Dengarkan Tuhan yang Mulia": Suara Ilahi di Pesta Penampakan Kemuliaan Yesus
Ketapang, Rabu 6 Agustus 2025.Dalam terang iman Katolik, Hari Rabu Biasa XVIII kali ini dirayakan secara istimewa sebagai Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya. Sebuah peristiwa yang mengajak setiap umat beriman untuk merenungkan lebih dalam tentang siapa Yesus sesungguhnya—bukan hanya sebagai guru, penyembuh, atau pemimpin rohani, melainkan sebagai Putra Allah yang mulia.
Warna liturgi putih yang digunakan hari ini bukan sekadar simbol eksternal, melainkan mencerminkan kemurnian, terang, dan kemenangan seluruhnya menunjuk pada Yesus yang menyingkapkan kemuliaan-Nya di atas gunung kepada tiga murid terdekat: Petrus, Yohanes, dan Yakobus. Perikop Injil hari ini dari Lukas 9:28-36 menghadirkan momen suci dan mengguncangkan hati: Yesus berubah rupa, pakaian-Nya menjadi putih berkilau, dan suara Bapa menggema dari awan:
“Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia!”
Dengarkan Tuhan yang Mulia, Jangan Balik Meminta Dia Mendengar Kita
RP. Vitalis Nggeal, CP dalam renungan hariannya menggarisbawahi makna terdalam dari pesta ini: kesediaan untuk mendengarkan Tuhan. Kita hidup di dunia yang penuh kebisingan: suara ambisi, kekhawatiran, keinginan pribadi, bahkan egoisme yang membungkam suara Tuhan dalam hati kita.
"Sebagai manusia yang hidup di tengah hiruk pikuk dunia modern," tutur RP. Vitalis, "sering kali kita lebih banyak menuntut agar Tuhan mendengarkan keluh kesah, rencana, dan keinginan kita. Padahal, dalam iman Kristiani, bukan kita yang memerintah Tuhan, tetapi Tuhanlah yang memerintah kita."
Dalam renungan ini, umat diajak merenung:
Apakah dalam doa kita, kita memberi ruang untuk mendengarkan Tuhan?
Ataukah doa kita hanya berupa daftar panjang permohonan tanpa hening dan kontemplasi?
RP. Vitalis menganalogikan hubungan kita dengan Tuhan seperti seorang karyawan dengan atasannya. “Kalau kepada bos saja kita bisa taat, mendengarkan dengan cermat, dan melaksanakan perintahnya dengan sungguh-sungguh, apalagi kepada Tuhan yang adalah Sang Sumber Kehidupan. Apakah kita sudah memberikan telinga hati kita kepada-Nya?” ungkapnya.
Tiga Pilar Mendengarkan Tuhan
RP. Vitalis menekankan bahwa sikap mendengarkan Tuhan yang mulia tidak datang secara instan, tetapi dibangun di atas tiga pilar rohani yang kokoh. Tanpa ketiganya, mendengarkan Tuhan hanya menjadi wacana tanpa daya. Berikut penjabaran lengkapnya:
1. Keheningan Batin
Untuk benar-benar mendengarkan Tuhan, kita harus keluar dari kebisingan dunia dan masuk ke dalam ruang keheningan batin. Dunia kita hari ini penuh dengan hiruk-pikuk: notifikasi ponsel, rutinitas kerja, media sosial, tuntutan hidup, dan suara-suara duniawi lainnya yang terus membombardir pikiran. Dalam keadaan seperti itu, bagaimana mungkin kita mendengar suara Tuhan?
Keheningan batin bukan sekadar tidak bersuara, tetapi sikap hati yang hening dan siap menyambut Sabda-Nya. Ini adalah bentuk disiplin rohani yang menuntut pengendalian diri dan kesediaan untuk berhenti sejenak dari kesibukan.
Tuhan berbicara bukan dalam badai, tetapi dalam angin sepoi-sepoi. Itulah pengalaman nabi Elia di Gunung Horeb (1 Raja-raja 19:12), dan itu juga yang dialami para murid saat Yesus menampakkan kemuliaan-Nya di atas gunung—di tempat yang sunyi dan tinggi. Maka, kita pun diajak masuk dalam keheningan doa, meditasi Sabda Allah, dan adorasi agar kita dapat menangkap suara Tuhan yang lembut, namun kuat mengubah hidup.
2. Ketaatan yang Aktif
Setelah mendengar suara Tuhan, respons kita tidak boleh berhenti pada rasa takjub atau kekaguman. Kita dipanggil untuk mentaati-Nya dengan tindakan nyata. Ketaatan dalam konteks iman bukan sekadar menerima perintah, tetapi menindaklanjutinya dengan kasih dan kesediaan hati.
Yesus sendiri adalah teladan ketaatan yang sempurna kepada Bapa. Ia mendengarkan dan melaksanakan kehendak Bapa sampai tuntas, bahkan hingga wafat di kayu salib. Maka, kita pun harus belajar mentransformasikan Sabda yang kita dengar menjadi aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari: dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, maupun dalam komunitas.
Ketaatan yang aktif juga berarti tidak menunda-nunda. Ketika kita tahu apa yang Tuhan kehendaki, kita tidak mencari alasan untuk menolak. Kita tidak mengatakan, “Nanti saja, Tuhan,” atau “Tunggu saya siap.” Sebaliknya, kita menjawab seperti Maria: “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” (Luk 1:38)
3. Kesetiaan dalam Proses
Mendengarkan Tuhan bukanlah pengalaman sesaat, tetapi sebuah perjalanan panjang dalam iman. Ada kalanya suara Tuhan tidak terdengar jelas. Ada masa-masa kering rohani, penuh kebimbangan dan pergumulan. Namun justru dalam kesetiaan terhadap proses itulah kedewasaan rohani kita terbentuk.
Kesetiaan ini berarti setia dalam doa walaupun tidak langsung mendapatkan jawaban, setia dalam membaca Kitab Suci walaupun tidak selalu mengerti, setia dalam mengikuti Ekaristi meskipun hati sedang lesu, dan setia dalam menerima Sakramen Rekonsiliasi walau berkali-kali jatuh dalam dosa yang sama.
Proses mendengarkan Tuhan bisa melewati musim terang dan musim gelap. Namun Tuhan tidak pernah berhenti berbicara. Dia selalu hadir, bahkan ketika kita merasa Dia diam. Kesetiaan kitalah yang akan menuntun kita dari kegelapan menuju terang, dari kebingungan menuju pengertian, dan dari kelemahan menuju kekuatan iman.
DOA PENUTUP
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 6 Agustus 2025

0 comments:
Posting Komentar