Fr. Andreas Pisin, CP: Ketaatan Adalah Jalan Menemukan Rencana Tuhan dan Melayani Gereja dengan Sukacita

Foto  Fr. Andreas Pisin, CP

Ketapang, 19 Juli 2026.Semangat panggilan hidup bakti dan pelayanan kepada Gereja menjadi tema utama dalam wawancara yang dilakukan Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang bersama Fr. Andreas Pisin, CP. Wawancara berlangsung seusai Perayaan Ekaristi Minggu pada Minggu, 19 Juli 2026, bertempat di Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, mulai pukul 08.40 WIB.

Percakapan yang berlangsung hangat tersebut memberikan kesempatan kepada umat untuk mengenal lebih dekat perjalanan panggilan Fr. Andreas Pisin, CP yang saat ini sedang menjalani masa pra-diakonat. Dengan penuh keterbukaan, beliau membagikan pengalaman batin ketika menerima penugasan, makna ketaatan dalam kehidupan religius, serta pesan bagi kaum muda agar berani menjawab panggilan Tuhan.

Tim Komsos membuka wawancara dengan menanyakan perasaan Fr. Andreas Pisin, CP ketika mendapat kesempatan menjalani masa pra-diakonat sekaligus diutus untuk melayani di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Fr. Andreas Pisin, CP mengaku bahwa pada awalnya dirinya diliputi rasa heran dan banyak bertanya ketika menerima Surat Keputusan penugasan dari pimpinan kongregasi.

"Saat pertama kali menerima Surat Keputusan penugasan ke Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, saya benar-benar bertanya-tanya. Sebagai anggota Kongregasi Pasionis, sangat jarang kami ditempatkan untuk melayani di daerah asal sendiri. Awalnya saya memperkirakan akan diutus ke wilayah seperti Sekadau, Sanggau, atau Kapuas Hulu. Saya bahkan berpikir mungkin rekan-rekan dari Flores atau Sekadau yang akan bertugas di Ketapang sebagai bagian dari rolling atau pertukaran penugasan," ungkapnya.

Perasaan tersebut membuatnya merenungkan alasan di balik keputusan para pemimpin kongregasi. Namun, sebagai seorang religius, ia menyadari bahwa setiap penugasan tidak pernah diberikan tanpa pertimbangan yang matang.

"Di dalam kongregasi kami hidup berdasarkan tiga kaul, yaitu ketaatan, kemurnian, dan kemiskinan. Apa yang diputuskan oleh atasan harus saya terima dan jalani dengan iman. Saya percaya bahwa melalui keputusan pimpinan, Tuhan sendiri sedang menunjukkan kehendak-Nya. Setelah saya memahami makna penugasan ini, saya menyimpulkan bahwa semuanya merupakan rencana Tuhan. Karena itu saya bersyukur dan ingin menjalaninya dengan penuh sukacita," katanya.

Dalam wawancara tersebut, Fr. Andreas Pisin, CP juga menjelaskan bahwa sebagai anggota Kongregasi Pasionis (Congregatio Passionis Jesu Christi/CP), setiap religius mengikrarkan tiga kaul, yakni ketaatan, kemurnian, dan kemiskinan. Ketiga kaul ini bukan sekadar aturan hidup membiara, tetapi merupakan komitmen rohani untuk mengikuti Yesus Kristus secara lebih sempurna menurut spiritualitas Santo Paulus dari Salib, pendiri Kongregasi Pasionis.

Kaul Ketaatan merupakan penyerahan diri secara sukarela kepada kehendak Allah dengan menaati konstitusi tarekat dan keputusan para pemimpin yang dipercaya Gereja. Bagi seorang Pasionis, ketaatan menjadi cara meneladani Yesus Kristus yang taat kepada Bapa hingga wafat di kayu salib demi keselamatan umat manusia. Karena itu, setiap penugasan yang diterima dipandang sebagai bagian dari penyelenggaraan Allah yang harus dijalani dengan iman, kerendahan hati, dan sukacita.

Kaul Kemurnian merupakan pengabdian hati yang utuh dan tidak terbagi kepada Tuhan. Para anggota Kongregasi Pasionis secara bebas melepaskan hak untuk hidup berkeluarga agar dapat mempersembahkan seluruh hidup mereka bagi pelayanan kepada Allah dan sesama. Dalam spiritualitas Pasionis, kemurnian menjadi ungkapan kasih yang total kepada Kristus, terutama dengan menghadirkan cinta kasih bagi mereka yang menderita atau disebut sebagai "kaum tersalib" di dunia.

Sementara itu, Kaul Kemiskinan merupakan panggilan untuk melepaskan keterikatan pada harta benda dan kekayaan duniawi. Melalui kaul ini, para Pasionis belajar mengandalkan sepenuhnya Penyelenggaraan Ilahi dan menjalani hidup dalam kesederhanaan. Semangat tersebut meneladani Yesus Kristus yang hidup miskin, sederhana, dan rela menderita demi melaksanakan kehendak Bapa. Dengan demikian, hidup religius menjadi kesaksian bahwa kekayaan sejati bukan terletak pada materi, melainkan pada kasih kepada Allah dan pelayanan kepada sesama.

Bagi Fr. Andreas Pisin, CP, penghayatan ketiga kaul tersebut menjadi fondasi utama dalam menjalani masa pembinaan maupun setiap penugasan yang dipercayakan kepadanya. Ia meyakini bahwa ketika seorang religius hidup setia dalam ketaatan, kemurnian, dan kemiskinan, ia sedang membuka dirinya untuk dibentuk oleh Tuhan menjadi pelayan yang rendah hati, setia, dan siap diutus ke mana pun demi pewartaan Injil.

Dalam kesempatan itu, Tim Komsos juga menanyakan makna masa pra-diakonat yang sedang dijalani. Masa pra-diakonat merupakan tahap penting dalam perjalanan menuju tahbisan diakon sebelum akhirnya menerima tahbisan imam.

Menurut Fr. Andreas Pisin, CP, pelajaran terbesar yang sedang ia hayati adalah belajar taat kepada Tuhan melalui keputusan para pemimpin kongregasi.

"Bagi saya, yang paling bermakna adalah belajar taat. Apa pun yang diperintahkan kepada kita harus diterima dengan keyakinan bahwa atasan tentu sudah mengetahui di mana kelebihan, kekurangan, kemampuan, dan potensi yang kita miliki. Mereka tidak mungkin mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang matang," ujarnya.

Ia mengakui bahwa secara manusiawi muncul banyak pertanyaan ketika mengetahui dirinya ditempatkan di sebuah paroki yang berada di kota.

"Awalnya saya sempat berpikir, mengapa saya ditempatkan di kota seperti ini yang memiliki banyak tantangan pelayanan. Namun saya kembali menyadari bahwa pimpinan tentu telah mempertimbangkan semuanya. Mereka tidak mungkin mengambil keputusan secara sembarangan. Karena itu, yang harus saya lakukan adalah belajar taat dan percaya bahwa Tuhan sedang berkarya melalui penugasan tersebut," tuturnya.

Baginya, ketaatan bukanlah beban, melainkan jalan untuk menemukan kehendak Allah. Ketika seorang religius bersedia membuka hati terhadap setiap penugasan, di situlah Tuhan membentuk pribadi yang semakin dewasa dalam iman dan pelayanan.

Fr. Andreas Pisin, CP juga mengatakan bahwa masa pembinaan mengajarkan dirinya untuk tidak hanya mengandalkan perasaan pribadi. Seorang calon pelayan Gereja harus belajar mendengarkan, percaya, dan melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab.

"Kalau hanya mengikuti perasaan sendiri, tentu akan muncul banyak pertanyaan dan keraguan. Tetapi ketika kita percaya kepada Tuhan dan kepada proses pembinaan yang diberikan kongregasi, kita akan menemukan damai dan sukacita dalam menjalani tugas," tambahnya.

Pada bagian akhir wawancara, Tim Komsos meminta pesan khusus bagi umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, terutama kaum muda Katolik yang sedang mencari arah hidup dan panggilan mereka.

Dengan penuh semangat, Fr. Andreas Pisin, CP mengajak kaum muda untuk tidak takut menjawab panggilan Tuhan.

"Pesan saya kepada orang muda adalah jangan takut menjawab panggilan Tuhan. Menjawab panggilan Tuhan bukan berarti semua harus menjadi pastor, suster, atau bruder. Yang paling utama adalah setia menjalankan kehidupan iman dan kewajiban sebagai orang Katolik. Itulah dasar dari setiap panggilan," katanya.

Sebagai seorang biarawan, ia mengajak kaum muda untuk membuka hati apabila Tuhan memanggil mereka menjadi imam, suster, atau bruder. Namun, ia menegaskan bahwa setiap orang memiliki panggilan yang berbeda-beda sesuai dengan kehendak Allah.

"Tuhan memanggil setiap orang dengan cara yang berbeda. Yang penting jangan takut. Tuhan yang memanggil juga akan memberikan kekuatan dan kemampuan kepada kita untuk menjalaninya," ujarnya.

Fr. Andreas Pisin, CP juga membagikan pengalaman pribadinya selama menjalani kehidupan religius.

"Saya menjadi seorang biarawan bukan karena mendengar Tuhan berbicara langsung di telinga saya. Saya percaya Tuhan memanggil melalui berbagai peristiwa hidup, melalui Gereja, melalui pembinaan, dan melalui dorongan hati yang terus bertumbuh. Memang ada tantangan, tetapi saya percaya Tuhan yang memanggil juga akan memampukan kita," ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa kesetiaan merupakan kunci utama dalam menjalani setiap panggilan hidup. Tantangan pasti akan selalu ada, tetapi kasih karunia Tuhan akan selalu menyertai mereka yang tetap setia.

Secara khusus, Fr. Andreas Pisin, CP mengajak kaum muda untuk aktif dalam kehidupan menggereja. Menurutnya, keterlibatan sejak usia muda akan menjadi bekal yang sangat berharga bagi masa depan Gereja.

"Orang tua kita dahulu juga pernah menjadi orang muda. Mereka aktif dalam kehidupan Gereja melalui SEKAMI, Orang Muda Katolik (OMK), koor, maupun berbagai pelayanan lainnya. Dari pengalaman itulah iman mereka bertumbuh," jelasnya.

Ia menilai bahwa masa depan Gereja sangat bergantung pada kualitas generasi muda yang ada saat ini. Karena itu, kaum muda perlu membangun semangat persatuan, pelayanan, dan tanggung jawab bersama.

"Seperti apa Gereja ke depan sangat bergantung pada generasi muda yang sekarang berkarya. Kalau kita mau bekerja sama, bersatu, dan aktif melayani, saya yakin Gereja akan semakin maju. Tugas kita bersama adalah menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia," tegasnya.

Pesan tersebut mendapat sambutan positif dari umat yang mengikuti wawancara. Banyak di antara mereka merasa terinspirasi oleh kesaksian hidup Fr. Andreas Pisin, CP yang mengajarkan pentingnya percaya kepada penyelenggaraan Tuhan melalui setiap proses kehidupan.

Melalui wawancara ini, Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang berharap umat semakin memahami bahwa setiap panggilan, baik sebagai imam, biarawan, maupun umat awam, memiliki nilai yang sama mulianya apabila dijalani dengan penuh iman dan kesetiaan.

Kesaksian Fr. Andreas Pisin, CP juga menjadi pengingat bahwa panggilan bukanlah tentang mencari kenyamanan atau tempat yang diinginkan, melainkan kesiapsediaan untuk diutus ke mana pun Tuhan menghendaki. Dalam semangat Kongregasi Pasionis, tiga kaul religius ketaatan, kemurnian, dan kemiskinan menjadi fondasi hidup yang menuntun setiap anggotanya untuk semakin menyerupai Kristus yang taat, murni, miskin, dan rela menderita demi keselamatan manusia.

Wawancara tersebut sekaligus menjadi motivasi bagi seluruh umat, khususnya generasi muda, agar terus aktif dalam kehidupan menggereja, berani membuka hati terhadap panggilan Tuhan, serta senantiasa percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka yang dengan tulus menyerahkan hidup untuk melayani-Nya. Dengan semangat persatuan, kesetiaan, dan pengabdian, Gereja akan terus bertumbuh menjadi komunitas yang menghadirkan kasih Kristus di tengah masyarakat.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 19 Juli 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar