Ketapang, 18 Juli 2026.Suasana penuh sukacita, semangat persaudaraan,
dan antusiasme mewarnai hari kedua pelaksanaan Teens School of Mission
(T-SoM) 2026 atau Sekolah Misi Remaja yang berlangsung di Gedung
Pertemuan Pastor Jerun Stoop, CP, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan
Ketapang, Jumat (10/7/2026). Setelah mengikuti Perayaan Ekaristi pagi, sebanyak
183 peserta melanjutkan rangkaian pembinaan melalui berbagai permainan
edukatif, dinamika kelompok, dan aktivitas misioner yang dipandu oleh RP.
Petrus Maman Suparman, OSC, Direktur Diosesan Karya Misi Kepausan Indonesia
(KMKI) Keuskupan Bandung, bersama Tim Karya Misi Kepausan Indonesia (KMKI).
Kegiatan yang berlangsung sejak 9 hingga 12 Juli 2026 ini tidak hanya menghadirkan materi di dalam ruangan, tetapi juga menggabungkan pembelajaran melalui permainan (learning by doing). Metode tersebut dipilih agar para remaja dapat mengalami secara langsung nilai-nilai kerja sama, kepemimpinan, komunikasi, pelayanan, serta semangat misioner yang menjadi tujuan utama penyelenggaraan Teens School of Mission.
Sejak pagi, aula dipenuhi gelak tawa para peserta. Mereka dibagi ke
dalam beberapa kelompok yang terdiri atas peserta dari berbagai keuskupan
sehingga setiap orang memiliki kesempatan untuk saling mengenal, bekerja sama,
dan membangun persaudaraan lintas budaya serta daerah asal. Dinamika ini
menjadi salah satu cara efektif untuk mewujudkan semboyan T-SoM tahun
2026, "One in Christ, United in Mission" atau "Satu
dalam Kristus, Bersatu dalam Misi."
Dalam pengantarnya, RP. Petrus Maman Suparman, OSC menjelaskan bahwa
pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui ceramah atau diskusi, tetapi juga
melalui pengalaman nyata. Menurut beliau, permainan yang diberikan bukan
sekadar hiburan, melainkan sarana pembentukan karakter yang mengajarkan peserta
tentang arti kebersamaan, kepercayaan, kepemimpinan, dan pelayanan.
Berbagai permainan kelompok disiapkan dengan tujuan membangun kekompakan
peserta. Ada permainan bola estafet, permainan kerja sama menyelesaikan
tantangan kelompok, permainan komunikasi tanpa kata, hingga aktivitas yang
menguji strategi, kreativitas, dan kemampuan mengambil keputusan bersama. Dalam
setiap permainan, peserta diajak saling mendukung, menghargai perbedaan, serta
belajar menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.
Sorak sorai dan tawa terdengar hampir di setiap sudut ruangan. Meskipun
berlangsung dalam suasana santai dan penuh kegembiraan, setiap permainan selalu
diakhiri dengan refleksi bersama. Para fasilitator mengajak peserta menemukan nilai-nilai Kristiani yang
terkandung di balik setiap aktivitas.
RP. Petrus menegaskan bahwa Gereja memerlukan generasi muda yang mampu
bekerja sama. Menjadi misioner tidak dapat dilakukan seorang diri, melainkan
membutuhkan semangat persaudaraan dan kesediaan berjalan bersama sebagai satu
keluarga Allah.
"Kalian datang dari berbagai keuskupan, budaya, dan latar belakang
yang berbeda. Namun di dalam Kristus kita menjadi satu keluarga. Itulah
semangat misioner yang ingin dibangun dalam T-SoM."
Selain permainan bola dan dinamika kelompok, peserta juga mengikuti
berbagai aktivitas pada pos-pos pembelajaran yang telah dipersiapkan panitia.
Setiap pos memiliki tema yang berbeda, namun semuanya mengarah pada pembentukan
karakter remaja Katolik yang tangguh, peduli, kreatif, serta siap diutus
menjadi pewarta Injil.
Melalui metode tersebut, peserta tidak hanya menerima materi secara
teoritis, tetapi juga mengalami sendiri bagaimana pentingnya komunikasi, saling
percaya, kerja sama, kepemimpinan, dan semangat melayani. Setiap kelompok
didorong untuk menemukan solusi bersama dalam menghadapi berbagai tantangan
yang diberikan.
Menurut RP. Petrus, permainan menjadi media pembelajaran yang sangat
efektif karena mampu melibatkan pikiran, emosi, dan tindakan peserta secara
bersamaan. Pengalaman yang diperoleh melalui permainan akan lebih mudah diingat
dan dihayati dibandingkan hanya mendengarkan penjelasan di dalam kelas.
Beliau juga mengingatkan bahwa dalam kehidupan menggereja, setiap orang
memiliki talenta yang berbeda. Ada yang pandai memimpin, ada yang mampu
menghibur, ada yang terampil mengatur kegiatan, ada pula yang memiliki
kemampuan berkomunikasi. Semua talenta tersebut merupakan anugerah Tuhan yang
harus digunakan untuk melayani Gereja dan sesama.
Di sela-sela kegiatan, para peserta tampak semakin akrab satu sama lain.
Mereka saling menyemangati ketika menghadapi tantangan permainan, berbagi
pengalaman, dan tertawa bersama. Suasana persaudaraan yang terbangun menjadi
salah satu kekuatan utama Teens School of Mission dalam membentuk jaringan
remaja Katolik lintas keuskupan yang saling mendukung dalam karya misi Gereja.
Bagi panitia, keberhasilan kegiatan bukan hanya diukur dari
terselesaikannya seluruh rangkaian acara, tetapi terutama dari tumbuhnya
semangat persaudaraan, kepedulian, dan keberanian para peserta untuk menjadi
saksi Kristus di lingkungan masing-masing setelah kegiatan berakhir.
Memasuki sesi berikutnya, RP. Petrus Maman Suparman, OSC mengajak seluruh
peserta untuk merefleksikan pengalaman yang mereka peroleh selama mengikuti
berbagai permainan dan dinamika kelompok. Menurut beliau, setiap aktivitas yang
dilakukan bukan sekadar permainan untuk mengisi waktu, melainkan sarana
pembelajaran yang membantu peserta memahami nilai-nilai Injil secara nyata
dalam kehidupan sehari-hari.
Beliau menjelaskan bahwa setiap permainan memiliki makna tersendiri.
Permainan bola, misalnya, mengajarkan pentingnya kerja sama, komunikasi, saling
percaya, dan kemampuan membaca situasi. Bola tidak akan mencapai tujuan apabila hanya dikuasai oleh satu orang.
Sebaliknya, kemenangan hanya dapat diraih ketika seluruh anggota tim mampu
bekerja sama dan saling mendukung.
"Begitu pula dalam kehidupan Gereja. Tidak ada seorang pun yang
mampu menjalankan misi sendirian. Kita dipanggil untuk saling melengkapi,
saling membantu, dan berjalan bersama sebagai satu tubuh Kristus," ujar
RP. Petrus.
Selain permainan bola, peserta juga mengikuti berbagai tantangan yang
menuntut mereka menyusun strategi, membangun komunikasi yang baik,
menyelesaikan masalah secara bersama-sama, serta belajar menghargai pendapat
setiap anggota kelompok. Melalui kegiatan tersebut, para peserta dilatih untuk
menjadi pribadi yang mampu bekerja dalam tim, menghormati perbedaan, dan
mengutamakan kepentingan bersama.
Dalam sesi refleksi, RP. Petrus menghubungkan seluruh pengalaman
tersebut dengan tema besar Teens School of Mission 2026, yaitu "One
in Christ, United in Mission". Menurut beliau, persatuan menjadi kekuatan utama dalam karya misi Gereja.
Remaja Katolik yang berasal dari berbagai daerah, budaya, suku, dan bahasa
dipersatukan oleh iman yang sama kepada Kristus.
Beliau mengingatkan bahwa Gereja adalah keluarga besar Allah yang
terdiri dari banyak anggota dengan talenta yang berbeda-beda. Perbedaan
tersebut bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang harus disyukuri. Setiap
orang memiliki kemampuan yang dapat dipersembahkan bagi perkembangan Gereja dan
pelayanan kepada sesama.
"Kita belajar bahwa setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Ketika kita saling melengkapi, maka pekerjaan yang berat pun menjadi lebih
ringan."
Suasana pembinaan semakin hidup ketika para peserta diminta membagikan
pengalaman mereka selama mengikuti permainan. Banyak peserta mengungkapkan
bahwa mereka belajar untuk lebih sabar, mendengarkan teman, berani menyampaikan
pendapat, serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan. Ada pula yang
mengaku baru pertama kali bekerja sama dengan teman dari keuskupan lain dan
merasakan indahnya persaudaraan dalam Gereja.
Menurut RP. Petrus, pengalaman-pengalaman sederhana tersebut merupakan
bagian dari proses pembentukan karakter seorang murid Kristus. Menjadi misioner
tidak dimulai dari hal-hal besar, tetapi dari kesediaan membangun relasi yang
baik, menghargai sesama, dan melayani dengan penuh kasih.
Beliau kemudian mengajak seluruh peserta untuk membawa semangat yang telah
dipelajari selama kegiatan ke dalam kehidupan sehari-hari. Di keluarga, mereka
dipanggil menjadi anak yang menghormati orang tua. Di sekolah, mereka
diharapkan menjadi pelajar yang jujur, disiplin, dan mampu menjadi teladan bagi
teman-temannya. Di lingkungan masyarakat, mereka dipanggil menjadi pembawa
damai, sementara di paroki mereka diajak untuk aktif mengambil bagian dalam
berbagai pelayanan Gereja.
RP. Petrus juga menegaskan bahwa masa remaja merupakan waktu yang sangat
penting untuk membangun karakter dan iman. Karena itu, kesempatan mengikuti
Teens School of Mission harus dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai sarana
memperdalam relasi dengan Kristus sekaligus mempersiapkan diri menjadi pemimpin
Gereja pada masa depan.
Seluruh rangkaian permainan dan dinamika kelompok berlangsung dalam suasana
penuh sukacita. Gelak tawa, sorak semangat, dan kebersamaan tampak menghiasi
setiap aktivitas. Namun di balik suasana yang menyenangkan tersebut, tersimpan
pesan mendalam tentang pentingnya persatuan, tanggung jawab, kepemimpinan,
komunikasi, pelayanan, dan semangat misioner.
Panitia KMKI berharap metode pembelajaran yang memadukan materi, refleksi,
dan permainan dapat membantu peserta lebih mudah memahami nilai-nilai Injil.
Pendekatan yang aktif dan partisipatif ini juga memberikan ruang bagi setiap
peserta untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan,
kreativitas, dan kerja sama.
Kegiatan Teens School of Mission 2026 yang berlangsung pada 9–12 Juli
2026 di Gedung Pertemuan Pastor Jerun Stoop, CP, Paroki Santo
Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang menjadi momentum penting dalam
membentuk generasi muda Katolik yang semakin mencintai Kristus dan Gereja.
Melalui berbagai materi pembinaan, permainan edukatif, dinamika kelompok,
refleksi, dan pengalaman hidup bersama, para peserta dipersiapkan menjadi
pribadi yang siap diutus sebagai pewarta Injil.
Menutup sesi pembinaan, RP. Petrus Maman Suparman, OSC mengajak seluruh
peserta untuk tidak berhenti menjadi misioner ketika kegiatan T-SoM selesai.
Semangat yang telah diperoleh selama beberapa hari pembinaan hendaknya terus
dihidupi dalam keluarga, sekolah, lingkungan, dan paroki masing-masing.
"Ketika kalian pulang nanti, bawalah sukacita Kristus. Jadilah remaja
Katolik yang berani melayani, peduli terhadap sesama, menjaga persaudaraan, dan
menjadi terang bagi dunia."
Dengan semangat "One in Christ, United in Mission", Teens School of Mission 2026 diharapkan melahirkan generasi muda Katolik yang semakin dewasa dalam iman, memiliki kepedulian sosial yang tinggi, mampu bekerja sama dalam keberagaman, serta siap menjadi saksi Kristus melalui doa, derma, kurban, dan kesaksian hidup. Dari Keuskupan Ketapang, semangat misioner itu diharapkan terus bertumbuh dan menyebar ke berbagai keuskupan di Indonesia melalui para remaja yang telah dibina menjadi murid-murid Kristus yang tangguh, penuh sukacita, dan siap diutus ke tengah dunia.
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 18 Juli 2026
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
0 comments:
Posting Komentar