Misa Hari Minggu Biasa XVII: Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Rayakan Hari Kakek-Nenek Sedunia dengan Semangat Doa dan Kasih
Ketapang, 27 Juli 2025.Umat Katolik Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, merayakan Hari Minggu Biasa XVII dengan khidmat dalam Perayaan Ekaristi yang diselenggarakan pada Minggu pagi, 27 Juli 2025. Misa ini juga menjadi momen peringatan Hari Kakek dan Nenek Sedunia, serta mengenangkan Santo Panteleon, Martir, dan pasangan suci Santo Aurelius dan Santa Natalia, Martir. Warna liturgi yang digunakan adalah hijau, menandai masa biasa dalam kalender liturgi Gereja Katolik.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RP. Vitalis Nggeal, CP, dan turut dimeriahkan oleh partisipasi aktif umat dari Lingkungan Kanak-Kanak Yesus yang bertugas sebagai petugas liturgi Tim Koor. Saudara Tiofilius Francisco bertugas sebagai lektor, Ibu Anita Gultom sebagai pemazmur, dan Saudari Bertha memainkan musik organ yang mengiringi nyanyian rohani umat. Saudara Kardianus memimpin paduan suara sebagai dirigen. Yang istimewa, dalam misa ini juga hadir dan melayani Bruder Petrus Pama Tobin, CP, yang saat ini menjalankan karya misi di Sisilia, Italia. Bruder Petrus turut membantu dalam pembagian Komuni Kudus, memberikan nuansa kebersamaan universal Gereja Katolik yang melampaui batas negara dan benua.
Homili RP. Vitalis Nggeal, CP: “Tuhan, Ajarkanlah Kami Berdoa”
Dalam homilinya yang menyentuh dan penuh permenungan, RP. Vitalis mengawali dengan sapaan hangat, “Bapak, Ibu, Saudara-saudari dan adik-adik terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, selamat pagi!” Lalu beliau mengajak umat untuk merenungkan permintaan mendalam para murid kepada Yesus: “Tuhan, ajarkanlah kami berdoa.”
Menurut RP. Vitalis, permintaan ini bukan sekadar spontanitas, melainkan lahir dari kesadaran yang mendalam akan pentingnya doa dalam hidup Kristiani. Ia menyampaikan bahwa:
"Doa adalah nafas kehidupan orang beriman. Bukan sekadar tambahan, melainkan kebutuhan dasar seorang Kristiani."
Beliau menjelaskan bahwa tanpa relasi dengan Allah, segala aktivitas murid menjadi sia-sia. Ia mengutip Santo Agustinus yang berkata, “Hatiku gelisah sebelum aku bersatu dengan Allah.” Dengan tegas, RP. Vitalis menyampaikan bahwa kita harus mulai merasa cemas bila hidup kita tidak terkoneksi dengan Tuhan.
Poin kedua dari homilinya adalah keteladanan Yesus sebagai seorang pendoa. Dalam banyak momen penting saat dibaptis, saat memilih para murid, saat menghadapi penderitaan Yesus selalu lebih dulu berdoa. Maka para murid pun memohon agar diajarkan cara berdoa yang benar, bukan sekadar formalitas, melainkan yang benar-benar mengubah hidup.
RP. Vitalis mengingatkan bahwa:
“Doa bukan untuk menghindari soal atau masalah. Tanpa doa, hidup kita hanya menjadi sekadar aktivis rohani. Kita butuh doa agar dapat mendengar suara Bapa dan mengalami transformasi rohani yang sejati.”
Beliau menegaskan bahwa akar kehidupan Kristiani adalah doa, bukan karena kita sedang dalam kesusahan, tetapi karena kita mengasihi Allah. Itulah semangat doa sejati yang lahir dari cinta, bukan karena kebutuhan sesaat.
Mengutip Santa Teresia dari Ávila, RP. Vitalis mengatakan:
“Doa adalah intensi kepada Tuhan, dan semangat doa yang sejati harus mengubah kehidupan. Jika tidak mengubah cara kita hidup, maka kita hanya sedang berbicara sendiri.”
Beliau melanjutkan bahwa doa yang benar melahirkan pengampunan dan solidaritas, bukan hanya hubungan pribadi dengan Allah, tetapi juga relasi kasih dengan sesama. Maka doa harus berdampak sosial: menghadirkan sukacita, mempererat persaudaraan, dan membangun pengampunan.
RP. Vitalis menutup homilinya dengan permenungan mendalam:
“Bukan kotbah pastor yang mengubah Anda, tetapi Roh Kudus yang bekerja melalui doa dan Firman-Nya. Marilah kita menjadi umat yang semakin dalam relasinya dengan Allah, agar hidup kita sungguh menjadi berkat.”
Suasana Khidmat dan Penuh Cinta
Suasana misa berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh semangat persaudaraan, terlebih saat umat turut mendoakan para kakek dan nenek, serta orangtua yang menjadi pilar keluarga dan warisan iman. Umat diajak untuk tidak hanya mengenang peran mereka, tetapi juga menyatakan kasih secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kehadiran Bruder Petru Pama Tobin dari Italia juga membawa angin segar semangat misi dan persatuan Gereja universal. Banyak umat yang menyapa dan berdialog hangat dengan beliau seusai misa.
Perayaan ini bukan hanya memperkuat relasi umat dengan Tuhan, tetapi juga mempererat hubungan kasih antargenerasi dalam keluarga dan komunitas.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 28 Juli 2025
0 comments:
Posting Komentar