RP. Vitalis Nggeal, CP Berikan Pembekalan Calon Baptis di Paroki Santo Agustinus Keuskupan Ketapang: Meneguhkan Iman Menuju Sakramen Baptis

 

Foto RP. Vitalis Nggeal, CP.Memberikan Pembekalan

Ketapang, 19 Juli 2026.Setelah Perayaan Ekaristi Minggu Biasa XVI yang berlangsung pada Minggu pagi, 19 Juli 2026, umat Paroki Santo Agustinus, Keuskupan Ketapang, kembali mengikuti kegiatan pembinaan iman yang menjadi bagian penting dalam kehidupan menggereja. Mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai, RP. Vitalis Nggeal, CP, Pastor Kepala Paroki Santo Agustinus, Keuskupan Ketapang, memberikan pembekalan kepada tiga orang calon baptis yang sedang mempersiapkan diri untuk menerima Sakramen Baptis sebagai pintu masuk ke dalam kehidupan Gereja Katolik.

Pembekalan ini dilaksanakan sebagai bagian dari tanggung jawab Gereja dalam memastikan bahwa setiap calon baptis memahami makna iman yang akan dihayatinya. Gereja tidak hanya mempersiapkan seseorang untuk menerima upacara baptis, tetapi juga membentuk kehidupan iman yang berakar pada Yesus Kristus dan ajaran Gereja.







Dalam suasana yang penuh keakraban, RP. Vitalis Nggeal, CP menyampaikan bahwa baptis bukan sekadar sebuah tradisi atau syarat menjadi anggota Gereja, melainkan sebuah rahmat Allah yang mengubah hidup seseorang. Melalui Sakramen Baptis, seseorang dilahirkan kembali sebagai anak Allah, dibersihkan dari dosa, dan dipersatukan dengan Kristus serta Gereja-Nya.

"Kita menerima baptis bukan hanya agar tercatat sebagai umat Katolik, tetapi supaya hidup kita sungguh menjadi murid Kristus yang setia. Baptis adalah awal perjalanan iman yang harus terus dipelihara sepanjang hidup," jelas RP. Vitalis Nggeal, CP, Pastor Kepala Paroki Santo Agustinus, Keuskupan Ketapang kepada para peserta pembekalan.

Empat Tahapan Menuju Sakramen Baptis

Dalam pembinaan tersebut, RP. Vitalis Nggeal, CP menjelaskan bahwa Gereja Katolik memiliki proses pembinaan yang sistematis bagi setiap calon baptis, khususnya bagi orang dewasa. Pembinaan tersebut terdiri atas empat tahapan utama, yaitu:

Pertama, Pra-Katekumenat.

Tahap awal ini merupakan masa perkenalan antara calon baptis dengan Gereja. Pada tahap ini calon diajak mengenal pribadi Yesus Kristus, memahami dasar-dasar iman Katolik, serta mulai membangun kerinduan untuk mengikuti Kristus secara lebih mendalam.

Tahap ini menjadi kesempatan bagi calon baptis untuk bertanya, berdiskusi, dan mengenal kehidupan Gereja tanpa adanya tekanan. Gereja menghargai kebebasan setiap orang dalam menanggapi panggilan Tuhan.

Kedua, Katekumenat.

Tahap ini merupakan masa pembinaan yang lebih mendalam. Para calon menerima pengajaran mengenai ajaran Gereja, Kitab Suci, kehidupan doa, moral Kristiani, serta berbagai aspek kehidupan umat Katolik.

Dalam masa katekumenat, peserta diajak tidak hanya memahami teori iman, tetapi juga mulai menghidupi iman tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, Penerimaan Sakramen Inisiasi.

Pada tahap ini calon menerima Sakramen Baptis dan, sesuai ketentuan Gereja bagi baptis dewasa, biasanya juga menerima Sakramen Krisma dan Sakramen Ekaristi sebagai rangkaian Sakramen Inisiasi Kristen.

Melalui ketiga sakramen tersebut seseorang secara penuh menjadi anggota Gereja Katolik.

Keempat, Mistagogi.

Tahap terakhir merupakan masa pendalaman iman setelah menerima baptis. Gereja mendampingi umat baru agar semakin memahami misteri iman yang telah diterimanya serta mampu bertumbuh menjadi saksi Kristus di tengah keluarga, masyarakat, dan Gereja.

Menurut RP. Vitalis Nggeal, CP, proses ini menunjukkan bahwa Gereja sangat memperhatikan pembinaan iman umat sehingga baptis bukan hanya menjadi peristiwa seremonial, melainkan menjadi awal kehidupan baru bersama Kristus.

Berpusat pada Tritunggal Mahakudus

Dalam pembekalan tersebut, materi yang disampaikan berpusat pada pengenalan Tritunggal Mahakudus, yaitu Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus.

RP. Vitalis Nggeal, CP menjelaskan bahwa seluruh kehidupan iman Katolik berakar pada iman akan Allah Tritunggal. Oleh karena itu, setiap calon baptis perlu memahami bahwa mereka dibaptis dalam nama Tritunggal Mahakudus sebagaimana diperintahkan Yesus Kristus kepada para rasul.

Selain itu, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai Sakramen Inisiasi, yaitu Sakramen Baptis, Sakramen Ekaristi, dan Sakramen Krisma.

Ketiga sakramen tersebut saling berkaitan sebagai dasar kehidupan Kristiani. Baptis membuka pintu kehidupan baru, Krisma menguatkan rahmat Roh Kudus, sedangkan Ekaristi menjadi santapan rohani yang mempersatukan umat dengan Kristus.

RP. Vitalis Nggeal, CP juga mengajak para calon baptis memahami makna janji baptis, yakni kesediaan meninggalkan dosa, menolak segala bentuk kejahatan, serta berkomitmen hidup sesuai Injil.

Makna Air Baptis

Salah satu materi yang mendapat perhatian khusus adalah tata cara penerimaan Sakramen Baptis.

RP. Vitalis Nggeal, CP menjelaskan bahwa dalam Gereja Katolik, saat baptis dilaksanakan, imam menuangkan air sebanyak tiga kali ke atas kepala calon baptis sambil mengucapkan rumusan baptis:

"Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus."

Tiga kali pencurahan air tersebut melambangkan iman kepada Tritunggal Mahakudus.

Air baptis sendiri melambangkan penyucian dosa, kehidupan baru, serta kelahiran kembali sebagai anak-anak Allah.

Melalui baptis, seseorang meninggalkan kehidupan lama dan memulai hidup baru bersama Kristus.

Pembekalan Baptis Bayi

Dalam kesempatan tersebut, RP. Vitalis Nggeal, CP juga menjelaskan bahwa Gereja memiliki pola pembinaan yang berbeda antara baptis bayi dan baptis orang dewasa.

Untuk baptis bayi atau anak di bawah usia tujuh tahun, pembekalan lebih banyak diberikan kepada orang tua serta wali baptis.

Materi yang disampaikan meliputi pemahaman mengenai makna baptis bayi, tujuan baptis sejak usia dini, serta tanggung jawab orang tua sebagai pendidik pertama dalam kehidupan iman anak.

Orang tua diingatkan bahwa baptis bukan akhir dari tanggung jawab mereka, tetapi justru awal untuk mendidik anak agar mengenal Kristus melalui doa, kehidupan keluarga, dan teladan sehari-hari.

Selain itu, wali baptis juga memiliki peran penting sebagai pendamping rohani yang membantu perkembangan iman anak apabila suatu saat dibutuhkan.

RP. Vitalis Nggeal, CP juga menjelaskan pentingnya memilih nama baptis yang diambil dari nama santo atau santa pelindung sebagai teladan kehidupan Kristiani.

Pembinaan Bagi Baptis Dewasa

Sementara itu, bagi calon baptis dewasa atau katekumen, proses pembinaan berlangsung jauh lebih panjang.

Di Paroki Santo Agustinus, Keuskupan Ketapang, pembinaan dapat berlangsung sekitar enam hingga dua belas bulan, menyesuaikan kebijakan pastoral paroki serta kesiapan masing-masing calon.

Selama masa tersebut, peserta menerima berbagai materi penting, mulai dari pengenalan Kitab Suci, sejarah keselamatan, hingga ajaran Gereja Katolik.

Mereka juga belajar doa-doa dasar seperti Tanda Salib, Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan, serta Syahadat Para Rasul (Credo) sebagai dasar kehidupan doa umat Katolik.

Selain itu, para peserta mempelajari ketujuh sakramen Gereja, makna liturgi, kehidupan moral Kristiani, ajaran kasih, serta tanggung jawab sebagai murid Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

RP. Vitalis Nggeal, CP menekankan bahwa menjadi Katolik berarti siap hidup dalam semangat kasih, pengampunan, pelayanan, dan kesaksian iman di tengah masyarakat.

Menjadi Murid Kristus

Selama pembekalan berlangsung, suasana terlihat penuh perhatian. Ketiga calon baptis mengikuti setiap penjelasan dengan antusias sambil mengajukan berbagai pertanyaan mengenai kehidupan iman Katolik.

Melalui dialog tersebut, mereka semakin memahami bahwa baptis merupakan panggilan untuk hidup sebagai murid Kristus, bukan sekadar memenuhi persyaratan administratif.

RP. Vitalis Nggeal, CP mengajak mereka agar terus membuka hati terhadap karya Roh Kudus sehingga pertumbuhan iman tidak berhenti setelah menerima baptis.

Beliau juga mengingatkan pentingnya mengikuti Perayaan Ekaristi setiap hari Minggu, membangun kebiasaan berdoa, membaca Kitab Suci, serta aktif dalam kehidupan menggereja.

Membangun Gereja yang Bertumbuh

Kegiatan pembekalan calon baptis ini menjadi salah satu bentuk nyata perhatian pastoral Paroki Santo Agustinus, Keuskupan Ketapang, dalam membangun umat yang memiliki dasar iman yang kuat.

Pembinaan yang dilakukan secara teratur menunjukkan komitmen Gereja untuk mendampingi setiap pribadi yang ingin mengenal Kristus dan menjadi bagian dari Gereja Katolik.

Dengan pembinaan yang menyeluruh, diharapkan para calon baptis tidak hanya memahami ajaran Gereja secara intelektual, tetapi juga mampu menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari sebagai saksi Kristus di tengah keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakat.

Melalui pembekalan ini, Gereja berharap setiap calon baptis dapat memasuki kehidupan baru sebagai anak-anak Allah dengan penuh kesadaran, sukacita, dan tanggung jawab. Mereka dipanggil untuk terus bertumbuh dalam iman, pengharapan, dan kasih, serta menjadi pribadi yang menghadirkan damai dan terang Kristus di mana pun mereka berada.

Kegiatan yang berlangsung hingga selesai tersebut menjadi penegasan bahwa pembinaan iman merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari misi Gereja. Paroki Santo Agustinus, Keuskupan Ketapang, terus berupaya menghadirkan pelayanan pastoral yang berkualitas sehingga setiap umat semakin mengenal, mencintai, dan mengikuti Yesus Kristus dengan setia dalam seluruh perjalanan hidupnya.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 19 Juli 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar