Foto Bapak Hendrikus Hendri, S.S
Ketapang, 5 Juni 2026.Gereja Katolik di seluruh dunia kembali merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus atau Corpus Christi, sebuah perayaan agung yang mengajak umat beriman untuk semakin menyadari dan menghayati misteri kasih Allah yang hadir secara nyata dalam Sakramen Ekaristi. Hari raya ini menjadi kesempatan istimewa bagi umat untuk merenungkan kembali makna kehadiran Kristus yang senantiasa menyertai Gereja-Nya melalui Tubuh dan Darah-Nya yang kudus.
Bapak Hendrikus Hendri, S.S., Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Ketapang sekaligus Ketua Bidang Liturgi dan Pewartaan Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, menjelaskan bahwa Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus merupakan salah satu perayaan penting dalam kalender liturgi Gereja Katolik yang menegaskan iman akan kehadiran nyata Yesus Kristus dalam Sakramen Mahakudus.
Menurut beliau, perayaan ini tidak hanya mengingatkan umat akan Perjamuan Malam Terakhir yang dilakukan Yesus bersama para murid-Nya, tetapi juga mengajak setiap orang beriman untuk semakin mencintai Ekaristi sebagai sumber kekuatan rohani dalam perjalanan hidup sehari-hari.
Misteri Agung Ekaristi
Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dirayakan pada Minggu kedua sesudah Pentakosta atau Minggu pertama setelah Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Perayaan ini memiliki akar sejarah yang panjang dalam kehidupan Gereja.
Pada tanggal 8 September 1264, Paus Urbanus IV melalui bulla Transiturus de Hoc Mundo menetapkan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus untuk dirayakan oleh seluruh Gereja universal. Keputusan tersebut lahir dari kerinduan Gereja untuk memberikan penghormatan khusus kepada Sakramen Ekaristi sebagai warisan paling berharga yang ditinggalkan Kristus kepada umat-Nya.
Di Indonesia, sesuai dengan ketentuan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang berpedoman pada Kitab Hukum Kanonik Kanon 1246 poin 2, perayaan ini dipindahkan ke hari Minggu agar lebih banyak umat dapat berpartisipasi secara aktif dalam perayaan tersebut.
Bapak Hendrikus Hendri, S.S. menegaskan bahwa inti dari Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus adalah pengakuan iman Gereja terhadap doktrin transubstansiasi, yaitu perubahan hakikat roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus melalui kuasa Roh Kudus dalam Doa Syukur Agung yang dipimpin imam.
Walaupun secara lahiriah rupa roti dan anggur tetap terlihat sama, Gereja percaya bahwa hakikatnya telah berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus yang sesungguhnya.
"Barangsiapa Makan Daging-Ku dan Minum Darah-Ku"
Tema utama Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus tahun ini diambil dari Injil Yohanes 6:54:
"Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman."
Sabda Yesus ini menjadi jantung spiritual perayaan Corpus Christi. Melalui perkataan-Nya, Yesus mengungkapkan bahwa Ekaristi bukan sekadar simbol, melainkan sarana keselamatan yang menghadirkan kehidupan ilahi bagi umat manusia.
Dalam refleksinya, Bapak Hendrikus Hendri, S.S. menjelaskan bahwa banyak orang pada masa Yesus mengalami kesulitan memahami sabda tersebut. Namun Yesus tidak menarik kembali perkataan-Nya. Sebaliknya, Ia menegaskan bahwa Tubuh dan Darah-Nya benar-benar menjadi makanan dan minuman bagi kehidupan dunia.
Oleh karena itu, setiap kali umat menerima Komuni Kudus, mereka tidak hanya menerima berkat atau lambang kehadiran Allah, tetapi sungguh menerima Kristus sendiri yang datang dan tinggal dalam hati mereka.
Merayakan Kehadiran Kristus yang Nyata
Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus merupakan perayaan kasih Allah yang tak terbatas. Allah tidak hanya mengajar dan membimbing umat-Nya, tetapi juga memberikan diri-Nya sendiri sebagai santapan rohani.
Melalui Ekaristi, Kristus hadir secara nyata untuk menguatkan, menyembuhkan, memperbarui, dan membimbing umat beriman dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, konflik, dan berbagai persoalan moral, Ekaristi menjadi sumber pengharapan yang tidak pernah habis.
Setiap kali mengikuti Perayaan Ekaristi, umat diajak untuk mengalami kembali perjumpaan pribadi dengan Kristus yang hidup.
Karena itu Gereja menyebut Ekaristi sebagai "sumber dan puncak seluruh kehidupan Kristiani." Semua karya Gereja mengarah kepada Ekaristi dan memperoleh kekuatannya dari Ekaristi.
Momen Istimewa Komuni Pertama
Di banyak paroki, Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus menjadi momen istimewa untuk penerimaan Komuni Pertama anak-anak.
Peristiwa ini menjadi pengalaman rohani yang sangat penting karena untuk pertama kalinya mereka menerima Tubuh Kristus secara sakramental.
Bapak Hendrikus Hendri, S.S. menuturkan bahwa Komuni Pertama bukanlah akhir dari proses pembinaan iman, melainkan awal perjalanan yang lebih mendalam dalam persahabatan dengan Yesus Kristus.
Anak-anak yang menerima Komuni Pertama diajak untuk terus bertumbuh dalam kehidupan doa, rajin mengikuti Misa Kudus, membaca Kitab Suci, dan terlibat aktif dalam kehidupan menggereja.
Peran orang tua menjadi sangat penting dalam mendampingi pertumbuhan iman anak-anak. Keluarga merupakan Gereja domestik, tempat pertama dan utama bagi anak untuk mengenal Kristus.
Ekaristi Membentuk Karakter Kristiani
Salah satu buah utama Ekaristi adalah perubahan hidup.
Setelah menerima Tubuh Kristus, umat dipanggil untuk menjadi serupa dengan Kristus dalam pikiran, perkataan, dan tindakan.
Ekaristi bukan hanya soal datang ke gereja dan menerima Komuni Kudus, tetapi juga soal menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Orang yang sungguh menerima Kristus seharusnya semakin mampu mengampuni, melayani, berbagi, dan mengasihi sesama tanpa pamrih.
Inilah makna mendalam dari ungkapan Santo Cyrillus:
"Dia yang menerima Tubuh dan Darah Kristus bersatu dengan-Nya, sehingga dia ditemukan di dalam Kristus dan Kristus ditemukan di dalam dia."
Persatuan dengan Kristus harus tampak dalam kehidupan nyata melalui kesaksian iman yang hidup.
Membawa Kristus ke Tengah Dunia
Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus mengingatkan bahwa setiap umat yang telah menerima Komuni Kudus dipanggil untuk membawa Kristus ke tengah dunia.
Kristus yang diterima dalam Ekaristi harus hadir dalam keluarga, lingkungan kerja, sekolah, masyarakat, dan seluruh aspek kehidupan.
Dunia saat ini membutuhkan lebih banyak saksi kasih daripada sekadar pengajar kasih.
Karena itu umat Katolik dipanggil menjadi garam dan terang dunia melalui tindakan nyata yang mencerminkan kehadiran Kristus.
Ketika umat menghibur yang berduka, membantu yang miskin, mengunjungi yang sakit, mengampuni yang bersalah, dan memperjuangkan keadilan, saat itulah Kristus hadir dan berkarya melalui mereka.
Penutup
Menutup refleksinya, Bapak Hendrikus Hendri, S.S., Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Ketapang dan Ketua Bidang Liturgi dan Pewartaan Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, mengajak seluruh umat untuk semakin mencintai Ekaristi dan menjadikan Perayaan Misa Kudus sebagai kebutuhan rohani yang utama.
"Setiap kali kita menerima Tubuh dan Darah Kristus, kita menerima hidup Kristus sendiri. Oleh karena itu, marilah kita semakin setia mengikuti Ekaristi, semakin sering menyambut Komuni Kudus dengan layak, dan semakin berusaha menghadirkan Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah berkat bagi sesama sebagaimana Kristus telah menjadi berkat bagi kita."
Semoga melalui perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, seluruh umat beriman semakin bertumbuh dalam cinta kepada Ekaristi, semakin erat bersatu dengan Kristus, dan semakin berani menjadi saksi kasih-Nya di tengah dunia.
Ketapang, 4 Juni 2026
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 5 Juni 2026
.png)

0 comments:
Posting Komentar