Yesus, Tuhan atas Hari Sabat: Renungan dan Refleksi oleh Fr. Alexander Fransesco Agnes Ranubaya, S.Kom., S.Fil
Ketapang, 6 September 2025.Media sosial dewasa ini tidak hanya dipenuhi dengan hiburan, informasi, dan peristiwa sehari-hari, tetapi juga menjadi wadah untuk menyebarkan nilai-nilai rohani dan inspirasi iman. Salah satu tokoh muda Katolik yang aktif memberikan siraman rohani melalui platform digital adalah Fr. Alexander Fransesco Agnes Ranubaya, S.Kom., S.Fil., atau yang akrab disapa Fr. Boy.
Lewat akun Instagram pribadinya, @frater_boy, ia rutin membagikan renungan singkat dan refleksi yang menyentuh banyak hati. Pada hari Sabtu, 6 September 2025, Fr. Boy membagikan sebuah renungan berdasarkan Injil Lukas 6:1-5 yang berbicara tentang Yesus sebagai Tuhan atas hari Sabat.
Renungan ini menjadi menarik karena menyentuh kehidupan umat Katolik dalam keseharian, terlebih di tengah era modern di mana kesibukan, rutinitas, dan kewajiban seringkali membuat manusia kehilangan esensi dari doa, iman, maupun praktik keagamaan itu sendiri.
Injil Lukas 6:1-5: Yesus, Hukum, dan Hari Sabat
Dalam perikop Lukas 6:1-5, diceritakan bahwa pada suatu hari Sabat, Yesus dan murid-murid-Nya berjalan melewati ladang gandum. Murid-murid-Nya memetik bulir gandum, menggosoknya dengan tangan, lalu memakannya. Melihat hal itu, orang-orang Farisi menegur mereka, menuduh murid-murid Yesus melanggar hukum Sabat.
Yesus menjawab dengan mengingatkan peristiwa Daud yang pernah makan roti sajian yang sebenarnya hanya boleh dimakan oleh imam ketika ia dan orang-orangnya lapar. Yesus lalu menutup dengan pernyataan yang tegas:
“Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Luk 6:5)
Pesan ini begitu kuat: hukum Sabat bukanlah beban, melainkan sarana yang mengantar manusia pada kehidupan, kasih, dan keselamatan.
Renungan oleh Fr. Boy
Dalam renungan singkatnya, Fr. Boy menekankan bahwa Yesus ingin mengajarkan kepada kita bahwa hukum ada untuk manusia, bukan manusia untuk hukum. Hukum dan aturan tidak boleh menjadi belenggu yang justru menghalangi manusia mengalami sukacita, kebebasan, dan kasih dari Allah.
“Yesus menegaskan bahwa Ia adalah Tuhan atas hari Sabat, dan bahwa hukum harus dimaknai demi kehidupan, bukan justru malah membebani manusia,” tulis Fr. Boy.
Renungan ini menjadi pengingat bahwa iman bukan sekadar serangkaian aturan kaku yang harus ditaati tanpa jiwa, melainkan sebuah relasi penuh kasih antara manusia dengan Allah.
Refleksi: Menempatkan Yesus sebagai Pusat Hidup
Dalam refleksinya, Fr. Boy mengajak umat Katolik untuk merenungkan kembali sikap dalam beriman:
“Kita semua diajak untuk menempatkan Yesus sebagai pusat hidup kita, sehingga setiap aturan dan kegiatan rohani benar-benar mengarah pada kasih dan kehidupan, bukan sekadar rutinitas kaku. Apalagi hanya semata sebagai kewajiban belaka.”
Refleksi ini sangat relevan di tengah situasi saat ini. Banyak umat Katolik yang menjalankan doa, mengikuti perayaan Ekaristi, atau melakukan kewajiban rohani hanya sebatas rutinitas, tanpa benar-benar menghadirkan hati dan relasi pribadi dengan Kristus.
Fr. Boy menegaskan bahwa iman Katolik yang sejati haruslah berakar pada kasih. Kasih itulah yang menjadikan setiap aturan, doa, dan perayaan liturgi bermakna, memberi kehidupan, serta memperkuat relasi umat dengan Allah dan dengan sesama dalam Gereja.
Konteks Kehidupan Sehari-hari
Renungan ini menjadi sangat dekat dengan realitas hidup umat Katolik. Misalnya:
Dalam keluarga, orangtua sering menekankan anak-anak untuk rajin ke gereja, berdoa, atau mengikuti kegiatan rohani. Namun, jika hal itu hanya dijalankan sebagai kewajiban tanpa menghadirkan makna kasih, maka doa bisa terasa hampa.
Dalam komunitas Gereja, banyak kegiatan pastoral yang rutin dilakukan. Tetapi ketika kegiatan tersebut hanya menjadi acara formal tanpa menghidupi semangat Injil, kegiatan itu bisa kehilangan daya rohaninya.
Dalam kehidupan pribadi umat, ada yang rajin berdoa atau mengikuti misa harian. Namun, jika hati tetap penuh kebencian, iri hati, atau ketidakpedulian pada sesama, maka doa itu belum sungguh mengubah hidup.
Dengan demikian, refleksi Fr. Boy menantang umat Katolik untuk menghidupi iman dengan tulus, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.
Media Sosial sebagai Sarana Pewartaan
Perlu dicatat, renungan ini dibagikan Fr. Boy melalui akun Instagram pribadinya. Di era digital, media sosial menjadi sarana efektif untuk menyebarkan Injil.
Instagram, yang biasanya dipenuhi dengan hiburan, foto gaya hidup, atau berita viral, bisa menjadi tempat yang subur untuk pewartaan rohani. Dengan gaya bahasa yang sederhana, singkat, namun mendalam, renungan Fr. Boy dapat menjangkau banyak orang—khususnya kaum muda Katolik yang sehari-hari akrab dengan media sosial.
Kehadiran rohani di media sosial menjadi semacam oase di tengah derasnya arus informasi. Pesan Injil hadir bukan hanya di mimbar gereja, tetapi juga dalam genggaman tangan umat.
Dampak Renungan bagi Umat Katolik
Renungan yang disampaikan Fr. Boy bukan sekadar kutipan rohani, tetapi menjadi refleksi yang menyentuh hati. Banyak umat Katolik yang merasa bahwa pesan sederhana ini mengingatkan mereka akan makna sejati dari iman:
-
Menyadarkan kembali arti hukum Allah – Hukum bukan untuk membebani, melainkan untuk memberi kehidupan.
-
Menggugah umat agar menghadirkan Yesus dalam doa – Ibadah dan doa bukan rutinitas, melainkan sarana relasi kasih dengan Kristus.
-
Menghidupi kasih dalam tindakan nyata – Kasih harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dalam kata-kata.
-
Membantu umat muda Katolik – Anak muda bisa melihat bahwa iman bukan hal kaku, tetapi hidup, membebaskan, dan relevan dengan kehidupan modern.
Refleksi Lebih Mendalam: Kasih sebagai Inti Hukum
Jika ditelusuri lebih jauh, pesan Injil Lukas 6:1-5 sebenarnya mengajak umat Katolik untuk kembali ke esensi hukum Allah: kasih.
Kasih kepada Allah: dengan menempatkan Kristus sebagai pusat hidup, doa dan ibadah dihidupi dengan tulus.
Kasih kepada sesama: dengan melampaui aturan yang kaku, umat lebih mendahulukan kebutuhan manusia, sebagaimana Yesus membela murid-murid-Nya.
Kasih inilah yang membuat hukum hidup, yang menjadikan iman nyata. Tanpa kasih, hukum hanya menjadi teks kaku yang kehilangan jiwa.
Gereja dalam Arus Zaman
Renungan Fr. Boy juga mencerminkan bagaimana Gereja beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pewartaan Injil tidak lagi terbatas di altar, mimbar, atau kelas katekese, tetapi juga hadir dalam ruang digital.
Gereja perlu hadir di tengah dunia digital agar umat tidak tercerabut dari akar imannya, meski hidup di era modern yang penuh tantangan. Fr. Boy, dengan pendekatan reflektif dan sederhana, menunjukkan wajah Gereja yang akrab dengan umat, rendah hati, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Penutup
Renungan Injil Lukas 6:1-5 yang dibagikan oleh Fr. Alexander Fransesco Agnes Ranubaya, S.Kom., S.Fil. (Fr. Boy) pada 6 September 2025 di akun Instagram @frater_boy mengajak umat Katolik untuk kembali menempatkan Yesus sebagai pusat hidup.
Yesus menegaskan bahwa Ia adalah Tuhan atas hari Sabat, yang berarti bahwa hukum Allah harus selalu dimaknai demi kehidupan dan kasih, bukan sebagai beban. Refleksi ini mengingatkan umat agar menjalankan iman bukan hanya sebagai rutinitas, tetapi sebagai relasi kasih dengan Kristus.
Lewat renungan sederhana namun mendalam, Fr. Boy menghadirkan pesan Injil yang relevan dengan kehidupan sehari-hari umat, sekaligus menunjukkan bahwa media sosial bisa menjadi sarana pewartaan yang efektif di zaman ini.
Seperti yang ditulisnya, “Setiap aturan dan kegiatan rohani haruslah mengarah pada kasih dan kehidupan, bukan sekadar rutinitas kaku.” Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh umat Katolik, bahwa dalam segala hal, kasih adalah inti dari iman.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 6 September 2025

0 comments:
Posting Komentar