Teens School of Mission 2026 Tanamkan Semangat Misioner dan Kepedulian Sosial Melalui Analisa Sosial dan Outing Lintas Iman di Ketapang

 


Ketapang, 18 Juli 2026.Semangat menjadi murid Kristus yang misioner diwujudkan secara nyata dalam rangkaian kegiatan Teens School of Mission (T-SoM) 2026 atau Sekolah Misi Remaja yang diselenggarakan Karya Misi Kepausan Indonesia (KMKI). Salah satu agenda utama yang mendapat perhatian seluruh peserta adalah kegiatan Analisa Sosial (Ansos) sebagai bekal sebelum pelaksanaan outing sosial di berbagai lokasi di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Kegiatan pengarahan Analisa Sosial berlangsung pada Sabtu, 11 Juli 2026, mulai pukul 08.40 WIB hingga selesai di Gedung Jerun Stoop,CP. Ketapang. Seluruh peserta mengikuti sesi ini dengan penuh perhatian sebagai persiapan sebelum terjun langsung ke tengah masyarakat dalam berbagai kegiatan pelayanan, pembelajaran budaya, pelestarian lingkungan, serta dialog lintas agama.

Program Teens School of Mission 2026 berlangsung pada 9–12 Juli 2026 dan diikuti 183 peserta, belum termasuk para pendamping dan panitia. Para peserta berasal dari berbagai keuskupan dan paroki, di antaranya Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Sanggau, Keuskupan Sintang, Keuskupan Ketapang, serta sejumlah paroki lainnya di wilayah Kalimantan.









Kegiatan ini memperoleh dukungan dari Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Keuskupan Ketapang, bersama para imam, biarawan, biarawati, pendamping, dan panitia yang mendampingi seluruh rangkaian pembinaan kaum muda tersebut.

Turut memberikan dukungan pula RP. Alfonsus Widhiwiryawan, SX, Direktur Nasional Karya Misi Kepausan Indonesia; RP. Petrus Maman Suparman, OSC, Direktur Diosesan KMKI Keuskupan Bandung;RD. Ferdinandus Paulus Niki Towary, Direktur Diosesan (Dirdios) Karya Misi Kepausan Indonesia (KMKI) Keuskupan Makassar. RP. Rovinus Longa, CP, Direktur Diosesan KMKI Keuskupan Ketapang; RD. Zurich Arian Withosha, Sekretaris KMKI Keuskupan Ketapang; RP. Atanasius Agu, CP; RP. Dominikus Maxi Bulu, CSsR; serta para pastor, suster, bruder, dan seluruh panitia yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan.

Dukungan terhadap penyelenggaraan T-SoM 2026 juga datang dari RP. Vitalis Nggeal, CP, Pastor Kepala Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang.yang menyambut baik pelaksanaan kegiatan pembinaan misioner bagi remaja Katolik tersebut.

Analisa Sosial sebagai Bekal Misioner

Sebelum peserta diterjunkan ke berbagai lokasi outing, Tim KMKI menyampaikan materi Analisa Sosial (Ansos). Materi ini tidak hanya memperkenalkan kondisi masyarakat secara umum, tetapi juga mengajak peserta memahami realitas kehidupan sosial melalui pendekatan yang sistematis dan objektif.

Dalam pemaparannya, tim menjelaskan bahwa kegiatan outing bukan sekadar kunjungan atau wisata edukasi. Seluruh peserta diajak melihat kehidupan masyarakat secara lebih mendalam, memahami sejarah suatu tempat, mengenali nilai budaya yang berkembang, serta membaca tantangan sosial yang dihadapi masyarakat setempat.

Analisa Sosial menjadi sarana untuk membentuk kepekaan peserta terhadap persoalan kemanusiaan. Dengan demikian, setiap aksi pelayanan yang dilakukan bukan hanya bersifat seremonial, tetapi lahir dari pemahaman yang benar mengenai kebutuhan masyarakat.

Tim KMKI juga menjelaskan tahapan Analisa Sosial yang meliputi pengumpulan data mengenai kondisi masyarakat, pembacaan sejarah wilayah, identifikasi persoalan yang muncul, hingga pencarian akar penyebab berbagai persoalan sosial. Pendekatan tersebut diharapkan menolong peserta memiliki cara pandang yang kritis sekaligus penuh belas kasih dalam menjalankan karya misi Gereja.

Bagi peserta T-SoM, misi tidak berhenti pada pewartaan melalui kata-kata, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata yang membawa damai, kepedulian, penghargaan terhadap martabat manusia, dan pelayanan kepada sesama tanpa membedakan latar belakang agama maupun budaya.

Belajar Melayani Melalui Outing Sosial

Setelah menerima pengarahan, para peserta dibagi ke dalam sejumlah kelompok yang masing-masing didampingi oleh pastor, suster, maupun bruder. Setiap kelompok memperoleh lokasi pelayanan yang berbeda sehingga mereka dapat mengalami beragam bentuk karya sosial dan dialog kehidupan.

Beberapa kelompok melaksanakan aksi pelayanan di rumah-rumah ibadah. Di lokasi tersebut, peserta bersama pengurus setempat melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan, menyapu lantai, mengepel ruangan, membersihkan halaman, menata fasilitas ibadah, serta merawat taman agar tetap bersih dan nyaman digunakan oleh umat.

Melalui kegiatan tersebut para peserta belajar bahwa menjaga kebersihan rumah ibadah merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai religius sekaligus wujud kepedulian terhadap sesama.

Di Masjid At-Taubah, misalnya, peserta ikut membersihkan area ibadah, halaman, serta fasilitas pendukung lainnya. Pengalaman tersebut menjadi kesempatan berharga untuk mempererat semangat persaudaraan lintas iman sekaligus memperlihatkan bahwa pelayanan kepada sesama dapat dilakukan tanpa memandang perbedaan keyakinan.

Kelompok lain melaksanakan kegiatan di Gereja Katedral Paroki Santa Gemma Galgani. Selain bergotong royong membersihkan lingkungan gereja, peserta juga memperoleh penjelasan mengenai sejarah, makna arsitektur, dan simbol-simbol iman Katolik yang terdapat pada bangunan gereja.

Tidak sedikit peserta mengaku memperoleh wawasan baru mengenai makna setiap ornamen gereja yang selama ini mungkin belum mereka pahami secara mendalam. Pengalaman tersebut semakin memperkaya pemahaman mereka mengenai tradisi Gereja sekaligus memperkuat identitas sebagai kaum muda Katolik yang siap diutus menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat.

 

Outing Menjadi Sarana Belajar Menghargai Keberagaman

Semangat pelayanan yang dihidupi dalam Teens School of Mission (T-SoM) 2026 semakin diperkaya melalui kunjungan ke berbagai tempat ibadah dan pusat kebudayaan di Kabupaten Ketapang. Setiap kelompok memperoleh kesempatan mengalami secara langsung kehidupan masyarakat yang majemuk, sekaligus membangun relasi persaudaraan dengan berbagai komunitas.

Di GKKB (Gereja Kristen Kalimantan Barat) Sukaharja, para peserta disambut dengan hangat oleh pengurus gereja. Selain melaksanakan kerja bakti membersihkan lingkungan gereja, peserta berdialog mengenai pentingnya membangun kehidupan yang damai di tengah masyarakat yang beragam. Pertemuan tersebut menjadi pengalaman berharga bahwa semangat persaudaraan dapat tumbuh melalui kerja sama dan saling menghormati.

Kelompok lainnya mengunjungi Pure Lila Kertha Bhuana. Di tempat ibadah umat Hindu tersebut, peserta memperoleh penjelasan mengenai tata ruang pura, fungsi setiap pelinggih, serta nilai-nilai spiritual yang dijunjung tinggi oleh umat Hindu. Setelah itu, mereka bersama-sama membersihkan halaman dan lingkungan sekitar pura sebagai bentuk penghormatan terhadap tempat suci sekaligus mempererat hubungan antarumat beragama.

Di Klenteng Tua Pek Kong, peserta dikenalkan pada sejarah perkembangan masyarakat Tionghoa di Ketapang beserta filosofi ornamen yang menghiasi bangunan klenteng. Bersama pengurus klenteng, mereka melakukan aksi kebersihan dengan menyapu halaman, membersihkan area luar, serta merapikan lingkungan sekitar sesuai arahan pengelola. Pengalaman tersebut mengajarkan pentingnya menghargai warisan budaya dan tradisi yang telah tumbuh selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Kegiatan serupa juga berlangsung di Vihara Dhammamangala dan Vihara Sila Maitreyawira. Para peserta diajak memahami nilai-nilai kedamaian, pengendalian diri, dan kehidupan harmonis yang diajarkan dalam tradisi Buddha. Setelah sesi pengenalan sejarah dan arsitektur vihara, seluruh peserta bergotong royong membersihkan halaman, taman, serta fasilitas umum yang ada di lingkungan vihara.

Kunjungan lintas agama tersebut tidak dimaksudkan sebagai kegiatan seremonial semata. Sebaliknya, para peserta diajak mengalami secara nyata bahwa toleransi lahir melalui perjumpaan, dialog, dan kerja sama dalam membangun kehidupan bersama.

Mengenal Budaya Lokal sebagai Bagian dari Misi Gereja

Selain mengunjungi rumah-rumah ibadah, peserta juga belajar mencintai budaya lokal melalui kunjungan ke Rumah Adat Hulu Sungai. Mereka diperkenalkan pada arsitektur rumah adat Dayak, fungsi ruang bersama atau ruai, serta nilai gotong royong yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat adat.

Peserta juga mengikuti praktik sederhana menganyam serta mengenal alat musik tradisional sebagai bagian dari pelestarian budaya. Bersama masyarakat setempat, mereka melakukan kegiatan membersihkan halaman dan area rumah adat sehingga tercipta suasana yang bersih dan nyaman.

Di Rumah Batik Pelangi, peserta memperoleh pengalaman baru mengenai proses pembuatan batik, mulai dari menggambar motif, mencanting malam, hingga proses pewarnaan. Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak menghargai hasil karya para perajin sekaligus memahami bahwa kebudayaan merupakan kekayaan bangsa yang patut dilestarikan.

Tidak sedikit peserta yang berhasil menyelesaikan karya batik sederhana sebagai kenang-kenangan atas pengalaman belajar mereka selama mengikuti kegiatan outing.

Kepedulian terhadap Sesama dan Lingkungan

Semangat pelayanan juga diwujudkan melalui kunjungan ke Wisma Muder Vincentia, panti jompo yang dikelola para suster. Di tempat ini peserta tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga menyapa, mendengarkan cerita para lanjut usia, bernyanyi bersama, serta menghadirkan suasana penuh sukacita.

Bagi banyak peserta, pengalaman tersebut menjadi momen yang menyentuh hati. Mereka belajar bahwa perhatian sederhana, senyuman, dan kesediaan mendengarkan merupakan bentuk kasih yang sangat berarti bagi para lansia.

Kelompok lain mengunjungi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) yang bergerak di bidang konservasi orangutan, kukang, dan pelestarian habitat satwa liar. Para peserta memperoleh penjelasan mengenai pentingnya menjaga keseimbangan alam, melindungi keanekaragaman hayati, serta membangun kesadaran ekologis sejak usia muda.

Nilai-nilai tersebut selaras dengan ajaran Gereja mengenai tanggung jawab manusia dalam merawat ciptaan Tuhan. Kepedulian terhadap lingkungan dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari panggilan misioner setiap orang beriman.

Sementara itu, kelompok yang mengunjungi Seminari Santo Laurensius memperoleh kesempatan mengenal kehidupan calon imam. Mereka diperkenalkan pada ritme hidup seminari, pembinaan rohani, pendidikan, serta panggilan untuk melayani Gereja. Kunjungan tersebut memberi inspirasi bagi peserta untuk semakin terbuka mendengarkan panggilan Tuhan dalam kehidupan masing-masing.

Presentasi Menjadi Ruang Refleksi Bersama

Setelah seluruh rangkaian outing selesai dilaksanakan, setiap kelompok kembali berkumpul untuk mempresentasikan hasil pengalaman mereka. Presentasi dilakukan secara kreatif melalui pemaparan lisan, dokumentasi foto, hingga video singkat yang memperlihatkan aktivitas selama berada di lokasi pelayanan.

Setiap kelompok menjelaskan kondisi tempat yang dikunjungi, kegiatan yang dilaksanakan, pelajaran yang diperoleh, serta refleksi pribadi mengenai makna pelayanan di tengah masyarakat.

Kelompok yang bertugas di Gereja Katedral Paroki Santa Gemma Galgani membagikan pengalaman mereka setelah memperoleh penjelasan dari Romo Sutadi mengenai makna ukiran dan simbol-simbol yang menghiasi gereja katedral. Penjelasan tersebut membantu peserta memahami bahwa setiap ornamen liturgis memiliki pesan iman yang mendalam dan menjadi sarana pewartaan Injil melalui seni.

Melalui sesi presentasi, seluruh peserta dapat saling belajar dari pengalaman kelompok lain. Mereka menyadari bahwa setiap lokasi memiliki kekhasan tersendiri, namun semuanya mengajarkan nilai yang sama, yaitu penghormatan terhadap martabat manusia, kepedulian terhadap lingkungan, cinta akan budaya, dan semangat persaudaraan.

Kegiatan Teens School of Mission 2026 akhirnya menjadi pengalaman pembinaan yang utuh. Para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai karya misi Gereja, tetapi juga mengalami secara langsung bagaimana Injil diwujudkan melalui pelayanan, dialog, kerja sama, dan aksi nyata di tengah masyarakat yang majemuk.

Semangat yang ditanamkan selama empat hari pelaksanaan kegiatan diharapkan terus bertumbuh ketika para peserta kembali ke keuskupan dan paroki masing-masing. Dengan bekal iman, kepekaan sosial, dan semangat misioner yang telah diperdalam selama T-SoM 2026, mereka diharapkan menjadi generasi muda Katolik yang siap menjadi saksi Kristus, membangun persaudaraan, merawat ciptaan, serta menghadirkan kasih Allah di mana pun mereka diutus.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 18 Juli 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar