Kesetiaan pada Kebenaran: Saat Kebaikan Membawa Penderitaan, Bukan Pujian

 

Foto  RP. Vitalis Nggeal, CP

Berani Berbuat Baik di Tengah Risiko: Renungan Mendalam oleh RP. Vitalis Nggeal, CP, dari Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Ketapang, Sabtu, 2 Agustus 2025.Dalam rangka Hari Sabtu Imam yang juga bertepatan dengan perayaan fakultatif Santo Eusebius dari Vercelli, Uskup dan Martir, serta Beato Petrus Faber, Pengaku Iman, umat Katolik diajak untuk merenungkan kembali makna mendalam dari keberanian untuk berbuat baik terutama ketika kebaikan itu justru mengundang risiko dan penderitaan. Warna liturgi hijau dalam Sabtu Pekan Biasa XVII ini mengingatkan kita pada harapan dan pertumbuhan iman yang teguh di tengah tantangan hidup.

Dalam renungan harian yang disampaikan oleh RP. Vitalis Nggeal, CP, dari Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, umat diajak untuk merenungkan tema “Resiko Berbuat Baik” berdasarkan bacaan Injil Matius 14:1–12. Kisah tragis Yohanes Pembaptis menjadi titik tolak refleksi: sebuah cerita nyata tentang bagaimana keberanian menyuarakan kebenaran bisa membawa pada penderitaan, bahkan kematian. Namun di balik penderitaan itu, tersembunyi kemuliaan iman dan keteguhan hati seorang pewarta sejati.

Saudara Saudari terkasih dalam Kristus,
Berbuat baik adalah panggilan dasar setiap insan beriman. Namun, seiring dengan ajakan untuk berbuat baik, kita juga tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan bahwa kebaikan kadang tidak disambut dengan suka cita, melainkan dengan caci maki, ancaman, bahkan tindakan kekerasan.

Seringkali kita mendapati bahwa ketika mencoba mengingatkan seseorang yang berbuat salah, niat baik kita malah dianggap sebagai gangguan, sebagai kritik yang menyakitkan atau bahkan bentuk permusuhan. Reaksi semacam ini tidak jarang membuat kita memilih diam. Kita enggan mengingatkan, enggan menyampaikan kebenaran karena takut disalahpahami, ditolak, atau bahkan dijauhi.

Yohanes Pembaptis dalam Injil hari ini adalah sosok yang tidak takut menanggung risiko demi menyuarakan kebenaran. Ia berani menegur Raja Herodes yang mengambil Herodias, istri saudaranya sendiri. Teguran itu tidak berakhir baik. Dendam Herodias terhadap Yohanes membuatnya memanfaatkan kelemahan Herodes demi satu tujuan: membungkam suara kebenaran. Yohanes akhirnya dibunuh, kepalanya disajikan dalam pesta sebagai tanda kekuasaan yang menolak dikritik dan menutup telinga terhadap kebenaran.

Tetapi apakah Yohanes menyesal? Tidak.
Yohanes tetap teguh. Ia tahu risiko yang dihadapinya, namun ia tidak mundur. Karena bagi Yohanes, kesetiaan pada kebenaran lebih utama daripada rasa aman. Ia menunjukkan kepada kita bahwa kebenaran tidak selalu menyelamatkan nyawa kita, tapi kebenaranlah yang menyelamatkan jiwa kita.

Renungan ini menjadi sangat relevan di zaman kita sekarang. Di tengah dunia yang semakin permisif, di mana banyak orang lebih suka kenyamanan daripada kebenaran, suara yang menegur dengan kasih dan niat baik justru sering dibungkam. Kita hidup dalam masyarakat yang lebih memilih toleransi terhadap kesalahan daripada keberanian untuk mengoreksi. Budaya “asal tidak mengganggu” sering kali membuat kebaikan kehilangan nyalinya.

Namun, iman Katolik mengajarkan bahwa kebaikan sejati bukanlah kebaikan yang pasif dan diam. Kebaikan sejati adalah kebaikan yang aktif, yang bersuara, yang memperjuangkan nilai-nilai Injil walau harus menghadapi risiko. Yesus sendiri menunjukkan bahwa kebaikan-Nya kepada orang sakit, orang berdosa, dan mereka yang tertindas tidak selalu diterima baik. Bahkan Yesus disalibkan justru karena kasih-Nya terlalu radikal bagi dunia yang keras kepala.

Lantas, bagaimana dengan kita?
Apakah kita tetap memilih berbuat baik walau tidak disukai? Apakah kita berani membela kebenaran walau sendirian? Apakah kita bersedia menanggung risiko demi iman kita kepada Kristus?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa dijawab sekali, melainkan harus dijawab setiap hari. Dalam keluarga, di tempat kerja, dalam komunitas, bahkan di media sosial—apakah kita tetap teguh dalam iman, adil dalam tindakan, dan lembut dalam menyuarakan kebenaran?

Mari kita tidak takut menjadi baik, meski dunia tidak menyukainya. Jangan gentar menanggung risiko, karena di balik setiap tantangan ada anugerah, dan di balik setiap penderitaan karena kebenaran ada mahkota kehidupan.

Semoga kita dikuatkan oleh teladan Yohanes Pembaptis, dan semakin berani menjadi saksi kebenaran dalam hidup kita sehari-hari.

DOA

Ya Yesus yang penuh kasih,
Terima kasih atas firman-Mu hari ini yang menguatkan kami untuk tetap berbuat baik, bahkan ketika itu mengundang risiko. Berilah kami hati yang berani, yang tidak gentar menyuarakan kebenaran, dan tangan yang siap menolong, bahkan ketika kami harus berjalan melawan arus dunia.

Lindungilah kami dari kejahatan, bimbinglah langkah kami agar selalu setia pada kehendak-Mu. Dan bila harus menanggung penderitaan karena kebaikan, kuatkan kami untuk tetap setia sampai akhir.

Bunda Maria, doakanlah kami,
Amin.

Penutup

Renungan ini menjadi ajakan yang mendalam bagi seluruh umat Katolik, khususnya di Keuskupan Ketapang dan sekitarnya, untuk merenungkan kembali arti keberanian dalam iman. Dunia mungkin tidak selalu mengerti atau menerima kebaikan yang kita perjuangkan. Tapi seperti Yohanes Pembaptis dan para kudus lainnya, kesetiaan kepada kebenaran adalah jalan menuju kekudusan.

Mari terus berbuat baik bukan karena itu mudah, tetapi karena itulah yang benar.

📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:   2 Agustus  2025 

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar