"Mintalah, Carilah, Ketoklah: Merenungkan Doa Bapa Kami dalam Kehidupan Sehari-hari"
Ketapang.26 Juli 2025.Dalam suasana damai Sabtu sore Pukul 18.00 WIB, 26 Juli 2025, umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang mengikuti Perayaan Ekaristi Minggu Biasa XVII yang juga bertepatan dengan peringatan Hari Orangtua, Kakek dan Nenek Sedunia. Misa ini dipimpin oleh RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP., dengan pelayanan lektor oleh Saudari Agustina Rosa Marhen, pemazmur oleh Saudara Patriksius Milando, dirigen oleh Ibu Kresensia Nini, serta iringan musik liturgi oleh Saudari Margareta Nina. Koor Lingkungan Sta.Sisilia.
Dalam homilinya, RP. Oscar mengajak umat untuk merenungkan makna mendalam dari Injil Lukas 11:1–13, khususnya tentang Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus kepada murid-murid-Nya. Beliau menyoroti tiga inti permohonan dalam doa tersebut yang mengandung makna spiritual sangat kaya bagi kehidupan umat beriman:
1. Permohonan Akan Makanan Lambang Kehidupan Sehari-hari
“Yesus mengajarkan kita untuk berdoa: Berilah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya.” Permohonan ini mengajarkan bahwa Tuhan peduli terhadap kebutuhan dasar manusia. Makanan bukan hanya soal roti secara fisik, tetapi juga perlambang dari segala yang menopang kehidupan: pekerjaan, kesehatan, pendidikan, bahkan kedamaian batin.
Makanan juga melambangkan sikap hidup sederhana dan penuh syukur. Kita diajak untuk memohon secukupnya bukan berlebihan dan mempercayakan kebutuhan kita pada penyelenggaraan ilahi. Permohonan ini mendorong kita untuk tidak bersikap serakah, melainkan hidup dengan kesadaran bahwa setiap hari adalah anugerah, dan setiap rezeki adalah berkat yang layak dibagikan kepada sesama yang berkekurangan.
Dalam konteks sosial, permohonan ini menjadi pengingat akan tanggung jawab kita dalam menciptakan keadilan dan solidaritas, agar tidak ada orang yang kelaparan di tengah kelimpahan orang lain.
2. Permohonan Akan Pengampunan –Dasar Relasi dengan Allah dan Sesama
“Ampunilah dosa kami, sebab kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.” Permohonan ini menjadi inti dari relasi spiritual dan sosial umat Kristiani. Dalam doa ini, kita tidak hanya memohon belas kasih Tuhan atas segala kelemahan dan kegagalan kita, tetapi juga menyatakan komitmen untuk mengampuni sesama yang bersalah kepada kita.
Pengampunan adalah jalan menuju pembebasan. Tanpa mengampuni, kita terikat oleh dendam, sakit hati, dan luka masa lalu. Dengan mengampuni, kita membebaskan diri dan orang lain untuk mengalami kasih Allah secara utuh.
Permohonan ini juga menjadi penegasan bahwa relasi kita dengan Tuhan tidak bisa dipisahkan dari relasi dengan sesama. Bagaimana mungkin kita menerima pengampunan dari Tuhan, jika hati kita tertutup untuk memberi pengampunan kepada saudara kita?
3. Permohonan Dijauhkan dari Pencobaan Kerinduan Akan Hidup dalam Perlindungan Allah
“Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” Permohonan ini mengekspresikan kerinduan terdalam manusia untuk hidup dalam perlindungan, kekuatan, dan terang Allah. Pencobaan dalam hidup sering kali datang dalam berbagai bentuk: godaan untuk menyerah, keputusasaan, kemalasan rohani, atau bahkan godaan untuk memilih jalan yang salah.
Melalui doa ini, kita memohon agar diberi kekuatan untuk menghindari segala hal yang menjauhkan kita dari kasih Tuhan. Kita mengakui kelemahan kita sebagai manusia, dan berserah kepada kekuatan Allah agar mampu bertahan dalam iman, terutama saat menghadapi cobaan hidup yang berat.
Permohonan ini juga membentuk kesadaran bahwa kita memerlukan Roh Kudus untuk membimbing langkah kita, serta kerendahan hati untuk mengenali bahwa tanpa Allah, kita mudah jatuh.
Kesimpulan: Doa yang Menyentuh Hati Allah
RP. Oscar menutup homilinya dengan mengingatkan bahwa Doa Bapa Kami adalah doa yang padat namun penuh kuasa. Ia bukan sekadar hafalan, melainkan panggilan untuk membangun hubungan yang mendalam dan terus-menerus dengan Bapa di surga.
“Berdoalah tanpa henti. Mintalah dengan tulus, carilah dengan sungguh, dan ketuklah dengan iman. Allah yang baik pasti akan menjawab,” tegasnya.
Misa ini juga menjadi momen refleksi untuk menghormati dan mendoakan orangtua, kakek dan nenek, sebagai fondasi keluarga yang telah menanamkan iman dan nilai hidup kepada generasi penerus.
Dengan hati yang penuh syukur dan harapan, umat pun pulang membawa pesan kuat dari Injil hari ini: bahwa Allah selalu mendengar doa umat-Nya, dan bahwa dalam Doa Bapa Kami terkandung rahmat yang cukup untuk menuntun seluruh hidup kita.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 26 Juli 2025
0 comments:
Posting Komentar