwa setiap umat beriman, apapun latar belakangnya, dipanggil untuk ikut serta dalam karya misi. Tidak semua orang bisa menjadi imam atau frater, tetapi setiap orang bisa menjadi saksi iman melalui sikap hidup sehari-hari: kejujuran, kepedulian, kerja keras, dan kasih kepada sesama.

Menghidupi Spiritualitas “Berjalan Bersama”

Dalam penutup renungannya, Fr. Boy mengajak umat untuk menghidupi spiritualitas “berjalan bersama” (synodalitas) yang saat ini menjadi semangat Gereja Katolik universal.

Berjalan bersama berarti umat tidak hanya pasif menunggu pelayanan dari pastor atau frater, tetapi ikut serta aktif dalam perjalanan iman. Berjalan bersama juga berarti berani menemani mereka yang kesulitan, berbelarasa dengan yang menderita, serta tidak segan-segan untuk keluar dari kenyamanan pribadi demi menolong sesama.

“Jika Yesus sendiri rela keluar dari kenyamanan untuk menyelamatkan kita, mengapa kita masih bertahan dalam zona aman kita sendiri?” tanya Fr. Boy dengan penuh penekanan.

Profil Singkat Fr. Boy

Fr. Alexander Fransesco Agnes Ranubaya, S.Kom., S.Fil., atau yang akrab dipanggil Fr. Boy, adalah seorang frater yang menempuh formasi religius dengan semangat pelayanan tinggi.

Latar belakang pendidikannya di bidang Ilmu Komputer (S.Kom.) dan Filsafat (S.Fil.) membuatnya mampu menggabungkan pendekatan teknologi modern dengan kedalaman refleksi rohani.

Lewat akun Instagram @frater_boy, ia aktif membagikan renungan singkat, refleksi iman, serta inspirasi hidup rohani yang menyegarkan banyak orang, khususnya kaum muda Katolik. Gayanya yang sederhana, lugas, dan menggunakan bahasa sehari-hari membuat pesannya mudah diterima lintas generasi.

Penutup: Panggilan untuk Meninggalkan Zona Nyaman

Renungan dan refleksi yang disampaikan pada 3 September 2025 di Ketapang ini menjadi sebuah ajakan sekaligus tantangan bagi umat Katolik, khususnya di wilayah Keuskupan Ketapang.

Pesan utamanya jelas: iman yang sejati bukanlah soal mencari kenyamanan, melainkan kesiapan untuk diutus, menghadapi tantangan, dan menjadi saksi Injil di mana pun kita berada.

Seperti Yesus yang tidak menetap di satu tempat, melainkan terus berjalan mewartakan Kerajaan Allah, demikian pula umat Katolik dipanggil untuk tidak tinggal diam, tetapi melangkah keluar dari zona nyaman, sekalipun jalannya penuh kesulitan.

Karena, pada akhirnya, dari kesulitanlah manusia ditempa menjadi kuat, dan dari kenyamanan yang berlebihanlah manusia justru bisa hancur perlahan seperti kerupuk yang melempem.

📌 Renungan oleh: Fr. Alexander Fransesco Agnes Ranubaya, S.Kom., S.Fil. (Fr. Boy)
📌 Instagram: @frater_boy
📍 Ketapang, 3 September 2025

📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:   3  September  2025


About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar