MINGGU ADVEN I DI PAROKI SANTO AGUSTINUS PAYA KUMANG: MGR. PIUS RIANA PRAPDI TEKANKAN MAKNA KESIAPSEDIAAN MENYAMBUT KRISTUS

 

Foto Bapa Uskup Mgr. Pius Riana Prapdi,  didampingi oleh
RP. Vitalis Nggeal, CP dan RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP.Pimpin Misa

MINGGU ADVEN I DI PAROKI SANTO AGUSTINUS PAYA KUMANG: MGR. PIUS RIANA PRAPDI TEKANKAN MAKNA KESIAPSEDIAAN MENYAMBUT KRISTUS

Ketapang, Sabtu, 29 November 2025.Umat Katolik Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, memasuki masa baru dalam perjalanan iman melalui perayaan Hari Minggu Adven I yang sekaligus menjadi awal Tahun Liturgi A. Perayaan ekaristi berlangsung khidmat dengan warna liturgi ungu, sebagai lambang pertobatan, tobat, dan kesiapsediaan hati menyambut kedatangan Tuhan.

Misa konselebrasi ini dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi, dan didampingi oleh dua imam Kongregasi Pasionis (CP), yaitu RP. Vitalis Nggeal, CP dan RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP. Perayaan dimulai pukul 18.00 WIB dan dihadiri ratusan umat yang memenuhi gereja, menandai awal masa Adven dengan suasana penuh harapan dan keteduhan rohani.

Liturgi Berlangsung Khidmat dengan Partisipasi Umat

Dalam misa tersebut, pelayanan liturgi turut diisi oleh para petugas yang telah dipersiapkan:

  • Lektor: Ibu Dian Noviyanti

  • Pemazmur: Bapak Yohanes Sigit Kurnianto

  • Koor: Lingkaran Santa Sisilia

  • Organis: Bapak Yulius Sudarisman

  • Dirigen: Ibu Kresensia Nini

Kehadiran paduan suara Lingkaran Santa Sisilia memperkaya suasana liturgis dengan nyanyian Adven yang membawa umat pada suasana tobat, kerinduan, dan sukacita menantikan kedatangan Kristus.

















































































Makna Adven dan Dimulainya Tahun Liturgi A

Dalam Gereja Katolik, Adven merupakan masa penantian. Gereja menantikan dua kedatangan Kristus:

  1. Kedatangan-Nya dalam kemuliaan pada akhir zaman, dan

  2. Kelahiran-Nya di Betlehem yang dirayakan dalam Natal.

Mulainya Tahun Liturgi A menandai fokus bacaan pada Injil Matius, yang menggambarkan Yesus sebagai Sang Mesias, Anak Daud, dan Penggenap nubuat Perjanjian Lama. Siklus liturgi A, B, dan C berulang setiap tiga tahun untuk membawa umat pada kekayaan seluruh isi Kitab Suci.

Uskup Pius membuka misa dengan menegaskan bahwa masa Adven bukan hanya sekadar rutinitas tahunan, tetapi perjalanan rohani yang memanggil umat untuk memurnikan hati dan menata hidup.

HOMILI BAPA USKUP: “HIDUPLAH SIAP SEDIA, SEBAB ANAK MANUSIA DATANG DI SAAT TAK TERDUGA”

Dalam homilinya yang panjang, mendalam, dan penuh peneguhan, Mgr. Pius Riana Prapdi mengajak seluruh umat untuk memahami makna sejati Adven. Beliau menegaskan bahwa masa Adven memiliki dua tujuan utama:

  1. Mempersiapkan diri menyambut kedatangan Kristus, Sang Anak Manusia, pada akhir zaman.

  2. Mempersiapkan hati menyambut perayaan Natal, kelahiran Kristus.

Anak Manusia: Allah yang Menjelma Menjadi Manusia Baru

Mengutip nubuat dari Kitab Daniel dan gambaran tentang akhir zaman, Uskup Pius menjelaskan bahwa zaman yang digambarkan para nabi bukan sekadar peristiwa fisik, tetapi juga realitas moral dan spiritual. “Zaman edan zaman gila di mana orang jahat tampak berkuasa,” ujar beliau.

Namun di tengah kekacauan itu, Anak Manusia hadir. “Anak Manusia adalah Allah yang menjelma menjadi manusia baru,” tegas Uskup Pius.

Beliau menekankan bahwa kehadiran Kristus membawa kedamaian universal: bangsa-bangsa tidak lagi mengangkat pedang, melainkan mengubahnya menjadi bajak. Ini menjadi simbol bahwa Kerajaan Allah adalah zaman kasih, zaman manusia baru yang hidup berpusat pada Kristus.

Air Bah Sebagai Lambang Pembaptisan

Uskup kemudian menyinggung kisah air bah pada zaman Nabi Nuh sebagai lambang pembaptisan. “Seperti air bah melahirkan kehidupan baru bagi Nuh dan segala makhluk, demikian pula baptisan melahirkan kehidupan baru dalam diri kita,” jelasnya.

Beliau menegaskan bahwa siapa pun yang telah dibaptis adalah anak-anak Allah, dan pembaptisan mengundang setiap orang untuk hidup sebagai manusia baru yang mengenakan Kristus.

Senjata Terang untuk Melawan Kegelapan Dunia

Mengutip surat Rasul Paulus, Uskup Pius menekankan bahwa manusia baru hendaknya mengenakan senjata terang, yaitu hidup dalam perbuatan baik, kejujuran, kesederhanaan, dan kasih.

Untuk memperkuat pesannya, beliau mengutip kisah motivasi tentang Andi F. Noya yang dinasihati pelatih bulu tangkis legendaris Rudi Hartono:
“Jangan pernah berpikir tentang lawan. Fokuslah.”

Uskup menegaskan bahwa prinsip ini juga berlaku dalam hidup beriman. “Sering kali kita terlalu sibuk memperhatikan kekurangan orang lain—di kantor, di masyarakat—hingga melupakan tugas kita sendiri. Akibatnya, pekerjaan kita tidak maksimal,” ujarnya.

Uskup kemudian mengajak umat untuk tidak hidup dalam sikap menghakimi, melainkan menata hati untuk menyambut kedatangan Tuhan.

“Kenakanlah Yesus Kristus sebagai Perlengkapan Perang”

Beliau menutup bagian homili dengan ajakan mendalam:
“Hendaklah engkau menaruh pikiran seperti Yesus Kristus bukan fokus pada kelemahan orang lain, tetapi menata batin demi menyambut Dia yang datang sebagai Raja.”
Perenungan Injil: Hidup Siap Sedia di Tengah Rutinitas

Melanjutkan pesan injili, misa Minggu Adven I mengangkat bacaan Injil Matius 24:37–44. Yesus berkata bahwa kedatangan Anak Manusia terjadi seperti pada zaman Nuh: orang makan, minum, kawin, dan mengawinkan semuanya berjalan seperti biasa sampai air bah datang.

Pesan ini menegaskan bahwa Tuhan sering datang di tengah rutinitas biasa, bukan dalam peristiwa spektakuler.

Bahaya “Tidur Rohani” di Tengah Kesibukan Modern

Dalam dunia kini, manusia hidup dalam arus pekerjaan, teknologi, dan rutinitas tanpa henti. Kesibukan ini dapat membuat manusia kehilangan kepekaan terhadap kehadiran Tuhan.

Tuhan dapat hadir melalui:

  • permintaan seorang teman yang membutuhkan waktu untuk didengarkan,

  • tatapan seorang miskin di pinggir jalan,

  • kesempatan untuk memaafkan,

  • atau undangan untuk berbuat kasih dalam hal kecil.

Sikap “siap sedia” bukan soal menghitung kapan Tuhan datang, tetapi menata hati agar peka terhadap sapaan-Nya.

Berjaga Bukan Karena Takut, Melainkan Karena Cinta

Seperti pernah dikatakan Santo Yohanes Paulus II:
“Kita dipanggil untuk berjaga bukan karena takut akan masa depan, tetapi karena kita percaya bahwa Allah datang untuk menyelamatkan.”

Adven mengajarkan umat untuk berjaga dengan penuh cinta, bukan kecemasan.

Kedatangan Tuhan: Kasih yang Menyapa

Dalam homilinya, Uskup Pius menegaskan bahwa Tuhan tidak datang untuk menakuti umat-Nya, tetapi untuk menyelamatkan. Hati yang hidup dalam kasih dan kesetiaan selalu siap, kapan pun Tuhan datang.

Seperti pelita yang menyala, doa, kasih, dan pengharapan menjadi tanda kesiapan yang sejati.

SUASANA PERAYAAN: TEDUH, MERIAH, DAN PENUH HARAPAN

Sepanjang perayaan, suasana gereja begitu hening namun hangat. Umat mengikuti setiap bagian liturgi dengan khusyuk. Lagu-lagu Adven yang dilantunkan Koor Santa Sisilia memberikan nuansa penantian yang mendalam.

Para orang tua membawa anak-anak mereka untuk ikut memulai Tahun Liturgi. Para OMK terlihat aktif bertugas membantu mengatur jalannya liturgi dan parkiran. Kehadiran Uskup menambah semangat umat yang sudah lama menantikan momen ini.

Setelah misa, umat saling bersalaman dan berbincang ringan di halaman gereja, menandai hangatnya kebersamaan dalam komunitas Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.

DOA PENUTUP

Perayaan misa ditutup dengan doa penyerahan diri:

“Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk selalu berjaga dan siap menyambut-Mu dalam setiap hal kecil di hidup kami. Jangan biarkan kami tertidur oleh kesibukan dunia, tetapi bangunkan kami dengan Roh-Mu agar hati kami senantiasa terbuka bagi kasih-Mu. Amin.” 

PENUTUP: ADVEN MENGHIDUPI IMAN DENGAN KESIAPSEDIAAN

Perayaan Minggu Adven I di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang menegaskan bahwa masa Adven merupakan perjalanan rohani menuju pembaruan hidup. Uskup Pius mengajak seluruh umat untuk memasuki Tahun Liturgi A dengan hati yang siap, pikiran yang berpusat pada Kristus, dan komitmen untuk hidup dalam kasih.

Melalui misa ini, umat diingatkan bahwa Tuhan senantiasa hadir dalam hal-hal kecil. Sikap berjaga bukan lahir dari ketakutan, tetapi dari cinta dan harapan. Dengan demikian, setiap umat dipanggil untuk menghidupi hari-hari menjelang Natal dengan semangat tobat, penantian penuh sukacita, dan kesiapan menyambut Kristus yang datang.

📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:   29 November  2025

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar