Malam Pentas Seni dan Api Unggun T-SoM 2026 Teguhkan Semangat Misioner Remaja Katolik Menjadi Terang Kristus di Tengah Dunia

 

Ketapang, 18 Juli 2026.Setelah seluruh rangkaian pembinaan, pendalaman materi, serta kegiatan lapangan dijalani selama beberapa hari, malam Pentas Seni menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan oleh seluruh peserta. Aula kegiatan dipenuhi suasana sukacita sejak sore hari. Para peserta mempersiapkan diri bersama kelompok masing-masing, mengenakan busana yang mencerminkan kreativitas serta kekayaan budaya daerah asal mereka.

Sabtu 12 Juli 2026.Tepat pukul 18.55 WIB, acara Pentas Seni T-SoM 2026 dimulai. Suasana Gedung Jerun Stoop,CP, berubah menjadi panggung kebersamaan yang dipenuhi semangat kaum muda. Satu per satu kelompok menampilkan pertunjukan yang telah dipersiapkan selama mengikuti kegiatan pembinaan. Berbagai penampilan seperti tari tradisional, drama, musik rohani, paduan suara, pembacaan puisi, hingga pertunjukan yang mengangkat nilai-nilai persaudaraan dan misi berhasil memukau seluruh peserta.

Hadir dalam malam kebersamaan tersebut RD. Laurensius Sutadi, Vikaris Jenderal Keuskupan Ketapang, bersama RP. Alfonsus Widhiwiryawan, SX, Direktur Nasional Karya Kepausan Indonesia; RP. Petrus Maman Suparman, OSC, Direktur Diosesan Karya Misi Kepausan Indonesia Keuskupan Bandung; RP. Rovinus Longa, CP, Direktur Diosesan Karya Misi Kepausan Indonesia Keuskupan Ketapang; RD. Ferdinandus Paulus Niki Towary, Direktur Diosesan Karya Misi Kepausan Indonesia Keuskupan Makassar; RD. Zurich Arian Withosha, Sekretaris KMKI Keuskupan Ketapang; RP. Atanasius Agu, CP; RP. Dominikus Maxi Bulu, CSsR; Kak Ersa Marshanda, yang bertugas sebagai Staf Sekretariat Nasional (Setnas) Karya Misi Kepausan Indonesia (KMKI) 









para suster, bruder, pendamping, panitia, serta 183 peserta Teens School of Mission 2026.

Kehadiran para imam dan pendamping memberikan semangat tersendiri bagi seluruh peserta. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga memberikan apresiasi atas setiap penampilan yang ditampilkan dengan penuh antusias dan percaya diri.

Seni sebagai Sarana Pewartaan

Pentas Seni bukan sekadar hiburan penutup kegiatan. Dalam semangat pembinaan Karya Misi Kepausan Indonesia, seni dipandang sebagai salah satu sarana pewartaan Injil. Melalui musik, tarian, drama, dan puisi, kaum muda diajak menyampaikan pesan kasih, persaudaraan, kepedulian, serta harapan kepada sesama.

Setiap kelompok berusaha menampilkan pertunjukan terbaik dengan mengangkat nilai-nilai yang telah dipelajari selama mengikuti T-SoM. Ada kelompok yang mengisahkan pentingnya hidup dalam persatuan meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda. Ada pula yang menampilkan drama mengenai kepedulian terhadap lingkungan hidup, penghormatan kepada orang tua, dan semangat melayani tanpa pamrih.

Gelak tawa, tepuk tangan, dan sorak kegembiraan memenuhi ruangan setiap kali satu penampilan berakhir. Suasana hangat tersebut memperlihatkan bahwa keberagaman budaya yang dimiliki para peserta justru menjadi kekayaan yang mempererat persaudaraan sebagai satu keluarga besar Gereja.

Semangat 2D2K Menjadi Dasar Pembinaan

Seluruh rangkaian Pentas Seni tidak terlepas dari semangat 2D2K, yaitu Doa, Derma, Kurban, dan Kesaksian, yang menjadi dasar pembinaan Serikat Anak dan Remaja Misioner Indonesia (SEKAMI).

Melalui Doa, para remaja diajak membangun relasi yang semakin dekat dengan Tuhan sebagai sumber kekuatan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Melalui Derma, mereka belajar berbagi waktu, tenaga, perhatian, maupun talenta bagi sesama, terutama mereka yang membutuhkan.

Melalui Kurban, peserta dilatih untuk berani berkorban, meninggalkan sikap egois, serta mengutamakan kepentingan bersama dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat.

Sedangkan melalui Kesaksian, kaum muda didorong menjadi saksi Kristus melalui perkataan, sikap, dan tindakan nyata di tengah keluarga, sekolah, lingkungan, maupun paroki.

Nilai-nilai tersebut menjadi roh dari seluruh proses pembinaan Teens School of Mission. Kreativitas yang ditampilkan dalam Pentas Seni bukan bertujuan mencari popularitas, melainkan menjadi ungkapan syukur kepada Tuhan atas talenta yang telah dianugerahkan sekaligus sarana mewartakan sukacita Injil kepada sesama.

Kebersamaan yang Menghapus Sekat

Selama mengikuti T-SoM 2026, para peserta berasal dari berbagai keuskupan, paroki, suku, bahasa, dan budaya. Perbedaan tersebut tidak menjadi penghalang, tetapi justru memperkaya pengalaman hidup bersama.

Melalui latihan, diskusi, permainan, pelayanan sosial, hingga Pentas Seni, para peserta belajar saling mengenal, menghargai, dan bekerja sama. Mereka menyadari bahwa Gereja bertumbuh karena keberagaman yang dipersatukan oleh kasih Kristus.

Malam Pentas Seni menjadi gambaran nyata bahwa kaum muda Katolik memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor persaudaraan. Dalam sukacita, mereka belajar mendengarkan, memberi ruang bagi orang lain untuk berkembang, serta menghargai setiap talenta yang dimiliki sesama.

Suasana penuh kegembiraan itu kemudian menjadi pengantar menuju rangkaian acara yang paling mengesankan dalam T-SoM 2026, yakni Malam Api Unggun, sebuah perayaan sederhana namun sarat makna yang mengajak seluruh peserta merenungkan kembali panggilan mereka sebagai remaja misioner yang siap diutus menjadi terang Kristus di tengah dunia.

 

Malam Api Unggun Menjadi Puncak Perjumpaan dan Perutusan Kaum Muda Misioner

Suasana sukacita yang mengiringi Pentas Seni T-SoM 2026 berlanjut menuju salah satu momen yang paling berkesan bagi seluruh peserta, yakni Malam Api Unggun. Di bawah langit malam Ketapang, para peserta, pendamping, imam, suster, bruder, dan panitia berkumpul membentuk lingkaran besar mengelilingi api unggun sambil memegang lilin yang telah dibagikan sebelumnya.

Cahaya api unggun yang perlahan membesar berpadu dengan nyala lilin di tangan setiap peserta menciptakan suasana yang hening, hangat, dan penuh makna. Tidak terdengar lagi riuh rendah sebagaimana saat Pentas Seni berlangsung. Sebaliknya, seluruh peserta larut dalam doa, pujian, dan permenungan sebagai ungkapan syukur atas rahmat yang mereka alami selama mengikuti Teens School of Mission (T-SoM) 2026.

Bagi banyak peserta, malam itu menjadi pengalaman rohani yang mendalam. Api unggun tidak hanya menjadi simbol kebersamaan, tetapi juga lambang semangat misioner yang terus berkobar dalam hati setiap orang yang telah dipanggil untuk menjadi saksi Kristus.

Cahaya Lilin Lambang Persaudaraan dan Misi

Rangkaian renungan diawali oleh RP. Dominikus Maxi Bulu, CSsR. Dalam permenungannya, ia mengajak seluruh peserta melihat lilin yang mereka pegang bukan sekadar sebagai benda yang menerangi kegelapan, melainkan sebagai lambang kasih Allah yang diwartakan melalui kehidupan setiap orang beriman.

Ia mengajak peserta mensyukuri perjumpaan yang telah terjalin selama empat hari pembinaan. Menurutnya, T-SoM bukan hanya mempertemukan remaja dari berbagai keuskupan, melainkan membangun sebuah keluarga misioner yang dipersatukan oleh Kristus.

Melalui simbol lilin, peserta diajak menyadari bahwa setiap orang dipanggil membawa kehangatan persaudaraan ke mana pun mereka diutus. Cahaya yang kecil akan menjadi semakin terang ketika bersatu dengan cahaya-cahaya lainnya. Demikian pula kehidupan orang beriman akan semakin bermakna ketika dibangun dalam kebersamaan, saling mendukung, dan saling menguatkan.

Dalam suasana doa tersebut, seluruh peserta diajak memohon agar Tuhan menjaga semangat persaudaraan yang telah tumbuh selama mengikuti T-SoM. Api cinta kasih Kristus diharapkan tidak berhenti menyala di lokasi kegiatan, tetapi dibawa pulang ke keluarga, lingkungan, sekolah, stasi, dan paroki masing-masing sebagai kesaksian hidup yang nyata.

Keheningan malam semakin mengantar setiap peserta memasuki refleksi pribadi. Banyak di antara mereka menundukkan kepala sambil memandang nyala lilin di tangan masing-masing. Sebagian tampak terharu mengenang pengalaman pelayanan, persahabatan, dan kebersamaan yang telah mereka lalui.

Dipanggil Menjadi Terang Dunia

Renungan kemudian dilanjutkan oleh RP. Petrus Maman Suparman, OSC, Direktur Diosesan Karya Misi Kepausan Indonesia Keuskupan Bandung. Dalam refleksinya, ia mengajak seluruh peserta merenungkan makna cahaya lilin sebagai lambang panggilan setiap orang Kristen untuk menjadi terang bagi dunia.

Ia mengingatkan bahwa terang yang berasal dari sebuah lilin tampak sederhana, namun mampu mengusir kegelapan di sekitarnya. Demikian pula setiap remaja Katolik, meskipun masih muda, memiliki kemampuan menghadirkan kasih, pengharapan, dan damai di tengah keluarga maupun masyarakat.

Suasana doa semakin khidmat ketika seluruh peserta bersama-sama menyanyikan lagu "Lilin-Lilin Kecil". Syair lagu tersebut mengajak kaum muda untuk berani menjadi cahaya yang menerangi dunia melalui hidup yang penuh kasih, pelayanan, dan kesaksian iman.

Dalam suasana yang penuh haru, peserta kemudian saling bergandengan tangan membentuk lingkaran persaudaraan. Momen tersebut menjadi lambang bahwa misi Gereja tidak dijalankan secara sendiri-sendiri. Setiap orang dipanggil berjalan bersama sebagai satu tubuh Kristus, saling menopang dalam suka maupun duka.

Refleksi malam itu juga mengajak peserta menyadari bahwa perjumpaan selama T-SoM merupakan anugerah Tuhan yang tidak berhenti ketika kegiatan berakhir. Persahabatan yang telah terjalin diharapkan terus dipelihara sebagai kekuatan untuk tetap setia melayani Gereja.

Perpisahan Bukan Akhir Perjalanan Misi

Menjelang berakhirnya Malam Api Unggun, suasana haru mulai terasa. Para peserta menyadari bahwa keesokan harinya mereka akan kembali ke keuskupan dan paroki masing-masing setelah melewati hari-hari penuh sukacita bersama.

Namun para pembimbing mengingatkan bahwa perpisahan bukanlah akhir dari perjalanan. Sebaliknya, T-SoM menjadi awal dari sebuah perutusan baru. Pengalaman doa, pelayanan, Analisa Sosial, aksi nyata di tengah masyarakat, dialog lintas iman, serta persaudaraan yang telah dibangun merupakan bekal untuk diteruskan dalam kehidupan sehari-hari.

Semangat 2D2K Doa, Derma, Kurban, dan Kesaksian diharapkan menjadi pedoman hidup setiap peserta. Mereka dipanggil untuk menjadi remaja Katolik yang berakar pada doa, murah hati dalam berbagi, rela berkorban demi sesama, serta berani memberi kesaksian tentang Kristus melalui tindakan nyata.

Di tengah cahaya lilin yang masih menyala, doa bersama dipanjatkan agar Tuhan senantiasa menyertai perjalanan hidup seluruh peserta. Mereka memohon rahmat agar api kasih Kristus tetap berkobar dalam hati, menguatkan langkah ketika kembali ke keluarga, sekolah, lingkungan, stasi, dan paroki masing-masing.

Malam Api Unggun T-SoM 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar penutup kegiatan. Peristiwa itu menjadi lambang lahirnya tekad baru kaum muda Katolik untuk terus bertumbuh sebagai murid-murid Kristus yang misioner, membawa terang, membangun persaudaraan, dan menghadirkan kasih Allah di tengah masyarakat yang majemuk. Dengan semangat itu, para peserta diutus kembali ke tempat asal mereka sebagai "lilin-lilin kecil" yang siap menyalakan harapan dan menjadi saksi Injil dalam kehidupan sehari-hari.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 18 Juli 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar