Ketapang, 29 Juli 2026. Kesadaran umat untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin sebelum mengikuti Perayaan Ekaristi terus menjadi perhatian dalam karya pembinaan iman di lingkungan Gereja Katolik. Melalui bahan katekese yang disusun oleh Bapak Hendrikus Hendri, S.S., Ketua Bidang Liturgi dan Pewartaan Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, umat diajak memahami bahwa Ekaristi bukan sekadar rangkaian ibadat mingguan, melainkan sumber sekaligus puncak kehidupan Kristiani yang harus disambut dengan sikap hormat, doa, dan partisipasi penuh.
Dalam penjelasannya, Bapak Hendrikus Hendri, S.S. menegaskan bahwa persiapan sebelum Perayaan Ekaristi memiliki makna rohani yang sangat penting. Setiap orang beriman dipanggil menghadirkan diri secara utuh di hadapan Allah. Persiapan itu tidak hanya tampak melalui penampilan lahiriah, tetapi juga melalui kesiapan hati untuk berjumpa dengan Kristus yang hadir secara nyata dalam Sakramen Mahakudus.
Ia mengutip ajaran Katekismus Gereja Katolik (KGK) Nomor 2014 yang menyatakan bahwa Ekaristi merupakan sumber dan puncak spiritualitas Kristiani. Pertumbuhan hidup rohani yang semakin erat dengan Kristus mencapai kepenuhannya dalam perayaan sakramen tersebut. Karena itu, setiap umat diajak mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh agar rahmat yang dicurahkan Allah dapat diterima secara lebih mendalam.
Menurutnya, sikap pertama yang perlu diperhatikan ialah mengenakan pakaian yang pantas. Berbusana sopan, rapi, dan bersih merupakan bentuk penghormatan kepada Tuhan sekaligus ungkapan penghargaan kepada sesama umat yang hadir dalam perayaan liturgi. Penampilan lahir memang bukan ukuran utama iman, namun menjadi simbol kesungguhan seseorang ketika datang menghadap Allah.
"Pakaian yang pantas menunjukkan bahwa kita datang untuk berjumpa dengan Tuhan. Sikap hormat itu tampak dari cara kita mempersiapkan diri sejak meninggalkan rumah," ujar Bapak Hendrikus Hendri, S.S.
Ia menjelaskan bahwa gereja merupakan tempat kudus yang dipersembahkan bagi ibadat. Oleh sebab itu, setiap umat hendaknya menjaga kesopanan dalam berpakaian agar suasana doa tetap terpelihara. Kesederhanaan dan kerapian lebih penting daripada kemewahan.
Hal kedua yang ditekankan ialah datang lebih awal sebelum Perayaan Ekaristi dimulai. Ia menganjurkan agar umat hadir sekitar 10 hingga 15 menit sebelumnya. Waktu tersebut dapat digunakan untuk menenangkan pikiran, berdoa secara pribadi, membaca bacaan Kitab Suci, atau memohon rahmat agar mampu mengikuti seluruh rangkaian liturgi dengan hati yang terbuka.
Kebiasaan datang lebih awal juga membantu umat menghindari gangguan ketika perayaan telah berlangsung. Suasana gereja yang tenang memberi kesempatan bagi setiap orang mempersiapkan batin sebelum memasuki ibadat bersama.
"Keheningan sebelum misa merupakan saat yang berharga. Pada waktu itulah kita menyerahkan segala beban hidup kepada Tuhan dan memohon kekuatan agar mampu mengikuti Ekaristi dengan penuh perhatian," katanya.
Pembinaan berikutnya menyangkut kebiasaan mengambil air suci ketika memasuki gereja. Menurut Bapak Hendrikus Hendri, S.S., tindakan sederhana tersebut memiliki makna teologis yang mendalam. Saat membuat tanda salib menggunakan air suci, umat diingatkan kembali pada Sakramen Baptis yang telah menjadikan mereka anak-anak Allah.
Ia menjelaskan bahwa melalui pembaptisan, setiap orang beriman dikuburkan bersama Kristus dan dibangkitkan bersama-Nya menuju kehidupan baru dalam Roh Kudus. Karena itu, penggunaan air suci bukan sekadar tradisi, melainkan pengingat akan identitas sebagai murid Kristus.
Sesudah memasuki ruang ibadat, umat dianjurkan berlutut atau menundukkan kepala sejenak sebelum duduk di bangku gereja. Sikap tersebut merupakan penghormatan kepada Yesus Kristus yang hadir secara nyata dalam Sakramen Mahakudus yang disimpan di Tabernakel.
Penghormatan itu menjadi ungkapan iman akan kehadiran Kristus yang hidup di tengah Gereja. Melalui gerakan sederhana tersebut, umat menyatakan kasih, syukur, dan penyembahan kepada Tuhan sebelum mengikuti seluruh perayaan liturgi.
Bapak Hendrikus Hendri, S.S. juga mengingatkan pentingnya menjaga keheningan di dalam gereja. Setelah mengambil tempat duduk, umat hendaknya tidak berbincang mengenai urusan sehari-hari. Waktu menjelang perayaan lebih baik digunakan untuk berdoa, melakukan pemeriksaan batin, serta memusatkan perhatian kepada Allah.
Menurutnya, keheningan merupakan bagian dari doa. Dalam suasana hening, hati menjadi lebih mudah mendengarkan sabda Tuhan. Pikiran yang semula dipenuhi berbagai kesibukan perlahan diarahkan kepada Kristus sehingga umat dapat memasuki misteri Ekaristi dengan lebih mendalam.
Selain persiapan sebelum perayaan, partisipasi selama liturgi juga mendapat perhatian khusus. Ia mengajak seluruh umat mengikuti setiap bagian Ekaristi secara sadar, aktif, dan penuh penghayatan.
Partisipasi aktif bukan hanya berarti menjawab doa atau menyanyikan lagu liturgi. Lebih dari itu, umat dipanggil menyatukan seluruh hidup, suka maupun duka, bersama kurban Kristus yang dipersembahkan di altar.
"Kehadiran fisik saja belum cukup. Hati juga harus hadir. Seluruh perhatian diarahkan kepada Tuhan melalui doa, sabda, dan perayaan kurban Kristus," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa Gereja menghendaki seluruh umat beriman terlibat secara utuh sejak ritus pembuka hingga penutup. Kesadaran itu membantu setiap orang mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus yang memberikan diri-Nya sebagai santapan keselamatan.
Pembinaan berikutnya berkaitan dengan sikap sesudah Perayaan Ekaristi selesai. Banyak umat segera meninggalkan gereja ketika lagu penutup berakhir. Menurut Bapak Hendrikus Hendri, S.S., kebiasaan tersebut sebaiknya diubah.
Ia mengajak umat meluangkan waktu beberapa saat untuk tetap tinggal di dalam gereja. Kesempatan itu dapat dipakai mengucapkan syukur atas rahmat yang telah diterima melalui Sabda Allah dan Komuni Kudus.
"Sesudah menerima Kristus, jangan terburu-buru pulang. Berdoalah sejenak sebagai ungkapan syukur karena Tuhan berkenan hadir dalam hidup kita," katanya.
Doa penutup menjadi kesempatan memperbarui komitmen sebagai murid Kristus yang diutus membawa damai ke tengah keluarga, lingkungan kerja, sekolah, dan masyarakat. Dengan demikian, buah Ekaristi tidak berhenti di dalam gereja, tetapi diwujudkan melalui tindakan kasih dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menjelaskan bahwa Perayaan Ekaristi bukan akhir dari kehidupan iman. Sebaliknya, liturgi menjadi awal perutusan untuk menghadirkan nilai-nilai Injil di tengah dunia. Setiap umat dipanggil menjadi saksi kasih Allah melalui perkataan, sikap, dan pelayanan kepada sesama.
Bapak Hendrikus Hendri, S.S. berharap pembinaan liturgi seperti ini semakin membantu umat memahami makna setiap gerakan yang dilakukan di gereja. Banyak kebiasaan yang selama ini dijalankan sebenarnya memiliki dasar teologis yang kaya. Ketika makna tersebut dipahami, partisipasi dalam liturgi akan menjadi lebih hidup.
Ia juga mengajak keluarga Katolik membiasakan anak-anak mempersiapkan diri sejak dari rumah. Orang tua memiliki peran penting dalam menanamkan sikap hormat kepada Ekaristi melalui teladan nyata, mulai dari memilih pakaian yang pantas, berangkat lebih awal, menjaga ketenangan, hingga berdoa bersama setelah pulang dari gereja.
Pembiasaan sejak usia dini diyakini akan membentuk karakter iman yang kuat. Anak-anak belajar bahwa gereja adalah tempat perjumpaan dengan Allah sehingga setiap kunjungan ke rumah Tuhan perlu dilakukan dengan penuh sukacita dan penghormatan.
Menurutnya, pembinaan liturgi hendaknya berlangsung terus-menerus melalui pendalaman iman, katekese, homili, serta berbagai media komunikasi paroki. Dengan cara itu, umat tidak hanya mengetahui tata cara perayaan, tetapi juga memahami alasan spiritual di balik setiap tindakan liturgis.
Ia menegaskan bahwa seluruh sikap tersebut bermuara pada satu tujuan, yakni membangun relasi yang semakin erat dengan Kristus. Persiapan lahiriah, keheningan batin, penghormatan kepada Sakramen Mahakudus, partisipasi aktif, dan doa syukur setelah perayaan merupakan satu kesatuan yang membantu umat mengalami misteri keselamatan secara lebih mendalam.
Melalui ajakan tersebut, Bapak Hendrikus Hendri, S.S., Ketua Bidang Liturgi dan Pewartaan Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, berharap seluruh umat semakin menyadari bahwa setiap Perayaan Ekaristi adalah anugerah istimewa. Dengan mempersiapkan diri secara sungguh-sungguh sebelum memasuki gereja, mengikuti seluruh liturgi dengan penuh iman, serta mengakhiri perayaan melalui doa syukur, umat diharapkan mampu membawa kasih Kristus ke dalam kehidupan sehari-hari sebagai saksi Injil yang menghadirkan damai, harapan, dan semangat pelayanan di tengah masyarakat.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 29 Juli 2026
.png)

0 comments:
Posting Komentar