Foto Bapak. Erasmus Canaga Antutn, S.Sos
IBADAT APP PERTEMUAN IV DI PAROKI SANTO AGUSTINUS PAYA KUMANG HADIRKAN HARAPAN BAGI JERITAN BUMI DAN KAUM MISKIN
Ketapang, 19 Maret 2026.Umat Lingkungan Kanak-Kanak Yesus (KKY), Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, kembali menghidupi masa prapaskah melalui pelaksanaan Ibadat Pertemuan IV Aksi Puasa Pembangunan (APP) yang mengangkat tema “Menghadirkan Harapan bagi Jeritan Bumi dan Orang Miskin”. Kegiatan rohani ini berlangsung dengan penuh khidmat di kediaman keluarga Bapak Heronimus Dodo dan Ibu Elia Tewi, yang beralamat di BTN Permata Dalong 3 Blok I.18, mulai pukul 19.00 hingga 20.30 WIB.
Ibadat dipimpin oleh Prodiakon Bapak Erasmus Canaga Antutn, S.Sos, dan dihadiri oleh umat Lingkungan Kanak-Kanak Yesus serta Ketua Lingkungan, Bapak Dedy Candra. Pertemuan ini menjadi bagian dari rangkaian pembinaan iman umat dalam masa prapaskah keempat, yang menekankan pentingnya pertobatan, solidaritas, dan aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.N
Suasana Ibadat yang Khidmat dan Penuh Makna
Sejak awal, suasana ibadat terasa hening dan penuh penghayatan. Umat yang hadir duduk dengan tertib, mengikuti setiap bagian liturgi dengan penuh perhatian. Rumah keluarga yang menjadi tempat ibadat telah dipersiapkan dengan sederhana namun sarat makna, menciptakan suasana doa yang mendukung permenungan bersama.
Dalam salam pembuka, Prodiakon Erasmus Canaga Antutn mengajak umat untuk menyadari bahwa ibadat APP bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan kesempatan untuk memperbaharui hidup dan memperdalam relasi dengan Tuhan serta sesama.
“Hari ini kita diajak untuk merenungkan tema yang sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini, yaitu bagaimana menghadirkan harapan di tengah jeritan bumi dan orang miskin. Kita dipanggil untuk tidak tinggal diam, tetapi menjadi pelaku utama pengharapan,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan umat agar tidak mudah menghakimi tindakan baik orang lain, terutama dalam hal persembahan kepada Tuhan, yang sering kali disalahartikan sebagai pemborosan.
Refleksi atas Pesan Paus tentang Orang Miskin
Salah satu bagian penting dalam ibadat ini adalah pendalaman teks Pesan Paus Leo XIV untuk Hari Orang Miskin Sedunia 2025. Dalam pesan tersebut, Paus mengangkat tema “Engkaulah Harapanku”, yang menegaskan bahwa harapan sejati bersumber dari Allah dan diwujudkan melalui tindakan kasih kepada sesama, terutama mereka yang miskin dan terpinggirkan.
Dalam refleksi yang dibacakan, ditegaskan bahwa orang miskin bukanlah objek belas kasihan semata, melainkan subjek aktif yang menghadirkan harapan bagi dunia. Mereka menjadi saksi nyata bahwa harapan tidak bergantung pada kelimpahan materi, melainkan pada iman dan kepercayaan kepada Tuhan.
Paus juga mengingatkan bahwa kesejahteraan sejati tidak hanya diukur dari kekuatan ekonomi atau militer, tetapi dari terpenuhinya kebutuhan dasar manusia seperti pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan tempat tinggal.
Umat yang hadir diajak untuk merenungkan beberapa pertanyaan mendalam, antara lain:
Bagaimana menjadi pelaku utama pengharapan di tengah dunia yang rapuh?
Siapakah orang miskin dalam pandangan Gereja?
Bagaimana sikap kita terhadap mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel?
Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi bahan refleksi pribadi yang dituliskan oleh umat pada kertas yang telah dibagikan, sebagai bentuk keterlibatan aktif dalam dinamika ibadat.
Pendalaman Kitab Suci: Kasih yang Tidak Terbatas
Bagian berikutnya dari ibadat diisi dengan pembacaan Injil menurut Matius 26:6-13, yang mengisahkan tentang seorang perempuan yang mengurapi kepala Yesus dengan minyak wangi yang mahal. Tindakan tersebut sempat menuai kritik dari para murid yang menganggapnya sebagai pemborosan.
Namun, Yesus justru memuji tindakan perempuan itu sebagai perbuatan baik yang dilakukan dengan penuh kasih dan ketulusan. Dalam penjelasan yang disampaikan, ditegaskan bahwa kasih sejati tidak selalu dapat diukur dengan logika manusia atau nilai materi.
Umat diajak untuk memahami bahwa:
Perbuatan baik yang dilakukan dengan tulus akan selalu berkenan di hadapan Tuhan.
Jangan mudah menilai atau menghakimi tindakan orang lain.
Kasih kepada Tuhan dan sesama harus diwujudkan secara nyata, tanpa pamrih.
Dalam dinamika Kitab Suci, umat kembali diberi kesempatan untuk menuliskan hal-hal yang menyentuh hati mereka. Beberapa poin penegasan yang disampaikan antara lain:
Tindakan perempuan itu adalah ungkapan kasih yang mendalam, bukan pemborosan.
Para murid gagal melihat nilai spiritual dari tindakan tersebut.
Yesus membela mereka yang tulus berbuat baik, meskipun dipandang rendah oleh orang lain.
Menjadi Gereja yang Peduli dan Berbela Rasa
Melalui seluruh rangkaian ibadat, umat diajak untuk semakin menyadari panggilan sebagai Gereja yang hidup, yang tidak hanya berkumpul untuk berdoa, tetapi juga bertindak nyata dalam kehidupan sosial.
Tema APP tahun ini menjadi pengingat bahwa jeritan bumi dan orang miskin adalah tanggung jawab bersama. Kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial, dan kemiskinan bukan hanya persoalan individu, tetapi persoalan bersama yang membutuhkan keterlibatan aktif seluruh umat.
Prodiakon Erasmus menegaskan bahwa setiap orang memiliki peran dalam menghadirkan harapan, sekecil apapun tindakan yang dilakukan.
“Jangan menunggu menjadi besar untuk berbuat baik. Justru dari hal-hal kecil, dari hati yang tulus, kita bisa menghadirkan perubahan,” ujarnya.
Partisipasi Umat yang Aktif dan Antusias
Kehadiran umat Lingkungan Kanak-Kanak Yesus dalam ibadat ini menunjukkan semangat kebersamaan dan kerinduan untuk bertumbuh dalam iman. Meskipun dilaksanakan di lingkungan rumah, partisipasi umat tetap tinggi dan penuh antusias.
Ketua Lingkungan, Bapak Dedy Candra, dalam kesempatan singkat menyampaikan apresiasinya atas keterlibatan umat yang semakin aktif dalam kegiatan rohani.
“Kita bersyukur karena umat semakin sadar akan pentingnya ibadat lingkungan. Ini menjadi kekuatan kita sebagai komunitas kecil yang saling mendukung dalam iman,” katanya.
Doa Umat dan Harapan Bersama
Dalam doa umat, berbagai intensi disampaikan, mulai dari permohonan bagi keluarga, Gereja, bangsa, hingga mereka yang mengalami kesulitan hidup. Doa-doa ini menjadi ungkapan iman sekaligus solidaritas terhadap sesama.
Ibadat ditutup dengan doa penutup yang menegaskan komitmen umat untuk terus berbagi dan menghadirkan harapan melalui aksi nyata, khususnya dalam rangka APP tahun ini.
“Semoga kegiatan aksi puasa dan pembangunan ini menjadi bentuk nyata kasih kita kepada sesama, terutama mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel,” demikian doa yang dipanjatkan.
Penutup: Iman yang Dihidupi dalam Tindakan
Ibadat Pertemuan IV APP di Lingkungan Kanak-Kanak Yesus ini bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi menjadi momentum penting untuk memperbaharui iman dan komitmen sebagai umat Kristiani.
Melalui refleksi, doa, dan kebersamaan, umat diajak untuk semakin peka terhadap penderitaan sesama dan kerusakan lingkungan, serta berani mengambil langkah nyata untuk menghadirkan harapan.
Sebagaimana ditegaskan dalam pesan Paus, harapan bukanlah sesuatu yang pasif, tetapi sesuatu yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Dan dari Lingkungan Kanak-Kanak Yesus, harapan itu mulai dihidupkan dari rumah sederhana, dari hati yang tulus, dan dari iman yang terus bertumbuh.
Dengan berakhirnya ibadat, umat pulang dengan membawa damai dan berkat Tuhan, serta semangat baru untuk berkarya dalam kehidupan sehari-hari.
“Syukur kepada Allah,” demikian jawaban umat, menutup pertemuan yang penuh rahmat tersebut.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 19 Maret 2026






0 comments:
Posting Komentar