DOA ROSARIO DAN KATEKESE BULAN LITURGI NASIONAL PERTEMUAN KE-4 DI LINGKUNGAN SANTA LUSIA: MENYELAMI MAKNA DOA GEREJA DAN SARANA LITURGI


Foto Bapak Daduanto

DOA ROSARIO DAN KATEKESE BULAN LITURGI NASIONAL PERTEMUAN KE-4 DI LINGKUNGAN SANTA LUSIA: MENYELAMI MAKNA DOA GEREJA DAN SARANA LITURGI

Ketapang, 27 Mei 2025.Dalam semangat perayaan Bulan Liturgi Nasional yang diselenggarakan sepanjang bulan Mei, umat Katolik Lingkungan Santa Lusia, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, kembali berkumpul dalam pertemuan keempat doa Rosario dan katekese. Pertemuan yang dilaksanakan pada Selasa malam, 27 Mei 2025 pukul 18.30 WIB ini berlangsung di kediaman Bapak Aluat, Jalan Gatot Subroto Gang Anggrek, dan dihadiri oleh umat setempat dengan penuh antusias.

Acara dibuka dengan doa Rosario yang dipimpin dengan penuh khidmat oleh Bapak Daduanto, seorang Prodiakon dari Paroki Santo Agustinus Paya Kumang. Lagu-lagu pujian yang dibawakan oleh Ibu Dina mengiringi suasana doa, memberikan nuansa yang semakin syahdu dan mendalam. Umat yang hadir dengan tekun mendaraskan doa-doa sambil merenungkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Yesus dan Bunda Maria.

Setelah doa Rosario, kegiatan dilanjutkan dengan katekese yang juga dipandu oleh Bapak Daduanto. Pada pertemuan keempat ini, topik yang diangkat adalah “Doa Gereja dan Sarana Liturgi”, suatu pembahasan yang sangat penting dalam memperdalam pemahaman umat akan kekayaan iman dan praktik liturgi Gereja Katolik.









DOA RESMI GEREJA

Dalam penjelasannya, Bapak Daduanto menekankan bahwa doa resmi Gereja Katolik merupakan doa-doa yang ditetapkan oleh Gereja untuk liturgi tertentu dan sangat dianjurkan untuk didoakan oleh semua umat beriman sebagai bentuk persekutuan dengan seluruh Gereja. Contoh dari doa resmi ini meliputi:

  • Doa Pengakuan Dosa

  • Doa Pembaptisan

  • Ibadat Harian (menggunakan Mazmur dan Kidung)

  • Doa Kolekta dalam Perayaan Ekaristi

  • Doa Requiem Aeternam (doa bagi arwah)

  • Doa Bapa Kami, Salam Maria, dan Kemuliaan

Selain doa-doa ini, umat juga diajak untuk menghidupi doa-doa harian dalam kehidupan pribadi dan keluarga, seperti doa pagi, malam, tobat, dan harapan.

SAKRAMEN-SAKRAMEN GEREJA

Katekese juga menjelaskan tujuh sakramen dalam Gereja Katolik, yang dibagi dalam tiga kategori:

  1. Sakramen Dasar: Baptis, Penguatan (Krisma), Ekaristi

  2. Sakramen Penyembuhan: Rekonsiliasi, Pengurapan Orang Sakit

  3. Sakramen Pertumbuhan: Tahbisan Suci, Pernikahan

Setiap sakramen merupakan tanda lahiriah dari rahmat Allah, yang ditetapkan oleh Kristus untuk menguduskan umat dan membangun Tubuh Kristus.

MINYAK SUCI DAN MISSA KRISMA

Disampaikan pula makna penting dari Misa Krisma yang diadakan setiap Kamis Putih, ketika Uskup memberkati tiga jenis minyak suci: Minyak Katekumen, Minyak Orang Sakit, dan Minyak Krisma. Minyak-minyak ini digunakan dalam pelaksanaan sakramen, melambangkan kekuatan, penyembuhan, dan penyertaan Allah dalam hidup umat.

SAKRAMENTALI DAN DEVOSI

Sesi katekese dilanjutkan dengan penjelasan tentang sakramentali dan devosi, dua bentuk kehidupan rohani yang mendalam dalam Gereja:

  • Sakramentali: Tanda suci yang ditetapkan oleh Gereja, seperti air suci, rosario, patung kudus, pemberkatan rumah dan barang rohani.

  • Devosi: Ungkapan kasih dan penghormatan umat kepada misteri ilahi atau kepada orang-orang kudus, seperti Doa Rosario, Jalan Salib, dan devosi kepada Bunda Maria atau Santo-Santa.

Benda-benda rohani seperti salib, skapulir, dan medali dianjurkan untuk diberkati terlebih dahulu sebelum digunakan, agar menjadi sarana rahmat dalam kehidupan umat.

PATUNG KUDUS DALAM TRADISI GEREJA

Bapak Daduanto juga menanggapi pertanyaan penting mengenai keberadaan patung kudus dalam Gereja Katolik. Patung tidak disembah, melainkan digunakan sebagai simbol untuk membantu umat mengarahkan pikirannya kepada Allah dan orang-orang kudus. Beliau mengutip beberapa referensi Alkitabiah, seperti perintah Allah kepada Musa untuk membuat patung kerub (Kel 25:18-20) dan patung ular tembaga (Bil 21:9).

Patung atau benda rohani yang sudah rusak pun tidak boleh dibuang sembarangan. Hendaknya dibakar dan dikuburkan di tempat yang layak atau diletakkan dalam sacrarium, sumur suci yang ada di kompleks gereja.  

PARTISIPASI UMAT LINGKUNGAN STA. LUSIA

Umat Lingkungan Santa Lusia menunjukkan semangat dan keterlibatan yang tinggi dalam kegiatan ini. Ibu Sutarti Rahayu selaku Ketua Lingkungan dan Ibu Klaudia Sri Pawanti sebagai Sekretaris Lingkungan turut mendampingi jalannya kegiatan hingga akhir. Selain itu, Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) St. Agustinus Paya Kumang, Bapak Jeno Leo, juga turut hadir dan memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan umat basis ini sebagai bagian dari pembinaan iman yang berkelanjutan.

Suasana kekeluargaan dan persaudaraan sangat terasa sepanjang acara, yang ditutup dengan ramah tamah sederhana dan makan malam bersama. Pertemuan keempat ini menjadi momen pembinaan iman yang sangat bermakna bagi umat Lingkungan Sta. Lusia, sekaligus memperkaya pemahaman akan kekayaan liturgi dan spiritualitas Katolik. Dengan kegiatan seperti ini, umat diajak untuk semakin mencintai kehidupan doa dan memahami simbol-simbol iman yang dihidupi dalam Gereja Katolik.

Untuk Dokumentasi Gereja dan Arsip Lingkungan Sta. Lusia

Penulis:Tim Komsos Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:  27  Mei 2025



About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar