Membuka Teens School of Mission (T-SoM) 2026
Ketapang, 18 Juli 2026.Suasana sukacita dan semangat misioner semakin
terasa setelah Perayaan Ekaristi Pembukaan Teens School of Mission (T-SoM)
2026 atau Sekolah Misi Remaja di Paroki Santo Agustinus
Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, Kamis (9/7/2026). Rangkaian pembukaan
dilanjutkan dengan sambutan dari Direktur Diosesan (Dirdios) Karya Misi
Kepausan Indonesia (KMKI) Keuskupan Ketapang, RP. Rovinus Longa, CP, serta
sambutan Uskup Keuskupan Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi, yang secara
resmi membuka kegiatan melalui pemukulan gong sebanyak tujuh kali.
Pemukulan gong tersebut menjadi simbol dimulainya secara resmi seluruh rangkaian pembinaan Teens School of Mission yang akan berlangsung selama empat hari, mulai 9 hingga 12 Juli 2026. Sebanyak 183 peserta, didampingi para pendamping, pastor, suster, bruder, dan panitia dari berbagai keuskupan di Provinsi Gerejani Kalimantan Barat, mengikuti kegiatan yang mengusung semboyan "One in Christ, United in Mission".
Dalam sambutannya, RP. Rovinus Longa, CP menyampaikan ucapan
selamat datang kepada seluruh tamu, peserta, dan para pendamping yang hadir di
Keuskupan Ketapang. Ia secara khusus menyampaikan penghormatan kepada Yang
Mulia Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Keuskupan Ketapang, RP. Vitalis
Nggeal, CP, Pastor Kepala Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, RP. Alfonsus
Widhiwiryawan, SX, Direktur Nasional Karya Misi Kepausan Indonesia, RP.
Petrus Maman Suparman, OSC, Direktur Diosesan KMKI Keuskupan Bandung, RD.
Ferdinandus Paulus Niki Towary, Direktur Diosesan KMKI Keuskupan
Makassar, RD. Zurich Arian Withosha, Sekretaris KMKI Keuskupan
Ketapang, RD. GM Lastsendy Pamungkas Winarta, RP. FX. Oscar Aris
Sudarmadi, CP, RP. Atanasius Agu, CP, RP. Dominikus Maxi Bulu, CSsR,
para suster, bruder, panitia, pendamping, serta seluruh peserta Teens School of
Mission.
Dalam kesempatan tersebut, RP. Rovinus Longa, CP menegaskan bahwa Teens
School of Mission bukanlah sebuah selebrasi atau kegiatan seremonial semata,
melainkan sebuah proses pembinaan iman yang berkelanjutan bagi remaja Katolik.
Menurutnya, T-SoM dirancang sebagai sekolah misi yang membantu kaum muda
bertumbuh dalam iman, memperdalam spiritualitas, membangun karakter
kepemimpinan Kristiani, serta mempersiapkan mereka menjadi saksi Kristus di
tengah kehidupan sehari-hari.
"T-SoM bukan sekadar kegiatan beberapa hari. Ini adalah sebuah proses
pembinaan yang berkelanjutan. Apa yang dipelajari selama kegiatan ini
diharapkan terus hidup ketika para peserta kembali ke keluarga, sekolah,
lingkungan, dan paroki masing-masing," ungkapnya.
Beliau juga menyampaikan rasa syukur atas dukungan berbagai pihak yang
memungkinkan terselenggaranya kegiatan tersebut.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Mgr. Pius Riana Prapdi atas
dukungan penuh terhadap karya misioner anak dan remaja di Keuskupan Ketapang.
Apresiasi juga diberikan kepada RP. Vitalis Nggeal, CP selaku Pastor
Kepala Paroki Santo Agustinus Paya Kumang beserta seluruh umat paroki yang
telah menjadi tuan rumah dengan penuh keramahan.
Tidak lupa, beliau mengucapkan terima kasih kepada umat Paroki Santa
Gemma Galgani Katedral Ketapang, panitia, para pendamping, seluruh keluarga
besar KMKI Keuskupan Agung Pontianak, serta semua pihak yang telah memberikan
tenaga, waktu, doa, dan dukungan demi terselenggaranya Teens School of Mission
2026.
Dalam sambutannya, RP. Rovinus Longa juga memperkenalkan tamu-tamu dari
tingkat nasional dan keuskupan lain yang hadir mendampingi kegiatan, di
antaranya RP. Alfonsus Widhiwiryawan, SX, selaku Direktur Nasional Karya
Misi Kepausan Indonesia yang berada di bawah naungan Konferensi Waligereja
Indonesia (KWI).
Beliau menjelaskan bahwa kehadiran Direktur Nasional KMKI merupakan bentuk
perhatian Gereja Indonesia terhadap pembinaan generasi muda sebagai masa depan
Gereja yang misioner.
Turut hadir pula RP. Petrus Maman Suparman, OSC, Direktur Diosesan
KMKI Keuskupan Bandung, dan RD. Ferdinandus Paulus Niki Towary, Direktur
Diosesan KMKI Keuskupan Makassar, yang berbagi pengalaman pelayanan misioner
dari keuskupan masing-masing.
Selain itu hadir pula Ersa Marshanda, Staf Sekretariat Nasional
(Setnas) Karya Misi Kepausan Indonesia, yang turut mendampingi jalannya
kegiatan sekaligus mempersiapkan berbagai agenda nasional KMKI, termasuk Jambore
Nasional KMKI di Makassar.
RP. Rovinus Longa mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan kesempatan
emas ini sebagai ruang belajar, membangun persaudaraan, dan memperluas wawasan
tentang Gereja yang universal.
"Saya mengajak seluruh peserta untuk berdinamika bersama. Gunakan
kesempatan ini untuk saling mengenal, saling belajar, saling menguatkan, dan
membangun persaudaraan lintas keuskupan. Salam Misioner!" serunya yang
disambut tepuk tangan meriah.
Setelah sambutan Direktur Diosesan KMKI Keuskupan Ketapang, acara
dilanjutkan dengan sambutan sekaligus pembukaan resmi oleh Mgr. Pius Riana
Prapdi.
Dalam arahannya, Bapa Uskup kembali menegaskan pesan homili yang telah
disampaikan sebelumnya mengenai pentingnya menjadi pribadi "JOSSS",
yaitu Jadi Orang Sukacita, Suci, dan Smart.
Menurut beliau, pesan sederhana tersebut merupakan pegangan hidup yang
sangat relevan bagi kaum muda Katolik dalam menghadapi berbagai tantangan
zaman.
"Saya berharap semua yang hadir di sini menjadi misionaris yang JOSSS.
Jadilah orang yang penuh sukacita, hidup dalam kekudusan, dan memiliki
kecerdasan yang berasal dari Tuhan," ujar Bapa Uskup.
Beliau juga mengajak seluruh peserta menghayati tiga pengalaman penting
selama mengikuti Teens School of Mission, yang dirangkumnya dalam tiga M,
yaitu Melihat, Merasakan, dan Mendengarkan.
Yang pertama adalah Melihat.
Menurut beliau, peserta diajak belajar melihat Allah yang bekerja melalui
sesama.
"Kalian akan melihat Allah melalui teman-teman kalian, melalui para
pastor, para pembimbing, para pemateri, dan setiap orang yang hadir di
sini."
Yang kedua adalah Merasakan.
Selama kegiatan berlangsung, peserta diajak merasakan kasih Tuhan melalui
kebersamaan, pelayanan, doa, dan pengalaman hidup bersama sebagai satu keluarga
besar Gereja.
"Kalian akan merasakan bahwa Tuhan hadir dalam persaudaraan yang
dibangun selama kegiatan ini."
Yang ketiga adalah Mendengarkan.
Bapa Uskup mengajak para peserta untuk lebih banyak mendengarkan daripada
berbicara.
"Mengapa Tuhan memberi kita dua telinga tetapi hanya satu mulut?
Karena kita harus lebih banyak mendengarkan. Dengarkan Tuhan melalui Sabda-Nya,
melalui para pemateri, melalui orang tua, para pastor, para pendamping, dan
setiap nasihat yang membangun hidup kita."
Beliau menjelaskan bahwa selama kegiatan para peserta akan memperoleh
berbagai materi pembinaan yang dipandu oleh para narasumber, di antaranya RP.
Alfonsus Widhiwiryawan, SX, RP. Petrus Maman Suparman, OSC, dan RD.
Ferdinandus Paulus Niki Towary, yang akan mengajak peserta melakukan refleksi,
pendalaman iman, dan penguatan semangat misioner.
Bapa Uskup juga menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta
yang berasal dari Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Sanggau, Keuskupan
Sintang, serta berbagai paroki di Keuskupan Ketapang.
"Kalian datang dari berbagai daerah, tetapi kita dipersatukan dalam
Kristus. Semoga selama berada di Keuskupan Ketapang kalian merasakan sukacita
sebagai satu keluarga Allah."
Sebagai tanda dimulainya seluruh rangkaian kegiatan, Mgr. Pius Riana Prapdi
kemudian memukul gong sebanyak tujuh kali yang disambut tepuk tangan
meriah seluruh peserta, imam, biarawan-biarawati, panitia, dan umat yang hadir.
Pemukulan gong tersebut menjadi simbol dimulainya proses pembinaan yang
diharapkan melahirkan generasi muda Katolik yang semakin mencintai Kristus dan
Gereja.
Tema besar T-SoM 2026, "Remaja Katolik Misioner Hidup dalam
Kristus, Mewartakan Sukacita Injil dengan Doa, Derma, Kurban, dan Kesaksian
dalam Kebhinekaan," menjadi landasan seluruh rangkaian kegiatan.
Melalui tema tersebut, peserta diajak menghidupi empat pilar utama karya
misioner anak dan remaja, yaitu Doa, sebagai dasar kehidupan rohani; Derma,
sebagai wujud kepedulian kepada sesama; Kurban, sebagai keberanian
berkorban demi kasih; dan Kesaksian, sebagai panggilan menghadirkan
Kristus di tengah masyarakat yang beragam.
Harapan Gereja melalui Teens School of Mission sangatlah besar. Seluruh
peserta diharapkan kembali ke keluarga, sekolah, lingkungan, dan paroki
masing-masing sebagai pewarta Injil yang hidup. Mereka diharapkan menjadi
penggerak Orang Muda Katolik, mencintai Ekaristi, membangun budaya doa, aktif
dalam pelayanan Gereja, serta berani memberikan kesaksian iman di tengah
tantangan zaman.
Semangat "One in Christ, United in Mission" diharapkan
tidak berhenti ketika kegiatan selesai, melainkan terus hidup dalam setiap
langkah para peserta. Persaudaraan yang terjalin selama T-SoM diharapkan
menjadi awal terbentuknya jaringan remaja Katolik yang saling mendukung dalam
karya misi Gereja di berbagai keuskupan.
Dengan pembukaan resmi tersebut, seluruh peserta kini memasuki rangkaian
pembinaan yang akan berlangsung selama beberapa hari ke depan. Kiranya melalui
Teens School of Mission 2026 lahir generasi muda Katolik yang semakin berakar
dalam Kristus, mencintai Gereja, setia pada Ekaristi, serta siap menjadi
misionaris muda yang membawa sukacita Injil melalui doa, derma, kurban, dan
kesaksian hidup di tengah keberagaman Indonesia.
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 18 Juli 2026
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
0 comments:
Posting Komentar