Sabat dan Kasih Kristus Menjadi Pusat Iman

 

Foto  RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP

Sabat dan Kasih Kristus Menjadi Pusat Iman

Ketapang, Sabtu 6 September 2025 .Suasana penuh khidmat menyelimuti Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, pada Sabtu malam (6/9/2025). Umat Katolik dari berbagai wilayah sekitar berkumpul bersama untuk merayakan Misa Hari Sabtu pukul 18.00 WIB, yang kali ini bertepatan dengan peringatan liturgis Beato Thomas Tzugi dan kawan-kawan, para martir iman, dengan warna liturgi hijau. Perayaan Ekaristi Kudus dipimpin oleh RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP., seorang imam dari Kongregasi Pasionis yang kini berkarya melayani umat di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang.

Liturgi malam itu turut dimeriahkan oleh berbagai petugas liturgi yang dengan penuh semangat memberikan pelayanan mereka. Dirigen dipegang oleh Saudara Fidelis Chrystianto, lektor dipercayakan kepada Saudara Remon, pemazmur dibawakan dengan penuh penghayatan oleh Suster Petronela, OSA., sedangkan paduan suara dipersembahkan oleh SMA Santo Petrus Ketapang yang dikenal dengan kualitas vokalnya. Mengiringi nyanyian liturgi, Saudara Darin memainkan organ dengan khidmat. Selain itu, hadir pula Ibu Idha Srilestari, seorang guru dari SMA Santo Petrus Ketapang, yang mendampingi para siswa sebagai koor.lektor.








































































































































































Homili: Jalan Menjadi Murid Kristus

Dalam homilinya, RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP., menyampaikan pesan iman yang sangat mendalam. Beliau membuka renungan dengan sapaan penuh kasih:

“Bapak, Ibu, Saudara-Saudari, dan Adik-adik terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, selamat malam.”

Beliau kemudian mengingatkan kembali suasana ketika Yesus diikuti oleh banyak orang menuju Yerusalem. Ada yang berharap Yesus menjadi raja dunia, ada pula yang hanya ingin mendengar sabda-Nya, dan tidak sedikit pula yang ingin menyaksikan mukjizat-Nya. Namun, kata Romo Oscar, Yesus menegaskan bahwa mengikuti Dia bukan soal mencari keuntungan pribadi, melainkan keberanian untuk sungguh-sungguh berkomitmen.

Homili dibagi menjadi tiga pokok refleksi penting:

  1. Keberanian meninggalkan keterikatan keluarga.
    Yesus tidak bermaksud menghapus perintah Allah yang keempat tentang menghormati orang tua. Namun, Ia menegaskan bahwa relasi dengan Allah harus menjadi yang utama. Relasi dengan keluarga penting, tetapi tidak boleh mengikat hingga melupakan panggilan utama sebagai murid Kristus.

  2. Keberanian memikul salib.
    Mengikuti Yesus berarti siap meneladan keberanian-Nya dalam memikul salib. Seorang murid Kristus tidak boleh hanya mencari jalan mudah, melainkan siap menanggung penderitaan demi iman.

  3. Lepas bebas dari keterikatan duniawi.
    Seorang pengikut Kristus harus mampu hidup dengan sikap tidak terikat pada hal-hal duniawi. Kekayaan, jabatan, atau kenyamanan duniawi tidak boleh menjadi penghalang untuk mengabdi kepada Tuhan.

Romo Oscar menekankan bahwa menjadi murid Kristus berarti semakin lama semakin kaya dalam hal rohani. Ia menegaskan:

“Saya lahir tanpa memiliki apa-apa, dan pada akhirnya kita semua dipanggil untuk kembali kepada Tuhan tanpa membawa apa-apa. Maka, lepaskanlah diri dari kepentingan duniawi, agar kita sungguh bebas dalam mengikuti Kristus.”

Bulan Kitab Suci Nasional: Seruan Pertobatan dan Kesetiaan

Perayaan Misa kali ini juga bertepatan dengan awal Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025. Romo Oscar mengajak seluruh umat untuk memasuki momen iman ini dengan hati yang terbuka. Beliau mengutip dari Surat Rasul Paulus kepada Filemon tentang kasih sebagai dasar relasi antarumat beriman. Ia juga menyinggung seruan Nabi Zakaria yang mengingatkan umat agar bertobat, serta Nabi Maleakhi yang menekankan pentingnya kesetiaan dalam keluarga dan lingkungan hidup.

“Bulan Kitab Suci Nasional adalah kesempatan bagi kita untuk kembali mendalami firman Tuhan, bukan hanya dengan membaca, tetapi dengan mewujudkannya dalam hidup sehari-hari. Mari belajar dari para nabi, agar kita semakin bertobat dan setia,” ujar beliau.

Injil Lukas 6:1-5 – Yesus, Sabat, dan Kebebasan Sejati

Bacaan Injil hari itu diambil dari Lukas 6:1-5. Dikisahkan bagaimana para murid Yesus memetik bulir gandum pada hari Sabat, yang kemudian dipersoalkan oleh orang-orang Farisi. Bagi mereka, tindakan itu dianggap melanggar hukum. Namun, Yesus menegaskan, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

Romo Oscar menjelaskan bahwa sabat bagi bangsa Yahudi adalah hari kudus untuk beristirahat, sebagaimana tertulis dalam Keluaran 20:8-11. Tujuan sabat adalah mengingat Allah sebagai Pencipta dan Penyelamat. Namun, seringkali makna sabat berubah menjadi kumpulan aturan yang membebani umat. Hukum sabat yang seharusnya menjadi anugerah Allah justru dipakai sebagai alat penghakiman.

Yesus datang untuk mengembalikan makna sejati sabat. Ia menegaskan bahwa hukum ada untuk manusia, bukan manusia untuk hukum. Dengan mengatakan bahwa Anak Manusia adalah Tuhan atas sabat, Yesus menempatkan diri-Nya sebagai pemenuhan sabat itu sendiri.

“Yesus tidak menghapus sabat, melainkan menghadirkan makna sejati sabat, yaitu perjumpaan dengan Kristus yang memberi kelegaan dan kebebasan sejati,” terang Romo Oscar.

Hidup dalam Kebebasan Kristus

Dalam renungannya, Romo Oscar mengajak umat untuk merenungkan makna kebebasan sejati dalam Kristus. Kebebasan sejati bukanlah bebas melakukan apa saja, tetapi bebas untuk mengasihi. Ketika hukum dipenuhi dengan kasih, aturan yang semula dirasakan sebagai beban akan berubah menjadi anugerah.

Beliau kemudian mengajak umat untuk mengajukan pertanyaan reflektif bagi diri sendiri:

Apakah saya menjadikan iman hanya sebatas aturan?

Apakah saya berani menempatkan kasih sebagai inti dalam setiap perbuatan?

Apakah saya memberi ruang dalam hidup untuk “sabat rohani,” yakni waktu khusus bagi Tuhan dan sesama?

Romo Oscar menutup homili dengan seruan agar umat sungguh mengalami Yesus sebagai pusat hidup mereka. “Yesus adalah Tuhan atas sabat. Dialah yang memberi kebebasan sejati. Marilah kita menghidupi iman ini dengan kasih, agar hidup kita menjadi berkat bagi sesama,” pungkasnya.

Suasana Misa: Khidmat dan Penuh Syukur

Sepanjang perayaan Ekaristi, suasana doa dan nyanyian mengalir dengan indah. Umat yang hadir memenuhi bangku gereja dengan penuh perhatian. Nyanyian paduan suara SMA Santo Petrus Ketapang membawa suasana liturgi semakin meriah dan menyentuh hati. Para siswa yang dilatih secara intensif oleh para guru dan pendamping berhasil memberikan penampilan yang memuliakan Tuhan.

Keterlibatan umat dalam liturgi malam itu menunjukkan semangat kebersamaan. Anak-anak, remaja, orang muda, hingga orang tua hadir dan berpartisipasi aktif. Kehadiran mereka menjadi tanda nyata bahwa Gereja Santo Agustinus Paya Kumang adalah komunitas iman yang hidup dan terus bertumbuh.

Penutup

Perayaan Misa Sabtu, 6 September 2025, di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang bukan hanya sekadar rutinitas liturgis, melainkan perjumpaan penuh makna dengan Kristus. Melalui homili yang mendalam, umat diingatkan untuk berani meninggalkan keterikatan duniawi, memikul salib dengan setia, serta hidup dalam kebebasan sejati yang bersumber dari kasih Kristus. Momen ini juga menjadi pintu masuk untuk merayakan Bulan Kitab Suci Nasional dengan semangat pertobatan dan kesetiaan.

Dengan demikian, umat Katolik di Keuskupan Ketapang diajak untuk terus menempatkan Yesus sebagai pusat hidup dan iman mereka. Sebab, Dialah Tuhan atas sabat, yang memberi kelegaan, kasih, dan kebebasan sejati bagi setiap orang yang mau mengikuti-Nya dengan setia.

📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:   6  September  2025

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar