HARI RAYA PENTAKOSTA 2026

 

Foto Bapak.Hendrikus Hendri, S.S

Roh Kudus Mengobarkan Semangat Iman, Persatuan, dan Pewartaan Gereja di Tengah Umat

Ketapang, 23 Mei 2026. Ketapang  Umat Katolik di berbagai wilayah Kabupaten Ketapang menyambut dan merayakan Hari Raya Pentakosta tahun 2026 dengan penuh sukacita, iman, dan pengharapan. Hari Raya Pentakosta menjadi momentum yang sangat penting bagi Gereja Katolik karena pada hari inilah Gereja mengenangkan peristiwa turunnya Roh Kudus atas para rasul sebagaimana tertulis dalam Kisah Para Rasul 2:1-4. Peristiwa tersebut bukan hanya menjadi tanda penyertaan Allah kepada umat-Nya, tetapi juga menjadi tonggak lahirnya Gereja yang terus hidup, bertumbuh, dan mewartakan Injil keselamatan hingga saat ini.

Perayaan Hari Raya Pentakosta tahun ini dirasakan semakin bermakna karena umat diajak kembali menyadari bahwa Roh Kudus senantiasa hadir dalam kehidupan manusia. Di tengah tantangan zaman yang penuh perubahan, pergumulan hidup, krisis moral, dan berbagai persoalan sosial, Gereja terus mengajak umat untuk membuka hati terhadap karya Roh Kudus yang mempersatukan, menguatkan, serta membimbing umat menuju kehidupan yang lebih baik.

Dalam refleksi iman yang disampaikan kepada umat, Bapak Hendrikus Hendri, S.S., Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Ketapang sekaligus Ketua Bidang Liturgi dan Pewartaan Dewan Pastoral Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Keuskupan Ketapang, menegaskan bahwa Hari Raya Pentakosta merupakan peristiwa yang sangat penting dalam perjalanan Gereja.

Menurut beliau, Pentakosta bukan sekadar perayaan liturgi tahunan, tetapi sebuah undangan bagi seluruh umat beriman untuk terus memperbarui hidup dan membuka diri terhadap tuntunan Roh Kudus.

“Hari Raya Pentakosta mengingatkan kita akan kasih Allah yang terus bekerja dalam kehidupan manusia. Roh Kudus hadir untuk menguatkan, mempersatukan, dan membimbing umat agar tetap setia dalam iman serta berani menjadi saksi Kristus di tengah dunia,” ungkap Bapak Hendrikus Hendri, S.S.

Beliau menjelaskan bahwa kata “Pentakosta” berasal dari bahasa Yunani “Pentekoste” yang berarti “hari kelima puluh”. Hari Raya ini dirayakan lima puluh hari setelah Hari Raya Paskah, sebagai penutup Masa Paskah dalam lingkaran tahun liturgi Gereja Katolik.

Dalam Kitab Kisah Para Rasul dijelaskan bahwa ketika para rasul berkumpul bersama Bunda Maria, tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras dan tampaklah lidah-lidah seperti nyala api hinggap pada mereka. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus dan mereka mulai berbicara dalam berbagai bahasa sehingga banyak orang dari berbagai bangsa dapat mendengar pewartaan Injil.

Peristiwa tersebut menjadi tanda nyata bahwa Roh Kudus mempersatukan manusia dalam kasih dan pengertian. Jika pada peristiwa Menara Babel manusia tercerai-berai karena kesombongan dan ketidaktaatan, maka pada Hari Raya Pentakosta Roh Kudus menghadirkan persatuan dalam keberagaman.

Bapak Hendrikus Hendri, S.S. menambahkan bahwa Gereja saat ini sangat membutuhkan semangat Pentakosta. Umat diajak untuk hidup dalam kasih, persaudaraan, dan kebersamaan. Roh Kudus mengajarkan umat agar tidak hidup dalam kebencian, permusuhan, dan egoisme, melainkan membangun semangat persatuan dan kepedulian terhadap sesama.

“Roh Kudus adalah sumber kekuatan Gereja. Tanpa Roh Kudus, Gereja tidak akan mampu menjalankan tugas perutusannya. Karena itu umat perlu terus memohon bimbingan Roh Kudus dalam setiap langkah kehidupan,” lanjut beliau.

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengajak umat Katolik di Kabupaten Ketapang untuk menjadikan Hari Raya Pentakosta sebagai momentum pembaharuan hidup rohani. Menurutnya, kehidupan modern sering kali membuat manusia sibuk dengan urusan duniawi sehingga lupa membangun relasi dengan Tuhan.

Oleh sebab itu, umat perlu kembali memperkuat kehidupan doa, membaca Kitab Suci, mengikuti perayaan Ekaristi, serta aktif dalam kehidupan menggereja dan pelayanan.

Beliau menjelaskan bahwa Roh Kudus bekerja secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran Roh Kudus dapat dirasakan melalui damai sejahtera, sukacita, kasih, kesabaran, pengampunan, dan semangat untuk melakukan kebaikan.

“Roh Kudus menolong kita untuk hidup benar di hadapan Tuhan dan sesama. Ketika manusia mau membuka hati kepada Roh Kudus, maka hidupnya akan dipenuhi damai dan pengharapan,” kata beliau.

Hari Raya Pentakosta juga dikenal sebagai Hari Kelahiran Gereja. Setelah menerima Roh Kudus, para rasul yang sebelumnya takut dan bersembunyi menjadi berani tampil di depan umum untuk mewartakan Injil. Mereka tidak lagi takut menghadapi ancaman dan penganiayaan karena Roh Kudus memberikan keberanian dan kekuatan.

Semangat itulah yang menurut Bapak Hendrikus Hendri, S.S. perlu diteladani oleh umat Katolik saat ini. Umat dipanggil menjadi saksi Kristus melalui perkataan, tindakan, serta kehidupan sehari-hari.

“Menjadi saksi Kristus tidak selalu harus melalui kata-kata besar. Kesaksian iman dapat dimulai dari hal-hal sederhana seperti hidup jujur, saling membantu, menjaga persaudaraan, serta membawa damai di lingkungan keluarga dan masyarakat,” jelas beliau.

Beliau juga mengingatkan bahwa Roh Kudus tidak hanya bekerja dalam kehidupan pribadi, tetapi juga dalam kehidupan Gereja secara keseluruhan. Roh Kudus mempersatukan umat dalam satu iman dan satu kasih.

Karena itu, Gereja dipanggil untuk menjadi tanda persatuan di tengah dunia yang sering kali dipenuhi perpecahan dan konflik.

Dalam suasana Hari Raya Pentakosta, umat Katolik di berbagai stasi dan lingkungan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang melaksanakan berbagai kegiatan rohani seperti novena Roh Kudus, doa bersama, adorasi, pendalaman iman, dan perayaan Ekaristi.

Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi sarana bagi umat untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan serta mempererat persaudaraan antarumat.

Perayaan Pentakosta tahun ini juga menjadi kesempatan bagi umat untuk merenungkan kembali peran Roh Kudus dalam kehidupan keluarga. Keluarga Katolik diajak menjadi tempat tumbuhnya iman, kasih, pengampunan, dan semangat pelayanan.

Bapak Hendrikus Hendri, S.S. mengatakan bahwa keluarga yang dipenuhi Roh Kudus akan menjadi keluarga yang kuat menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

“Dalam keluarga, Roh Kudus mengajarkan kita untuk saling mengasihi, saling memahami, dan saling mengampuni. Keharmonisan keluarga menjadi salah satu tanda nyata karya Roh Kudus,” tutur beliau.

Selain itu, beliau juga mengajak generasi muda Katolik untuk semakin aktif dalam kehidupan Gereja. Kaum muda diharapkan tidak takut terlibat dalam pelayanan, kegiatan rohani, maupun karya sosial.

Menurut beliau, Roh Kudus memberikan banyak karunia kepada setiap orang. Karunia tersebut harus digunakan untuk membangun Gereja dan melayani sesama.

“Kaum muda adalah harapan Gereja. Dengan semangat Roh Kudus, kaum muda dapat menjadi pelopor persaudaraan, kedamaian, dan perubahan positif di tengah masyarakat,” ungkap beliau.

Hari Raya Pentakosta juga menjadi pengingat bahwa Gereja memiliki tugas pewartaan yang harus terus dijalankan. Gereja dipanggil untuk membawa kabar sukacita Injil kepada semua orang tanpa membeda-bedakan suku, budaya, maupun latar belakang.

Dalam konteks kehidupan masyarakat yang majemuk di Kabupaten Ketapang, semangat Pentakosta menjadi sangat relevan karena mengajarkan persatuan dalam keberagaman.

Bapak Hendrikus Hendri, S.S. menegaskan bahwa umat Katolik harus mampu menjadi pembawa damai dan menjaga toleransi antarumat beragama.

“Kita hidup di tengah masyarakat yang beragam. Roh Kudus mengajarkan kita untuk hidup dalam kasih, menghargai perbedaan, dan membangun persaudaraan dengan semua orang,” kata beliau.

Beliau juga mengingatkan bahwa Gereja harus hadir di tengah masyarakat melalui tindakan nyata. Semangat Pentakosta harus diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang mengalami kesulitan hidup.

Menurut beliau, pelayanan sosial, perhatian terhadap orang kecil, serta semangat gotong royong merupakan bagian dari wujud nyata karya Roh Kudus.

Dalam refleksi yang disampaikan kepada umat, beliau menekankan pentingnya menjaga kehidupan rohani di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang begitu cepat.

Beliau mengatakan bahwa kemajuan teknologi dapat membawa manfaat besar jika digunakan secara bijaksana, namun juga dapat menjadi tantangan jika membuat manusia semakin jauh dari Tuhan.

Karena itu, umat diajak menggunakan media sosial dan teknologi digital untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan, damai, dan kasih.

“Sebagai umat beriman, kita dipanggil menjadi terang dan garam dunia, termasuk dalam penggunaan media sosial. Jangan sampai media digunakan untuk menyebarkan kebencian dan perpecahan,” pesan beliau.

Perayaan Hari Raya Pentakosta juga mengingatkan umat akan pentingnya doa kepada Roh Kudus. Dalam tradisi Gereja Katolik, doa kepada Roh Kudus menjadi sumber kekuatan bagi umat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Doa “Datanglah ya Roh Kudus” menjadi doa yang sangat dikenal dan sering didaraskan oleh umat.

Dalam doanya, umat memohon agar Roh Kudus memenuhi hati orang beriman dan menyalakan api cinta kasih Allah.

Bapak Hendrikus Hendri, S.S. mengajak umat untuk tidak pernah lelah berdoa dan memohon bimbingan Roh Kudus.

“Ketika manusia berdoa dengan sungguh-sungguh, Roh Kudus bekerja dalam hati manusia. Roh Kudus memberikan kekuatan, penghiburan, dan harapan,” jelas beliau.

Beliau juga mengingatkan bahwa buah-buah Roh Kudus harus tampak dalam kehidupan umat sehari-hari. Dalam Surat Galatia 5:22-23 disebutkan bahwa buah-buah Roh adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.

Menurut beliau, dunia saat ini sangat membutuhkan kehadiran orang-orang yang hidup dalam buah-buah Roh Kudus.

“Jika setiap orang hidup dalam kasih dan damai, maka kehidupan masyarakat akan menjadi lebih harmonis dan penuh persaudaraan,” katanya.

Hari Raya Pentakosta juga menjadi kesempatan bagi Gereja untuk semakin memperkuat semangat pelayanan. Para pelayan Gereja, baik imam, biarawan-biarawati, pengurus lingkungan, katekis, maupun umat awam, diajak untuk melayani dengan tulus dan penuh kasih.

Bapak Hendrikus Hendri, S.S. menegaskan bahwa pelayanan dalam Gereja bukan untuk mencari pujian, tetapi sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan dan sesama.

“Pelayanan yang sejati lahir dari hati yang dipenuhi Roh Kudus. Orang yang melayani dengan kasih akan membawa sukacita bagi banyak orang,” ujar beliau.

Dalam suasana penuh sukacita Hari Raya Pentakosta, umat Katolik di Kabupaten Ketapang juga diajak untuk terus menjaga semangat persaudaraan di lingkungan Gereja.

Kebersamaan dalam doa, kerja sama dalam pelayanan, serta saling mendukung antarumat menjadi bagian penting dalam membangun Gereja yang hidup.

Beliau mengatakan bahwa Gereja yang kuat adalah Gereja yang dipenuhi semangat kasih dan persatuan.

“Jangan ada perpecahan dalam Gereja. Roh Kudus mempersatukan kita sebagai satu keluarga Allah,” tegas beliau.

Selain menjadi momentum rohani, Hari Raya Pentakosta juga menjadi kesempatan untuk memperkuat komitmen umat dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Umat Katolik diharapkan dapat menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat melalui sikap jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

Menurut Bapak Hendrikus Hendri, S.S., iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

“Iman tanpa perbuatan adalah mati. Semangat Pentakosta harus tampak dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, tempat kerja, sekolah, maupun masyarakat,” ungkap beliau.

Beliau juga mengajak umat untuk terus menjaga harapan di tengah berbagai tantangan kehidupan.

Menurutnya, Roh Kudus adalah sumber penghiburan dan kekuatan bagi umat yang sedang mengalami kesulitan, penderitaan, maupun pergumulan hidup.

“Jangan pernah putus asa. Roh Kudus selalu menyertai umat Allah. Dalam setiap kesulitan, Tuhan tetap hadir dan memberikan jalan,” katanya.

Hari Raya Pentakosta tahun 2026 menjadi momen penting bagi umat Katolik untuk semakin memperdalam iman dan memperbaharui semangat hidup kristiani.

Semangat Roh Kudus diharapkan terus menyala dalam hati umat sehingga Gereja semakin hidup, berkembang, dan mampu menjadi saksi kasih Allah di tengah dunia.

Di akhir refleksinya, Bapak Hendrikus Hendri, S.S., Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Ketapang sekaligus Ketua Bidang Liturgi dan Pewartaan Dewan Pastoral Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Keuskupan Ketapang, mengucapkan Selamat Hari Raya Pentakosta kepada seluruh umat Katolik.

Beliau berharap agar Roh Kudus senantiasa memenuhi hati umat dengan damai, kasih, serta semangat untuk terus hidup dalam iman.

“Datanglah ya Roh Kudus, penuhilah hati umat-Mu dan nyalakanlah di dalamnya api cinta-Mu. Utuslah Roh-Mu ya Tuhan, dan jadi baru seluruh muka bumi. Selamat Hari Raya Pentakosta bagi seluruh umat Katolik. Semoga Roh Kudus selalu membimbing dan menguatkan kita semua,” tutup beliau.

Perayaan Hari Raya Pentakosta tahun ini menjadi pengingat bahwa Gereja akan terus hidup dan berkembang selama umat membuka hati terhadap karya Roh Kudus. Dalam dunia yang terus berubah, Roh Kudus tetap menjadi sumber kekuatan, pengharapan, dan persatuan bagi seluruh umat beriman.

Dengan semangat Pentakosta, umat Katolik diharapkan semakin berani menjadi saksi Kristus yang membawa kasih, damai, dan sukacita bagi sesama. Roh Kudus yang dahulu turun atas para rasul tetap bekerja hingga kini, membimbing Gereja dalam peziarahannya menuju Kerajaan Allah.

Selamat Hari Raya Pentakosta 2026.

Ketapang, 22 Mei 2026

Bapak Hendrikus Hendri, S.S.
Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Ketapang
Ketua Bidang Liturgi dan Pewartaan Dewan Pastoral Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Keuskupan Ketapang

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 23  Mei 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar