Menjadi Kaya dalam Kasih: Misa Minggu Biasa XVIII di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Kerapang, 2 Agustus 2025 – Sabtu sore yang damai di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, dipenuhi keheningan dan kekhusyukan umat dalam perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-XVIII. Misa Kudus yang menggunakan warna liturgi hijau ini dipimpin oleh RP. Vitalis Nggeal, CP, seorang imam dari Kongregasi Pasionis yang dikenal dekat dengan umat.
Perayaan Ekaristi diawali tepat pukul 18.00 WIB. Bapak Vincentius Ferreri Fengky bertugas sebagai lektor, sementara Bapak Yohanes Sigit Kurnianto memimpin mazmur dengan suara mantap dan penuh penghayatan. Liturgi musik semakin syahdu berkat arahan dirigen Ibu Maria Theresia Budi Supri Handini dan alunan organ yang dimainkan dengan apik oleh Saudari Cintia. Perayaan misa kali ini dimeriahkan oleh paduan suara dari Lingkungan Santo Vinsensius Maria Strambi yang membawakan lagu-lagu liturgi dengan semangat pelayanan dan sukacita iman.
Dalam homilinya, RP. Vitalis Nggeal, CP menyoroti bacaan Injil hari ini yang mengisahkan perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh. Ia mengajak seluruh umat untuk merenungkan bagaimana seharusnya kekayaan digunakan dalam terang iman Kristiani.
"Bapak, Ibu, Saudara, Saudari dan adik-adik terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, selamat sore. Berapa banyak dari kita yang sadar bahwa seringkali kita hidup seperti orang kaya dalam Injil hari ini? Kita pandai menyimpan dan memupuk harta, tapi lalai menabung untuk kehidupan surgawi," ungkap RP. Vitalis dalam awal homilinya.
Ia menyampaikan bahwa Yesus tidak pernah menolak kekayaan secara mutlak. Bahkan, Yesus sendiri memiliki bendahara yaitu Yudas Iskariot. Namun, yang ditolak adalah kesombongan dan materialisme, ketika harta menjadi pusat hidup dan menjauhkan manusia dari Tuhan dan sesama.
RP. Vitalis kemudian mengajak seluruh umat untuk menanggapi sabda Tuhan dengan tiga permenungan utama:
1. Hidup dalam Nilai Kekal
Ia menegaskan bahwa hidup Kristiani sejati adalah hidup yang berakar pada nilai-nilai Kerajaan Allah, yakni kasih, belas kasih, dan keadilan bagi sesama. Menurutnya, investasi yang paling berharga bukanlah yang tersimpan dalam bentuk materi, melainkan dalam tindakan nyata yang mencerminkan kasih Allah.
“Menghidupi nilai Kerajaan Allah berarti memiliki hati yang terbuka dan tangan yang mau terulur,” ujar RP. Vitalis. Ia mencontohkan tindakan-tindakan sederhana namun penuh makna seperti memberi makan kepada yang lapar, menjenguk yang sakit, menghibur yang sedih, mendampingi yang kesepian, serta menyapa mereka yang sering diabaikan dalam masyarakat. Semua itu adalah bentuk nyata dari kekayaan surgawi yang tidak akan pernah habis dimakan ngengat atau dirusak waktu.
Ia mengajak umat untuk melihat hidup bukan sekadar dari sudut pandang duniawi yang serba sementara, tetapi dari perspektif kekekalan. “Kita diajak untuk menghitung ‘tabungan surgawi’ kita. Sudahkah kita menabung lewat kasih dan pelayanan? Atau justru kita masih sibuk menumpuk hal-hal fana?” tanyanya dengan nada penuh refleksi.
2. Mengandalkan Allah dalam Iman, Harapan, dan Kasih
RP. Vitalis mengingatkan bahwa hidup manusia sangat rapuh dan fana. Tidak ada yang tahu kapan ajal menjemput. Dalam konteks ini, ia mengajak umat untuk tidak menaruh harapan semata pada kekuatan pribadi, kekayaan, atau jabatan, tetapi sungguh mengandalkan Allah sebagai satu-satunya sumber keselamatan.
“Kematian bisa datang malam ini, besok, atau kapan saja. Dan saat itu tiba, kita tidak bisa membawa apa-apa tidak harta, tidak kuasa, tidak gelar. Yang akan kita bawa hanyalah kasih,” tegasnya. Kasih kepada Tuhan, kasih kepada sesama, kasih yang tulus dan tidak mengharapkan balasan itulah yang akan menjadi pengantara kita di hadapan Allah.
Ia mendorong umat untuk hidup dengan iman yang teguh, harapan yang tak goyah, dan kasih yang tidak pilih-pilih. Ketiga nilai ini, menurut RP. Vitalis, menjadi dasar yang kokoh dalam menata hidup secara spiritual, sosial, dan moral.
3. Mengubah Cara Menimbun Menjadi Cara Membagikan
Dalam bagian terakhir refleksi, RP. Vitalis menyerukan perubahan paradigma: dari mentalitas menimbun menjadi spiritualitas berbagi. Ia menyitir semangat jemaat perdana sebagaimana ditulis dalam Kisah Para Rasul, di mana tidak ada seorang pun yang menganggap kepunyaannya sebagai milik sendiri, melainkan semua dibagikan sesuai kebutuhan.
“Tuhan tidak melarang kita memiliki kekayaan. Tapi Ia menghendaki agar kekayaan itu digunakan bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk menjadi berkat bagi orang lain,” jelasnya. Hidup sebagai murid Kristus berarti hidup sebagai pemberi, bukan pengumpul.
Ia mengajak umat untuk membebaskan diri dari belenggu ketamakan dan egoisme, serta mulai membangun budaya solidaritas dan kepedulian. Dalam dunia yang serba individualistis, orang Kristiani justru dipanggil untuk tampil sebagai saksi kasih yang konkret dengan membuka hati, membuka dompet, dan membuka waktu bagi sesama.
Penutup: Kaya dalam Kasih
“Mari kita memeriksa kembali kualitas hidup kita,” ajak RP. Vitalis. “Apakah kita sedang menjadi kaya secara duniawi, namun miskin dalam kasih? Atau justru kita sedang meniti jalan menjadi kaya dalam Tuhan, dalam belas kasih, dalam pelayanan, dan dalam keikhlasan memberi?”
Ia menegaskan bahwa kasih adalah satu-satunya kekayaan sejati yang tidak dapat dicuri oleh waktu, tidak bisa digerogoti usia, dan tidak lenyap oleh kematian. Sebab kasih, pada akhirnya, hanya bisa ditemukan dan bertahan dalam Allah sendiri.
“Karena itu, marilah kita mengejar kekayaan yang kekal yakni kasih. Karena kasih adalah satu-satunya hal yang akan menyertai kita saat kita berdiri di hadapan Allah,” tutupnya dengan nada lembut namun menggugah hati.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 2 Agustus 2025
0 comments:
Posting Komentar