Ketapang, 26 Juli 2026.Wanita
Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang Paroki Santo Agustinus Paya Kumang,
Keuskupan Ketapang, menggelar perayaan syukur Hari Ulang Tahun (HUT) ke-102
WKRI yang dirangkaikan dengan Peringatan Pelindung Santa Anna dan ramah tamah
pada Minggu (26/7/2026). Kegiatan yang berlangsung di Gedung Paroki Santo
Agustinus Paya Kumang tersebut mengusung tema "Melanjutkan Langkah
Harapan, Merawat Rahim Kehidupan demi Mewujudkan Perempuan Berdaya dan Anak
Terlindungi." Tema itu menegaskan komitmen organisasi untuk terus
menghadirkan pelayanan yang nyata bagi Gereja, keluarga, serta masyarakat.
Perayaan ini memang baru dapat diselenggarakan pada 26 Juli 2026, meskipun HUT
ke-102 WKRI secara nasional diperingati pada 26 Juni 2026.
Perayaan dihadiri Pastor Moderator WKRI RP. Vitalis Nggeal, C.P.,
Ketua Dewan Pengurus Cabang WKRI Ibu Fransiska Mincu, Ketua Ranting
Santa Monica Ibu Petro Paula Henny, jajaran Dewan Pastoral Paroki, para
suster, anggota WKRI, serta umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang. Hadir pula
R.P. Paul Cherukoduth, C.P., Konsultor Jenderal Kongregasi Pasionis
wilayah Asia Pasifik, R.P. Petrus Yuniarto, C.P., dan RD. Gabriel
Bala, yang turut memeriahkan perayaan syukur tersebut.
Ketua Ranting Santa Monica WKRI Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Ibu Petro Paula Henny, mengajak seluruh anggota mensyukuri perjalanan panjang organisasi yang telah mencapai usia 102 tahun. Menurutnya, usia tersebut menjadi bukti kesetiaan para perempuan Katolik dalam menghidupi panggilan sebagai pelayan Gereja sekaligus pelayan masyarakat.
"Puji syukur kita dapat menyaksikan WKRI melangkah pada usia 102
tahun. Wanita Katolik terus menabur kebaikan melalui semangat pelayanan yang
berlandaskan iman," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tema HUT tahun ini mengajak seluruh anggota untuk
menjaga martabat perempuan, melindungi anak-anak, dan terus menjadi pembawa
harapan di tengah keluarga maupun masyarakat. Momentum perayaan bukan sekadar
mengenang perjalanan organisasi, melainkan juga memperbarui komitmen pelayanan
sesuai perkembangan zaman.
Ketua Dewan Pengurus Cabang WKRI, Ibu Fransiska Mincu, mengatakan
kekuatan organisasi bertumpu pada kerja keras yang dilandasi kebersamaan dan
keikhlasan. Menurutnya, seluruh pengurus dan anggota memiliki tanggung jawab
bersama untuk menjaga semangat pelayanan yang telah diwariskan para pendiri.
Ia menjelaskan bahwa WKRI terus mengembangkan berbagai program sosial
yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Salah satunya adalah pemberdayaan keluarga
melalui pembagian bibit cabai dan terong kepada lingkungan-lingkungan sebagai
upaya meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga. Selain itu, organisasi terus
mendorong aksi nyata dalam perlindungan perempuan, anak-anak, dan kelompok
rentan.
"Semangat kasih harus terus diwujudkan melalui tindakan nyata
sehingga anggota menjadi terang di tengah keluarga dan masyarakat,"
katanya.
Pastor Moderator WKRI, RP. Vitalis Nggeal, C.P., dalam
sambutannya menegaskan bahwa keberadaan WKRI memiliki peranan yang sangat
penting dalam kehidupan Gereja Katolik. Menurutnya, organisasi yang menyandang
nama Katolik berada dalam pendampingan resmi Gereja sehingga seluruh karya
pelayanannya selalu berjalan searah dengan misi evangelisasi.
Ia mengingatkan bahwa sejak masa Gereja Perdana, kaum perempuan telah
mengambil bagian penting dalam karya keselamatan. Maria Magdalena menjadi saksi
pertama kebangkitan Kristus dan diutus mewartakan kabar sukacita kepada para
rasul. Banyak perempuan lain seperti Maria, Marta, dan para pelayan Gereja
Perdana juga menunjukkan kesetiaan dalam melayani Yesus serta Gereja.
Karena itu, perempuan Katolik masa kini dipanggil melanjutkan teladan
tersebut melalui pelayanan di lingkungan, keluarga, maupun organisasi. Ia
menyampaikan apresiasi kepada anggota WKRI yang selama ini terlibat aktif
sebagai ketua lingkungan, prodiakon, pendamping SEKAMI, pendamping katekumen,
hingga berbagai bidang pelayanan lainnya di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.
"Saya sangat bersyukur karena tidak ada ruang pelayanan yang kosong
di paroki ini. Banyak bidang pelayanan dihidupi oleh ibu-ibu WKRI. Teruslah
hadir dengan ide-ide baru demi perkembangan Gereja," ungkap RP. Vitalis
Nggeal, C.P.
Dalam kesempatan tersebut, peserta juga mendengarkan sejarah singkat
Wanita Katolik Republik Indonesia yang dibacakan oleh Ibu Kresensia Nini.
Sejarah itu mengingatkan kembali bahwa WKRI berdiri pada 26 Juni 1924
atas prakarsa Raden Ayu Maria Soelastri Soejadi Darmasepoetra Sasraningrat,
seorang tokoh perempuan Katolik dari Yogyakarta yang memiliki kepedulian besar
terhadap pendidikan, kesejahteraan, dan pemberdayaan perempuan Indonesia.
Organisasi yang semula bernama Perkumpulan Ibu-Ibu Katolik itu
lahir dari semangat cinta kasih yang diwujudkan dalam pelayanan kepada
perempuan Katolik pribumi. Dukungan Pastor Henri van Driessche, S.J. serta para
tokoh Gereja membuat organisasi berkembang pesat ke berbagai daerah. Sejak
awal, WKRI memusatkan perhatian pada pendidikan perempuan melalui kegiatan
membaca, menulis, pembinaan iman, dan pelayanan sosial.
Perjalanan panjang organisasi kemudian melewati berbagai perubahan nama,
mulai dari Poesara Wanita Katolik, Pangreh Ageng Wanita Katolik,
hingga akhirnya menjadi Wanita Katolik Republik Indonesia. Setelah
Indonesia merdeka, organisasi terus berkembang menjadi organisasi kerasulan
awam yang aktif memperjuangkan martabat perempuan, keluarga, pendidikan,
kesehatan, pemberdayaan ekonomi, serta berbagai pelayanan sosial lainnya.
WKRI juga berperan dalam memperjuangkan Undang-Undang Perkawinan, mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara, serta menjalin kerja sama dengan organisasi perempuan Katolik dunia melalui World Union of Catholic Women's Organisations (WUCWO). Saat ini, WKRI telah berkembang di hampir seluruh keuskupan di Indonesia dengan ratusan cabang yang melayani hingga tingkat paroki dan komunitas basis.
Melalui usia yang telah melampaui satu abad, WKRI terus memperlihatkan
kesetiaannya sebagai organisasi kerasulan awam yang mengintegrasikan kehidupan
iman dengan pelayanan sosial. Semangat itu pula yang dihidupi oleh WKRI Cabang
Paroki Santo Agustinus Paya Kumang. Berbagai kegiatan pendampingan keluarga,
pelayanan liturgi, karya sosial, pembinaan lingkungan, hingga pemberdayaan
ekonomi terus dilaksanakan sebagai wujud nyata kehadiran Gereja di tengah
masyarakat.
Ketua Dewan Pengurus Cabang WKRI, Ibu Fransiska Mincu, menegaskan
bahwa peringatan HUT ke-102 menjadi kesempatan bagi seluruh anggota untuk
memperbarui semangat pengabdian. Menurutnya, tantangan zaman yang semakin
kompleks menuntut perempuan Katolik untuk tetap berakar pada iman sekaligus
mampu menjawab berbagai persoalan yang dihadapi keluarga dan masyarakat.
Ia mengajak seluruh anggota menjaga semangat kebersamaan, saling
mendukung dalam pelayanan, dan terus menghadirkan kasih Kristus melalui
tindakan nyata. Kebersamaan yang dibangun selama ini, katanya, menjadi modal
penting untuk mengembangkan berbagai karya pelayanan di lingkungan paroki.
Selain memperkuat kehidupan rohani, WKRI juga terus mengembangkan
program pemberdayaan masyarakat. Salah satu kegiatan yang telah dilakukan ialah
pembagian bibit cabai dan terong kepada ketua-ketua lingkungan. Program
sederhana tersebut diharapkan dapat membantu keluarga memanfaatkan lahan
pekarangan sekaligus meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga. Bagi WKRI,
pelayanan tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan di dalam gereja, tetapi juga
melalui karya yang memberikan manfaat langsung bagi kehidupan umat.
Dalam refleksinya, Pastor Moderator WKRI, RP. Vitalis Nggeal, C.P.,
mengungkapkan rasa syukur atas besarnya keterlibatan kaum perempuan dalam
kehidupan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang. Menurutnya, banyak pelayanan
penting di paroki dijalankan oleh anggota WKRI, mulai dari pendampingan iman
anak-anak, pembinaan calon baptis, pelayanan liturgi, hingga kepemimpinan di
lingkungan.
Ia menilai semangat melayani yang dimiliki anggota WKRI menjadi kekuatan
besar bagi perkembangan Gereja. Kehadiran para perempuan Katolik yang rela
meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran merupakan bentuk kesaksian iman yang
nyata.
RP. Vitalis juga mengajak seluruh anggota untuk tidak berhenti
berinovasi. Ia menyatakan selalu terbuka terhadap berbagai gagasan baru yang
dapat membantu pengembangan pelayanan paroki. Menurutnya, Gereja akan semakin
hidup apabila umat berani mengambil bagian secara aktif sesuai talenta yang
dimiliki.
Mengakhiri sambutannya, ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh
anggota WKRI yang selama ini telah mempersembahkan diri bagi Gereja. Pelayanan
yang dilakukan dengan rendah hati, katanya, menjadi wujud nyata kasih Kristus
yang terus dihadirkan di tengah umat.
Perayaan syukur tersebut juga menjadi kesempatan mempererat persaudaraan
di antara anggota WKRI, umat, para imam, dan tamu undangan. Kehadiran R.P.
Paul Cherukoduth, C.P., Konsultor Jenderal Kongregasi Pasionis untuk
kawasan Asia Pasifik, memberikan sukacita tersendiri bagi umat. Turut hadir
pula R.P. Petrus Yuniarto, C.P., serta RD. Gabriel Bala, yang
bersama-sama memberikan dukungan terhadap karya pelayanan perempuan Katolik di
Keuskupan Ketapang.
Kebersamaan yang terjalin selama perayaan mencerminkan semangat sinodal
yang terus dikembangkan dalam kehidupan Gereja. Para anggota WKRI tidak hanya
merayakan hari jadi organisasi, tetapi juga memperkokoh persaudaraan lintas
generasi serta mempererat hubungan dengan seluruh unsur pelayanan di paroki.
Selaras dengan tema "Melanjutkan Langkah Harapan, Merawat Rahim
Kehidupan demi Mewujudkan Perempuan Berdaya dan Anak Terlindungi,"
seluruh peserta diajak menjadikan keluarga sebagai tempat pertama menumbuhkan
iman, kasih, dan penghargaan terhadap martabat manusia. Perempuan dipanggil
menjadi penjaga kehidupan, pendidik iman dalam keluarga, sekaligus pelaku
perubahan yang membawa damai di tengah masyarakat.
Pelindung organisasi, Santa Anna, juga menjadi teladan penting
dalam perjalanan WKRI. Sebagai ibu Bunda Maria, Santa Anna dikenang karena
kesetiaannya mendidik keluarga dalam iman serta membangun kehidupan yang
berakar pada kehendak Allah. Keteladanan itu terus menginspirasi anggota WKRI
untuk menghidupi panggilan sebagai istri, ibu, pendamping keluarga, sekaligus
pelayan Gereja.
Setelah seluruh rangkaian acara selesai, kegiatan dilanjutkan dengan
makan bersama dan ramah tamah. Suasana penuh keakraban tampak mewarnai
perjumpaan tersebut. Para anggota saling berbagi pengalaman pelayanan,
mempererat persaudaraan, dan membangun semangat baru untuk melanjutkan karya
kerasulan di lingkungan masing-masing.
Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama sebagai ungkapan syukur
atas terselenggaranya peringatan HUT ke-102 WKRI Cabang Paroki Santo Agustinus
Paya Kumang. Momentum tersebut menjadi penanda bahwa organisasi yang berdiri
pada 26 Juni 1924 itu tetap setia melanjutkan warisan para pendirinya,
yakni menghadirkan perempuan Katolik yang beriman, tangguh, peduli terhadap
sesama, serta berani mengambil bagian dalam membangun Gereja, bangsa, dan
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Perayaan syukur ini sekaligus menegaskan bahwa usia 102 tahun bukan sekadar angka perjalanan organisasi, melainkan bukti kesetiaan perempuan Katolik Indonesia dalam menghidupi semangat Injil melalui pelayanan tanpa pamrih. Dengan berpijak pada nilai solidaritas, subsidiaritas, kasih, dan pengharapan, WKRI terus melangkah menjadi mitra Gereja dalam membangun keluarga yang kuat, melindungi perempuan dan anak, serta menghadirkan terang Kristus di tengah masyarakat yang terus berkembang.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 26 Juli 2026
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
0 comments:
Posting Komentar