Ketapang, 26 Juli 2026.Sukacita menyelimuti umat Paroki Santo
Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, pada Minggu (26/7/2026). Seusai
Perayaan Ekaristi Hari Minggu Biasa XVII yang sekaligus memperingati Hari
Orang Tua, Kakek, dan Nenek Sedunia, tiga anak menerima Sakramen Baptis
sebagai pintu masuk kehidupan Kristiani. Ibadat dipimpin oleh R.P. Vitalis
Nggeal, C.P., sementara Sakramen Baptis dilayankan oleh R.P. Paul
Cherukoduth, C.P., imam Pasionis yang kini mengemban tugas sebagai Konsultor
Jenderal Kongregasi Pasionis di Roma. Peristiwa ini memiliki makna istimewa
karena berlangsung bertepatan dengan peringatan 80 tahun dimulainya karya
misi Kongregasi Pasionis di Tanah Kayong, Ketapang, sejak kedatangan para
misionaris perintis pada tahun 1946.
Perayaan berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh rasa syukur. Setelah
Perayaan Ekaristi selesai sekitar pukul 08.40 WIB, umat tetap memenuhi gereja
untuk mengikuti Ibadat Sakramen Baptis. Orang tua, wali baptis, keluarga besar,
serta umat paroki menyaksikan dengan penuh sukacita saat ketiga anak menerima
air baptis sebagai tanda kelahiran baru dalam Kristus.
Ketiga anak yang menerima Sakramen Baptis ialah Agustinus Gracio Ivander
Augustin, Alponsus Agafitus Anwar, dan Valencia Siska Andriyani.
Ketiganya secara resmi diterima menjadi anggota Gereja Katolik melalui sakramen
yang menjadi dasar seluruh kehidupan Kristiani.
Dalam ibadat tersebut, Ibu Anastasia Ratna bertugas sebagai lektor,
sedangkan doa umat dibawakan oleh Ibu Idha Srilestari. Seluruh rangkaian
liturgi berlangsung tertib, sederhana, dan penuh makna. Kehadiran keluarga yang
mendampingi anak-anak mereka memperlihatkan komitmen untuk menumbuhkan iman
sejak usia dini.
Bagi umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, baptisan kali ini bukan sekadar penerimaan tiga anggota baru Gereja. Perayaan tersebut memiliki nilai historis yang mendalam karena Sakramen Baptis dilayankan oleh R.P. Paul Cherukoduth, C.P., seorang imam yang saat ini menjadi bagian dari kepemimpinan tertinggi Kongregasi Pasionis di tingkat dunia. Kehadiran beliau di tengah umat menjadi peristiwa langka sekaligus membangkitkan rasa syukur atas perjalanan panjang karya Pasionis di Kabupaten Ketapang.
R.P. Paul Cherukoduth, C.P. berasal dari Vice Province of St. Thomas
the Apostle (THOM), India. Ia lahir pada 26 Juni 1965, mengikrarkan
kaul religius pada 18 Mei 1986, dan ditahbiskan sebagai imam pada 24
April 1993. Selama puluhan tahun menjalani kehidupan religius, ia dipercaya
mengemban berbagai tugas pelayanan sebelum akhirnya dipilih mewakili kawasan
Asia Pasifik dalam kepemimpinan Kongregasi Pasionis.
Kepercayaan tersebut diberikan dalam Kapitel Jenderal Kongregasi
Pasionis ke-48 yang berlangsung pada Oktober 2024. Dalam sidang yang
mempertemukan para wakil Pasionis dari berbagai negara itu, R.P. Paul
Cherukoduth, C.P. dipilih sebagai General Consultor untuk wilayah PASPAC
(Asia Pacific). Jabatan tersebut menempatkannya sebagai salah satu
penasihat utama Superior Jenderal dalam menentukan arah pelayanan Kongregasi
Pasionis di seluruh dunia.
Kini beliau berkarya di Kuria Jenderal Kongregasi Pasionis yang
berkedudukan di Roma, Italia. Bersama Superior Jenderal dan para Konsultor
Jenderal lainnya, ia mendampingi penyelenggaraan karya misi, pembinaan
religius, pengembangan pelayanan pastoral, serta koordinasi berbagai provinsi
dan vice province Pasionis yang tersebar di banyak negara.
Kehadiran imam yang memiliki tanggung jawab internasional tersebut di
Paroki Santo Agustinus Paya Kumang memberikan kesan mendalam bagi umat. Tidak
sedikit umat yang merasa bangga karena dapat mengikuti ibadat yang dilayani
langsung oleh salah seorang pemimpin Kongregasi Pasionis dunia. Momentum ini
juga menjadi pengingat bahwa Gereja lokal di Ketapang tetap memiliki hubungan
erat dengan keluarga besar Pasionis di berbagai belahan dunia.
Lebih dari itu, kehadiran beliau mengandung makna simbolis yang sangat
kuat. Delapan puluh tahun silam, tepatnya pada 26 Juli 1946, tiga imam
Pasionis asal Belanda menginjakkan kaki di Kalimantan Barat untuk memulai karya
misi di Tanah Kayong. Kini, delapan dekade kemudian, seorang pemimpin Pasionis
dari India hadir memberikan Sakramen Baptis kepada generasi baru umat Katolik
di tempat yang sama. Peristiwa tersebut seolah menjadi jembatan yang
menghubungkan sejarah masa lalu dengan kehidupan Gereja masa kini.
Jika pada tahun 1946 para misionaris datang dengan kapal setelah menempuh
perjalanan panjang dari Belanda, maka pada tahun 2026 karya yang mereka rintis
telah berkembang menjadi Gereja yang hidup, dengan paroki-paroki yang terus
bertumbuh, ribuan umat yang aktif, sekolah-sekolah Katolik, serta berbagai
pelayanan pastoral yang menjangkau pelosok Kabupaten Ketapang. Semua
perkembangan itu berakar pada benih iman yang ditanam oleh para misionaris
pertama.
Dalam konteks tersebut, pembaptisan tiga anak pada hari itu bukan hanya
peristiwa keluarga, melainkan juga bagian dari sejarah panjang Gereja Ketapang.
Setiap baptisan merupakan kelanjutan dari misi yang dimulai delapan puluh tahun
silam. Air baptis yang dituangkan kepada ketiga anak tersebut menjadi lambang
bahwa Gereja terus melahirkan generasi baru yang akan meneruskan iman kepada
masa depan.
Makna tersebut semakin terasa karena perayaan berlangsung pada Hari Orang
Tua, Kakek, dan Nenek Sedunia. Gereja mengingatkan bahwa iman tidak diwariskan
hanya melalui pengajaran di sekolah atau kegiatan paroki, tetapi pertama-tama
melalui keluarga. Orang tua menjadi pendidik iman pertama bagi anak-anaknya,
sedangkan kakek dan nenek menjadi penjaga tradisi doa yang diwariskan dari
generasi ke generasi.
Oleh sebab itu, kehadiran para orang tua dan wali baptis dalam perayaan
tersebut bukan sekadar memenuhi tata liturgi. Mereka menerima tanggung jawab
untuk membimbing ketiga anak agar bertumbuh sebagai pribadi yang mengenal
Kristus, mencintai Gereja, dan menghidupi nilai-nilai Injil dalam kehidupan
sehari-hari.
Suasana penuh syukur juga dirasakan oleh para pelayan liturgi dan umat yang
hadir. Bagi mereka, baptisan kali ini bukan hanya mengenang masa lalu,
melainkan menegaskan bahwa karya pewartaan Injil yang dimulai oleh para
misionaris Pasionis tetap berlangsung hingga sekarang. Dari tiga imam Belanda
yang datang pada tahun 1946, kini lahirlah generasi baru umat Katolik yang akan
melanjutkan perjalanan Gereja di Tanah Kayong.
Homili Mengajak Menghidupkan Rahmat Baptisan
Perayaan Sakramen Baptis di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang tidak hanya
menjadi kesempatan untuk menerima anggota baru dalam Gereja Katolik, tetapi
juga menjadi momentum pembaruan iman bagi seluruh umat yang hadir. Melalui
homilinya, R.P. Vitalis Nggeal, C.P. mengajak setiap orang kembali
memahami makna mendalam Sakramen Baptis sebagai awal perjalanan hidup bersama
Kristus.
Beliau membuka homili dengan mengajak umat menyadari kenyataan yang menjadi
dasar ajaran Gereja.
"Kita semua sepakat bahwa kita adalah manusia
berdosa," ungkapnya
di hadapan umat.
Menurut beliau, kesadaran akan kelemahan manusia bukanlah alasan untuk
putus asa. Sebaliknya, kesadaran itu menjadi pintu bagi setiap orang untuk
menerima rahmat keselamatan yang diberikan Allah melalui Yesus Kristus. Karena
kasih-Nya, Allah menyediakan jalan agar manusia diperdamaikan kembali
dengan-Nya melalui Sakramen Baptis. Dengan demikian, baptisan bukan hanya
sebuah tradisi keluarga atau syarat administratif menjadi anggota Gereja,
melainkan karya penyelamatan Allah yang mengubah kehidupan manusia.
Beliau menjelaskan bahwa Yesus sendiri menegaskan pentingnya kelahiran
baru. Seseorang tidak dapat memasuki Kerajaan Allah tanpa dilahirkan kembali
dari air dan Roh. Oleh sebab itu, Gereja sejak masa para rasul selalu memandang
Sakramen Baptis sebagai dasar seluruh kehidupan Kristiani.
Melalui air baptis, dosa asal dihapuskan dan setiap orang menerima hidup
baru sebagai anak-anak Allah. Sejak saat itu, orang yang dibaptis dipanggil
untuk hidup sebagai murid Kristus dan menjadi bagian dari Gereja universal.
Bagi ketiga anak yang menerima Sakramen Baptis pada hari itu, perjalanan
iman baru saja dimulai. Mereka memang belum mampu mengucapkan pengakuan iman
dengan kata-kata, tetapi Gereja mempercayakan tugas tersebut kepada orang tua
dan wali baptis. Kelak, ketika bertumbuh dewasa, mereka diharapkan mampu
menghayati sendiri rahmat yang telah diterima sejak masa kanak-kanak.
R.P. Vitalis Nggeal, C.P. mengingatkan bahwa rahmat baptisan bukan
sesuatu yang berhenti pada hari pelaksanaannya. Rahmat itu harus terus
dipelihara sepanjang hidup melalui doa, Ekaristi, pendalaman iman, dan
keterlibatan dalam kehidupan menggereja.
"Rahmat baptisan tidak boleh mati," tegas beliau.
Kalimat singkat tersebut menjadi salah satu pesan utama homili. Menurut
beliau, banyak orang telah menerima baptisan sejak kecil, tetapi kemudian
perlahan menjauh dari kehidupan Gereja. Ada yang tidak lagi mengikuti Perayaan
Ekaristi, jarang berdoa, bahkan tidak terlibat dalam kehidupan lingkungan.
Karena itu, beliau mengajak seluruh umat untuk terus menghidupkan rahmat
baptisan melalui kebiasaan sederhana, seperti mengikuti ibadat lingkungan,
berdoa bersama keluarga, membaca Kitab Suci, dan mengambil bagian dalam
pelayanan Gereja.
Beliau menegaskan bahwa setiap orang yang telah dibaptis menerima
panggilan sebagai murid sekaligus utusan Kristus. Tugas tersebut tidak hanya
dimiliki para imam, biarawan, atau biarawati, tetapi juga seluruh umat beriman.
"Bila anak-anak bertumbuh nanti, mereka hendaknya siap melayani
Tuhan sesuai panggilan masing-masing," demikian inti ajakan beliau.
Pelayanan dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Anak-anak dapat menjadi
misdinar, remaja dapat bergabung dalam kegiatan kategorial, kaum muda dapat
melayani sebagai lektor atau pemazmur, sedangkan orang dewasa dapat mengambil
bagian dalam pelayanan lingkungan maupun karya sosial Gereja.
Beliau mengingatkan bahwa Gereja berkembang bukan hanya karena kehadiran
para imam, melainkan juga karena keterlibatan umat yang mau melayani dengan
penuh kasih.
Dalam kesempatan itu, R.P. Vitalis Nggeal, C.P. memberikan perhatian khusus
kepada para orang tua yang membawa anak-anak mereka menerima Sakramen Baptis.
Beliau mengatakan bahwa tanggung jawab terbesar setelah baptisan justru
berada di dalam keluarga. Orang tualah yang pertama kali memperkenalkan anak
kepada doa, mengajarkan tanda salib, mengenalkan Kitab Suci, membimbing
mengikuti Perayaan Ekaristi, dan memberikan teladan hidup Kristiani.
Iman, menurut beliau, tidak tumbuh hanya melalui pelajaran agama, tetapi
terutama melalui contoh hidup yang diberikan setiap hari.
Apabila anak melihat kedua orang tuanya rajin berdoa, setia mengikuti Misa,
mengampuni sesama, dan hidup jujur, maka nilai-nilai itu akan lebih mudah
tertanam dibandingkan hanya melalui nasihat.
Sebaliknya, apabila keluarga mengabaikan kehidupan rohani, rahmat baptisan
yang telah diterima akan sulit berkembang.
Karena itu, Gereja selalu meminta kesediaan orang tua untuk mendidik
anak-anak mereka dalam iman Katolik sebelum Sakramen Baptis dilayankan.
Pesan tersebut menjadi semakin bermakna karena perayaan berlangsung pada
Hari Orang Tua, Kakek, dan Nenek Sedunia. Gereja mengingatkan kembali bahwa
keluarga merupakan tempat pertama pewarisan iman.
Para kakek dan nenek pun memiliki peranan penting. Pengalaman hidup,
kesetiaan dalam doa, dan keteguhan mereka menghadapi berbagai tantangan menjadi
warisan rohani yang sangat berharga bagi generasi muda.
Dalam kehidupan Gereja di Ketapang, pewarisan iman seperti itulah yang
telah berlangsung selama puluhan tahun. Banyak keluarga tetap mempertahankan
iman Katolik meskipun pernah mengalami masa-masa sulit ketika jumlah imam
sangat terbatas.
Semangat tersebut sesungguhnya telah tampak sejak awal kehadiran para
misionaris Pasionis di Tanah Kayong.
Delapan puluh tahun yang lalu, ketika Pater Bernardinus Knippenberg,
C.P., Pater Canisius Pijnappels, C.P., dan Pater Plechelmus Dullaert, C.P.
tiba di Ketapang, mereka menemukan umat yang tetap setia meskipun
bertahun-tahun hidup tanpa pelayanan rutin akibat situasi perang. Umat
mempertahankan doa, menjaga iman dalam keluarga, dan menantikan kehadiran para
imam. Kesetiaan itulah yang menjadi dasar berkembangnya Gereja di Ketapang
hingga sekarang.
Karena itu, pembaptisan tiga anak pada 26 Juli 2026 memiliki makna yang
jauh melampaui sebuah perayaan liturgi biasa. Peristiwa tersebut merupakan
kelanjutan dari benih-benih iman yang ditanam para misionaris Pasionis sejak
tahun 1946.
Apabila dahulu para misionaris datang untuk membaptis generasi pertama umat
Katolik di berbagai kampung, kini Gereja yang mereka bangun terus melahirkan
generasi baru yang siap meneruskan kehidupan iman.
Hubungan sejarah itu tampak begitu indah. Delapan puluh tahun lalu para misionaris datang membawa air baptis ke
Tanah Kayong. Delapan puluh tahun kemudian, seorang Konsultor Jenderal
Kongregasi Pasionis dari Roma hadir membaptis tiga anak di paroki yang menjadi
bagian dari buah karya para pendahulunya.
Melalui homili R.P. Vitalis Nggeal, C.P., umat akhirnya diajak menyadari
bahwa baptisan bukanlah akhir sebuah perayaan, melainkan awal sebuah panggilan.
Setiap orang yang telah dibaptis dipanggil untuk terus bertumbuh dalam iman,
menghidupkan rahmat Allah, melayani sesama, serta menjadi saksi kasih Kristus
dalam keluarga, Gereja, dan masyarakat.
Tiga Misionaris Perintis Membuka Jalan Pewartaan di Tanah Kayong
Perjalanan panjang Gereja Katolik di Kabupaten Ketapang tidak dapat
dipisahkan dari keberanian tiga misionaris Pasionis asal Belanda yang mengawali
karya pewartaan Injil di Tanah Kayong. Delapan puluh tahun sebelum tiga anak
menerima Sakramen Baptis di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, tiga imam muda
meninggalkan tanah kelahirannya untuk menjalankan tugas yang penuh tantangan di
sebuah wilayah yang belum mereka kenal. Peristiwa itu menjadi awal sejarah baru
bagi perkembangan Gereja Katolik di Ketapang.
Tahun 2026 menjadi momentum bersejarah karena menandai genap 80
tahun kehadiran Kongregasi Pasionis di Tanah Kayong. Perjalanan delapan
dekade tersebut bukan hanya mencatat bertambahnya jumlah umat atau berdirinya
berbagai paroki, tetapi juga merekam kisah pengorbanan para misionaris yang
rela meninggalkan tanah air, keluarga, dan kenyamanan hidup demi mewartakan
Injil di Kalimantan Barat.
Awal kisah itu dimulai setelah berakhirnya Perang Dunia II. Saat Eropa
perlahan bangkit dari kehancuran, Kongregasi Pasionis Belanda kembali membuka
peluang untuk mengirim misionaris ke daerah-daerah yang membutuhkan pelayanan
Gereja. Ketapang, yang ketika itu masih menjadi wilayah misi dengan berbagai
keterbatasan, dipilih sebagai salah satu tujuan utama.
Tiga imam muda menerima tugas tersebut dengan penuh iman. Mereka adalah Pater Bernardinus Knippenberg, C.P., Pater Canisius Pijnappels, C.P., dan Pater Plechelmus Dullaert, C.P. Ketiganya memahami bahwa tugas yang akan mereka jalani bukan sekadar perpindahan tempat pelayanan, melainkan sebuah panggilan untuk membuka lembaran baru sejarah Gereja di wilayah yang masih sangat terbatas sarana maupun pelayanannya.
Sebelum berangkat, masing-masing mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh.
Persiapan itu tidak hanya menyangkut kehidupan rohani, tetapi juga kemampuan
berkomunikasi dengan masyarakat yang akan mereka layani. Pater Canisius
mempelajari bahasa Indonesia agar dapat berinteraksi dengan umat dan masyarakat
setempat. Sementara itu, Pater Bernardinus mempelajari bahasa Tionghoa
selama beberapa tahun karena mengetahui bahwa komunitas Tionghoa di Kalimantan
Barat memiliki jumlah yang cukup besar. Persiapan tersebut menunjukkan bahwa
sejak awal mereka ingin hadir sebagai gembala yang memahami umatnya.
Pada 12 Juni 1946, ketiga misionaris meninggalkan Belanda dengan
menumpang kapal Volendam. Perjalanan menuju Indonesia bukanlah
perjalanan singkat. Kapal yang mereka tumpangi melintasi berbagai negara
sebelum mencapai Nusantara. Mereka melewati Southampton di Inggris, kemudian
Kairo di Mesir, berlanjut ke Kolombo di Sri Lanka, singgah di Singapura, lalu
tiba di Jakarta. Dari ibu kota Indonesia, perjalanan diteruskan menggunakan
pesawat Dakota menuju Pontianak, dan akhirnya mereka tiba pada 26 Juli 1946.
Perjalanan lintas benua tersebut menggambarkan besarnya tekad para
misionaris. Mereka datang bukan untuk mencari kehidupan yang lebih baik bagi
diri sendiri, melainkan untuk melayani umat yang bahkan belum pernah mereka
kenal. Tanah Kayong yang mereka tuju masih merupakan daerah yang minim
fasilitas. Informasi mengenai wilayah itu pun sangat terbatas.
Sesampainya di Kalimantan Barat, mereka segera menyadari bahwa kenyataan di
lapangan jauh lebih berat daripada yang dibayangkan. Ketapang baru saja keluar
dari masa perang. Banyak bangunan rusak, sarana transportasi terbatas, dan
kondisi ekonomi masyarakat belum pulih sepenuhnya. Gereja Katolik pun masih sangat sederhana.
Kapel yang digunakan umat berukuran kecil. Pastoran mengalami kerusakan di
berbagai bagian. Pintu dan sejumlah perlengkapan rumah hilang akibat situasi
perang. Jalan-jalan dipenuhi kerusakan, jembatan banyak yang nyaris roboh,
sedangkan kendaraan sangat sedikit. Untuk mencapai berbagai kampung, para imam
harus mengandalkan perjalanan sungai, berjalan kaki, atau menggunakan sarana
transportasi seadanya.
Namun, di tengah berbagai keterbatasan tersebut, mereka menemukan kekuatan
yang luar biasa, yaitu umat Katolik yang tetap setia mempertahankan iman.
Selama masa pendudukan Jepang, banyak umat tidak dapat menerima pelayanan imam
secara rutin. Kendati demikian, mereka tetap berkumpul untuk berdoa, menjaga
tradisi Gereja, serta memelihara kehidupan iman dalam keluarga. Kesetiaan umat
itulah yang menjadi sumber semangat bagi para misionaris untuk melanjutkan
karya pelayanan.
Pada akhir Juli 1946, Pater Plechelmus Dullaert, C.P. menjadi
misionaris Pasionis pertama yang menetap di Ketapang. Kehadirannya disambut
dengan sukacita oleh umat dan para tentara Katolik yang bertugas di wilayah
tersebut. Tanpa menunggu lama, ia mulai mengunjungi umat, menjalin komunikasi
dengan pemerintah setempat, dan mempelajari bahasa Indonesia agar dapat
melayani masyarakat dengan lebih baik.
Beberapa bulan kemudian, tepat pada 1 Oktober 1946, Pater
Bernardinus Knippenberg, C.P. menyusul tiba di Ketapang. Kedatangannya
membawa kebahagiaan tersendiri bagi komunitas Tionghoa. Mereka menyambut pastor
baru itu dengan membawa buah-buahan dan berbagai makanan sebagai ungkapan
syukur. Sambutan tersebut bukan tanpa alasan. Untuk pertama kalinya mereka
memiliki imam yang mampu berbicara dalam bahasa mereka sendiri.
Kemampuan berbahasa Tionghoa menjadikan pelayanan Pater Bernardinus
berkembang dengan cepat. Ia dikenal dengan panggilan "Sin Hu",
yang berarti guru atau pembimbing rohani. Setiap hari Minggu ia mempersembahkan
dua kali Perayaan Ekaristi, yaitu dalam bahasa Tionghoa dan bahasa Indonesia.
Pada sore hari, umat kembali berkumpul untuk mendaraskan doa Rosario dan Salve
dalam bahasa Tionghoa. Liturgi yang menggunakan bahasa umat membuat mereka
semakin dekat dengan Gereja.
Pelayanan tidak berhenti di pusat kota Ketapang. Bersama Pater Elias
Langendam, Pater Bernardinus melakukan perjalanan pastoral ke berbagai
daerah pesisir, seperti Sungai Awan, Tolak, Sukadana, Teluk Melano, hingga
Pulau Kumbang. Jarak yang harus ditempuh mencapai lebih dari seratus kilometer
dengan kondisi jalan yang sangat berat. Lumpur, genangan air, jembatan rusak,
dan keterbatasan kendaraan menjadi bagian dari keseharian pelayanan mereka.
Di kampung-kampung tersebut mereka menemukan banyak keluarga Katolik yang
selama bertahun-tahun tidak menerima sakramen. Anak-anak dipersiapkan untuk
menerima Baptis. Umat yang lama tidak mengikuti kehidupan Gereja diajak kembali
mendekat kepada Kristus. Perlahan tetapi pasti, komunitas-komunitas kecil di
sepanjang pesisir mulai hidup kembali berkat pelayanan tanpa mengenal lelah
dari para misionaris.
Sementara itu, Pater Canisius Pijnappels, C.P. dan Pater
Plechelmus Dullaert, C.P. menerima tugas yang tidak kalah berat. Mereka
diutus memasuki wilayah pedalaman yang dihuni masyarakat Dayak. Daerah-daerah
tersebut hanya dapat dijangkau melalui sungai atau perjalanan kaki selama
berjam-jam. Namun, tantangan itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk
mewartakan Injil kepada masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan.
Perjalanan mereka menjadi fondasi bagi lahirnya komunitas-komunitas Katolik
di pedalaman Ketapang. Dari pelayanan yang sederhana, lahirlah benih-benih iman
yang terus berkembang hingga menjadi paroki-paroki yang hidup pada masa kini.
Apa yang dilakukan para misionaris delapan puluh tahun lalu membuktikan bahwa
karya besar Gereja selalu berawal dari keberanian melangkah, kesetiaan
melayani, dan keyakinan bahwa Allah senantiasa menyertai setiap pewarta Injil.
Menembus Pedalaman, Menanam Benih Iman yang
Bertumbuh
Semangat misioner Kongregasi Pasionis tidak berhenti di pusat Kota
Ketapang. Setelah pelayanan mulai tertata di wilayah pesisir, perhatian para
misionaris beralih ke daerah pedalaman yang ketika itu hampir tidak tersentuh
pelayanan pastoral. Di sanalah Pater Canisius Pijnappels, C.P. dan Pater
Plechelmus Dullaert, C.P. memulai babak baru pewartaan Injil yang kelak
menjadi fondasi perkembangan Gereja Katolik di wilayah pedalaman Kabupaten
Ketapang.
Wilayah yang mereka layani bukanlah daerah yang mudah dijangkau.
Infrastruktur masih sangat terbatas. Jalan darat hampir tidak tersedia,
sehingga sungai menjadi jalur utama transportasi. Perjalanan dilakukan
menggunakan perahu kecil, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menembus
hutan, menyeberangi sungai, serta melewati perbukitan yang belum memiliki akses
memadai. Bagi para misionaris, perjalanan panjang seperti itu merupakan bagian
dari kehidupan sehari-hari.
Perjalanan menuju kampung-kampung Dayak sering kali memerlukan waktu
berhari-hari. Bekal yang dibawa sangat sederhana. Mereka harus menghadapi hujan
lebat, arus sungai yang deras, cuaca yang tidak menentu, serta risiko penyakit
tropis. Namun, semua tantangan tersebut tidak mengurangi semangat mereka untuk
menjumpai umat yang telah lama menantikan kehadiran seorang imam.
Sesampainya di sebuah kampung, para misionaris tidak langsung berbicara
mengenai ajaran iman. Mereka terlebih dahulu membangun persaudaraan dengan
masyarakat. Mereka mendengarkan cerita kehidupan warga, mengenal adat istiadat
setempat, serta menghormati budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
Pendekatan yang penuh penghargaan itu membuat masyarakat menerima kehadiran
para misionaris dengan terbuka.
Bagi Kongregasi Pasionis, pewartaan Injil tidak pernah dipisahkan dari
penghormatan terhadap martabat manusia. Injil diwartakan melalui dialog,
persahabatan, pelayanan, dan kesaksian hidup. Karena itulah, hubungan yang
terjalin antara para misionaris dengan masyarakat Dayak berkembang menjadi
hubungan kekeluargaan yang erat.
Di setiap tempat yang dikunjungi, mereka mempersembahkan Ekaristi, melayani
Sakramen Tobat, membaptis umat yang telah dipersiapkan, memberkati perkawinan,
mengunjungi orang sakit, serta menghibur keluarga yang sedang berduka.
Kehadiran seorang imam menjadi peristiwa yang sangat dinantikan karena tidak
setiap bulan mereka dapat datang ke kampung yang sama.
Pelayanan pastoral tersebut menjadi titik awal lahirnya komunitas-komunitas
Katolik baru. Masyarakat yang telah menerima baptisan mulai berkumpul secara
rutin untuk berdoa bersama. Mereka membangun tempat ibadat sederhana sebagai
pusat kehidupan iman. Dari kelompok-kelompok kecil inilah kemudian berkembang
stasi-stasi yang kelak menjadi bagian dari paroki-paroki di Keuskupan Ketapang.
Selain pelayanan sakramental, para misionaris juga memberikan perhatian
besar terhadap pendidikan. Mereka menyadari bahwa pendidikan merupakan jalan
penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus memperkuat
kehidupan iman. Oleh karena itu, berbagai sekolah mulai didirikan sebagai
sarana membentuk generasi muda yang memiliki pengetahuan, karakter, dan
semangat pelayanan.
Sekolah-sekolah Katolik yang lahir dari karya misi tidak hanya
mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Nilai-nilai kejujuran, tanggung
jawab, disiplin, serta semangat persaudaraan juga ditanamkan kepada para
peserta didik. Pendidikan dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari
karya evangelisasi.
Perhatian terhadap bidang sosial juga menjadi ciri khas pelayanan para
misionaris Pasionis. Mereka hadir mendampingi masyarakat yang mengalami
kesulitan, membantu mereka menghadapi berbagai persoalan kehidupan, serta
memberikan penguatan ketika terjadi masa-masa yang penuh tantangan. Kehadiran
Gereja menjadi tanda nyata kasih Kristus bagi siapa saja tanpa membedakan latar
belakang suku maupun agama.
Semangat pelayanan tersebut merupakan warisan spiritualitas Santo Paulus
dari Salib, pendiri Kongregasi Pasionis. Spiritualitas Pasionis menempatkan Sengsara Tuhan Yesus Kristus sebagai
pusat kehidupan dan sumber kekuatan dalam melayani. Para religius Pasionis
dipanggil untuk menghadirkan belas kasih Allah kepada mereka yang menderita dan
membutuhkan pengharapan.
Semangat itu pula yang terus diwariskan kepada para imam Pasionis yang
berkarya di Ketapang hingga sekarang. Generasi demi generasi melanjutkan
pelayanan yang telah dirintis para pendahulu, baik di bidang pastoral,
pendidikan, pendampingan keluarga, pembinaan kaum muda, maupun pelayanan
sosial.
Perjalanan delapan puluh tahun tersebut memperlihatkan bahwa karya misi
bukanlah hasil kerja satu atau dua orang. Gereja bertumbuh karena kerja sama
antara para imam, biarawan, biarawati, katekis, tokoh umat, serta ribuan
keluarga Katolik yang setia mempertahankan iman mereka. Setiap generasi
memberikan sumbangan yang berbeda, tetapi semuanya mengarah pada tujuan yang
sama, yaitu menghadirkan Kerajaan Allah di tengah masyarakat.
Buah dari pelayanan panjang itu kini tampak nyata. Di berbagai wilayah
Keuskupan Ketapang berdiri paroki, stasi, sekolah, serta kelompok kategorial
yang aktif mengembangkan kehidupan menggereja. Banyak putra-putri daerah yang
terpanggil menjadi imam, biarawan, biarawati, maupun katekis. Semua perkembangan tersebut berakar pada benih
kecil yang ditanam para misionaris sejak tahun 1946.
Di tengah perkembangan zaman, semangat misi itu tetap relevan. Tantangan
yang dihadapi Gereja memang berubah, tetapi panggilan untuk mewartakan Injil
tetap sama. Kini, pewartaan dilakukan tidak hanya melalui kunjungan pastoral,
tetapi juga melalui pendidikan, pendampingan keluarga, media komunikasi sosial,
pelayanan kemanusiaan, serta berbagai bentuk karya pastoral lainnya.
Karena itu, kehadiran R.P. Paul Cherukoduth, C.P. di Paroki Santo
Agustinus Paya Kumang pada peringatan delapan puluh tahun karya Pasionis
memiliki makna yang sangat mendalam. Sebagai Konsultor Jenderal Kongregasi
Pasionis, beliau menjadi saksi bahwa benih yang dahulu ditanam oleh tiga
misionaris Belanda telah berkembang menjadi karya Gereja yang hidup dan terus
berbuah.
Momentum tersebut juga mengingatkan umat bahwa sejarah Gereja tidak hanya
dikenang sebagai kisah masa lalu. Sejarah menjadi sumber inspirasi untuk
melanjutkan pelayanan pada masa kini. Semangat pengorbanan para misionaris
menjadi teladan bagi setiap orang beriman agar terus mengambil bagian dalam
kehidupan Gereja sesuai panggilannya masing-masing.
Delapan puluh tahun lalu, para misionaris datang membawa Injil ke Tanah
Kayong dengan penuh keberanian. Kini, tugas yang sama berada di tangan seluruh
umat. Setiap keluarga Kristiani dipanggil menjadi tempat pertama pewartaan
iman, setiap lingkungan menjadi komunitas yang saling menguatkan, dan setiap
orang yang telah dibaptis diutus menjadi saksi kasih Kristus di tengah
masyarakat.
Dengan demikian, sejarah panjang Kongregasi Pasionis di Ketapang bukan
hanya menjadi catatan perjalanan masa lampau, tetapi juga menjadi undangan bagi
generasi sekarang untuk melanjutkan karya yang telah diwariskan. Semangat
misioner yang berakar pada kasih Kristus tetap hidup, bertumbuh, dan terus
melahirkan buah-buah iman bagi Gereja di Tanah Kayong.
Warisan Iman yang Terus Berlanjut dari Generasi ke
Generasi
Perayaan Sakramen Baptis yang berlangsung di Paroki Santo Agustinus Paya
Kumang pada Minggu, 26 Juli 2026, bukan sekadar penutup rangkaian liturgi Hari
Minggu Biasa XVII. Peristiwa tersebut menjadi lambang kesinambungan karya
keselamatan Allah yang terus berlangsung dalam Gereja. Ketika tiga anak
menerima air baptis dan diurapi menjadi anggota Tubuh Kristus, Gereja kembali
menyaksikan bahwa benih-benih iman yang ditanam delapan puluh tahun silam terus
bertumbuh dan menghasilkan buah.
Peringatan 80 Tahun Misi Kongregasi Pasionis di Tanah Kayong
memberikan makna yang lebih mendalam bagi seluruh umat. Delapan dekade lalu,
para misionaris datang dengan membawa Injil dan harapan. Mereka tidak
mengetahui seperti apa hasil karya mereka di masa depan. Namun, dengan
keyakinan penuh kepada penyelenggaraan Allah, mereka tetap melangkah,
menyeberangi sungai, memasuki hutan, mengunjungi kampung-kampung, dan
mendampingi umat dalam berbagai situasi kehidupan.
Kini, hasil dari pengabdian tersebut tampak nyata. Gereja Katolik di
Keuskupan Ketapang telah berkembang melalui paroki-paroki, stasi, sekolah,
kelompok kategorial, serta berbagai karya pastoral yang melayani masyarakat.
Semua perkembangan itu berakar pada kesetiaan para misionaris, dukungan para
katekis, pengorbanan umat, dan rahmat Tuhan yang terus bekerja sepanjang
perjalanan sejarah.
Kehadiran R.P. Paul Cherukoduth, C.P. dalam Ibadat Sakramen
Baptis menjadi simbol persatuan Gereja yang melampaui batas negara dan budaya.
Sebagai Konsultor Jenderal Kongregasi Pasionis yang berkarya di Roma,
beliau hadir di tengah umat Ketapang bukan hanya sebagai tamu, tetapi sebagai
saudara sekomunitas yang ikut merasakan sukacita tumbuhnya Gereja di tempat
yang dahulu menjadi wilayah misi.
Perjumpaan tersebut menunjukkan bahwa karya pewartaan Injil tidak
mengenal batas geografis. Apa
yang dimulai oleh para misionaris asal Belanda kini diteruskan oleh religius
dari berbagai bangsa. Kehadiran imam asal India yang melayani umat di
Kalimantan Barat memperlihatkan wajah Gereja yang sungguh universal, di mana
setiap bangsa dipanggil untuk saling melayani dalam semangat persaudaraan.
Dalam homilinya, R.P. Vitalis Nggeal, C.P. mengingatkan bahwa
Sakramen Baptis merupakan awal perjalanan hidup sebagai murid Kristus. Melalui
baptisan, setiap orang dipanggil untuk menghidupkan rahmat Allah dalam
kehidupan sehari-hari, bukan hanya melalui doa, tetapi juga melalui pelayanan,
kasih, dan kesaksian hidup.
Pesan tersebut menjadi sangat relevan bagi ketiga anak yang baru menerima
Sakramen Baptis, yaitu Agustinus Gracio Ivander Augustin, Alponsus
Agafitus Anwar, dan Valencia Siska Andriyani. Meskipun mereka masih
berada pada usia dini, Gereja percaya bahwa rahmat Allah telah mulai bekerja
dalam hidup mereka. Tugas selanjutnya berada di tangan keluarga, wali baptis,
dan komunitas Gereja untuk mendampingi mereka bertumbuh dalam iman.
Orang tua memiliki tanggung jawab utama untuk memperkenalkan anak-anak
kepada Kristus melalui teladan hidup. Doa bersama dalam keluarga, kebiasaan
mengikuti Perayaan Ekaristi setiap Minggu, membaca Kitab Suci, serta membangun
sikap saling mengasihi menjadi cara sederhana namun sangat penting dalam
memelihara rahmat baptisan.
Peran kakek dan nenek juga tidak kalah penting. Bertepatan dengan Hari
Orang Tua, Kakek, dan Nenek Sedunia, Gereja kembali menegaskan bahwa generasi
yang lebih tua merupakan penjaga memori iman. Pengalaman hidup mereka,
kesetiaan dalam doa, dan ketabahan menghadapi berbagai tantangan menjadi
warisan rohani yang tidak ternilai bagi anak-anak dan cucu-cucu mereka.
Dalam kehidupan Gereja, iman selalu bertumbuh melalui pewarisan
antargenerasi. Apa yang diterima dari orang tua diteruskan kepada anak-anak.
Apa yang diajarkan oleh para misionaris diwariskan kepada umat. Apa yang
dihidupi oleh umat kemudian menjadi kesaksian bagi masyarakat. Dengan cara
itulah Gereja terus berkembang dari waktu ke waktu.
Semangat tersebut telah menjadi ciri khas pelayanan Kongregasi Pasionis
selama delapan puluh tahun di Ketapang. Pewartaan Injil tidak berhenti pada
pembangunan gedung gereja atau penyelenggaraan liturgi. Karya misi juga
diwujudkan melalui pendidikan, pembinaan keluarga, pelayanan sosial,
pendampingan kaum muda, serta perhatian kepada mereka yang kecil, lemah,
miskin, dan menderita. Semangat itu bersumber dari spiritualitas Sengsara
Kristus yang menjadi identitas Kongregasi Pasionis.
Perjalanan panjang tersebut mengajarkan bahwa Gereja bertumbuh bukan karena
kemampuan manusia semata, melainkan karena kesetiaan Allah yang terus menyertai
umat-Nya. Berbagai tantangan telah dilalui, mulai dari keterbatasan tenaga
pastoral, sulitnya akses menuju pedalaman, hingga perubahan sosial yang terus
terjadi. Namun, di tengah semuanya itu, Gereja tetap berdiri dan berkembang
karena kasih Tuhan tidak pernah berhenti bekerja.
Momentum pembaptisan tiga anak pada tahun peringatan delapan puluh tahun
misi Pasionis menjadi tanda bahwa sejarah belum berakhir. Sebaliknya, sejarah
terus ditulis oleh generasi baru yang menerima panggilan untuk hidup sebagai
murid Kristus. Anak-anak yang hari ini menerima baptisan kelak akan menjadi
bagian dari masa depan Gereja. Mereka dapat menjadi orang tua yang mewariskan
iman, pelayan liturgi, katekis, religius, imam, ataupun awam yang menghadirkan
nilai-nilai Injil dalam profesinya.
Harapan itu juga disampaikan oleh Bapak Hendrikus Hendri, S.S., Ketua
Bidang Liturgi dan Pewartaan Dewan Pastoral Paroki Santo Agustinus Paya Kumang,
yang mengucapkan selamat kepada ketiga anak beserta keluarga mereka. Beliau
berharap rahmat Sakramen Baptis menjadi awal perjalanan iman yang kokoh
sehingga mereka bertumbuh sebagai pribadi yang mengasihi Tuhan, mencintai
Gereja, serta setia melayani sesama.
Beliau juga mengajak seluruh umat untuk menjadikan peringatan delapan puluh
tahun karya misi Kongregasi Pasionis sebagai kesempatan memperbarui semangat
pelayanan. Menurutnya, setiap orang yang telah dibaptis dipanggil menjadi
pewarta Injil melalui perkataan, tindakan, dan teladan hidup di tengah keluarga
maupun masyarakat.
Perayaan di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang akhirnya menjadi sebuah
kisah yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Delapan puluh tahun yang lalu, para misionaris
Pasionis datang dengan membawa harapan bagi Tanah Kayong. Hari ini, Gereja
menyaksikan lahirnya generasi baru melalui Sakramen Baptis. Besok, generasi
tersebut akan melanjutkan karya pewartaan yang telah diwariskan oleh para
pendahulunya.
Di tengah perubahan zaman, pesan Injil tetap sama. Kristus terus
memanggil setiap orang untuk hidup dalam kasih, menjadi saksi kebaikan, serta
menghadirkan damai di mana pun berada. Selama semangat itu terus hidup dalam
diri umat, warisan iman yang telah ditanam para misionaris Pasionis delapan
puluh tahun silam akan tetap berkembang dan menghasilkan buah bagi Gereja,
masyarakat, dan bangsa.
Dengan demikian, perayaan Sakramen Baptis pada 26 Juli 2026 bukan hanya menjadi sukacita bagi tiga keluarga yang menerima anggota baru Gereja, tetapi juga menjadi penegasan bahwa karya misi yang dimulai pada tahun 1946 tetap hidup hingga sekarang. Dari generasi ke generasi, Gereja di Tanah Kayong terus melangkah dalam iman, dipelihara oleh rahmat Allah, dan diutus untuk mewartakan kasih Kristus kepada dunia.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 26 Juli 2026
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)


.png)
.png)
.png)
0 comments:
Posting Komentar