MINGGU ADVEN II DI PAROKI SANTO AGUSTINUS PAYA KUMANG: AJAKAN UNTUK BERTUMBUH DALAM PERTOBATAN DAN HIDUP DALAM DAMAI
Ketapang, Minggu, 7 Desember 2025.Suasana damai dan penuh harapan menyelimuti Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, ketika umat berkumpul untuk merayakan Misa Minggu Adven II, bertepatan dengan Peringatan Santo Ambrosius, Uskup dan Pujangga Gereja. Dengan warna liturgi ungu yang mendominasi altar sebagai lambang pertobatan, penantian, dan penyiapan batin menyongsong kelahiran Kristus, umat memadati gereja sejak pagi. Tepat pukul 07.00 WIB, perayaan Ekaristi dimulai dan dipimpin oleh RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP.
Perayaan pada Minggu Adven II ini menghadirkan liturgi yang tertata dengan indah berkat pelayanan para petugas liturgi. Ibu Christine Sintari Ellen bertugas sebagai lektor, sementara Ibu Martha Koleta Popyzesika melantunkan mazmur dengan penuh penghayatan. Paduan suara dari Lingkungan Santa Lusia turut mempersembahkan pujian dengan dirigen Ibu Ferediana dan organis Noberta Cahya Setiti, menjadikan suasana perayaan semakin khusyuk dan menyentuh hati.
Atmosfer Liturgi yang Penuh Harapan dan Pertobatan
Minggu Adven II selalu mengarahkan umat pada tema besar: pertobatan dan pembaruan hidup. Warna ungu yang terpampang di altar menjadi tanda kuat bahwa gereja mengajak umat untuk memasuki suasana penantian yang penuh kesadaran akan kebutuhan untuk berubah dan berbenah. Sejak awal perayaan, umat diarahkan untuk menyiapkan hati, mengakui dosa, dan membuka diri pada penyertaan Roh Kudus yang bekerja dalam keheningan jiwa.
Pada kesempatan ini, umat juga merenungkan teladan Santo Ambrosius, seorang Uskup besar yang dikenang sebagai Pujangga Gereja karena kedalaman ajaran iman dan pengaruh spiritual yang besar dalam sejarah Gereja Katolik. Teladannya yang teguh dalam iman dan penuh keberanian untuk memperjuangkan kebenaran memperkaya makna perayaan liturgi hari Minggu ini.
Bacaan Injil: Seruan Tegas Yohanes Pembaptis di Padang Gurun
Bacaan Injil hari ini diambil dari Matius 3:1–12, yang berisi seruan keras dan mendalam dari Yohanes Pembaptis:
“Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!”
Injil menggambarkan Yohanes tampil di padang gurun Yudea dengan kehidupan asketik yang sangat sederhana jubah bulu unta, ikat pinggang kulit, serta makanan belalang dan madu hutan. Penampilan dan gaya hidupnya yang keras menjadi simbol seruan profetis yang mengguncang kenyamanan manusia dan mengajak mereka kembali pada kesederhanaan rohani.
Penduduk dari Yerusalem, seluruh Yudea, dan daerah sekitar Yordan berbondong-bondong datang kepadanya untuk mendengarkan pewartaannya dan menerima baptisan di Sungai Yordan sebagai tanda pertobatan. Namun, Yohanes juga menegur mereka yang datang hanya demi kebiasaan atau status, termasuk kaum Farisi dan Saduki:
“Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu bahwa kamu dapat lolos dari murka yang akan datang? Maka hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.”
Seruan tersebut bukan hanya untuk orang-orang zaman itu, tetapi tetap relevan hingga saat ini: pertobatan bukan sekadar ritual, melainkan perubahan hidup yang nyata dan berbuah.
Yohanes menegaskan bahwa Mesias yang akan datang adalah Dia yang lebih berkuasa, yang membaptis dengan Roh Kudus dan api, memisahkan gandum dari sekam, dan memurnikan hati manusia agar layak bagi Kerajaan Allah.
Renungan Harian Katolik: “Bertobat dan Bertumbuh dalam Roh”
Renungan ini mengajak umat untuk melihat pertobatan bukan sebagai peristiwa sesaat, melainkan sebagai perjalanan spiritual yang menuntut kedalaman, kejujuran hati, dan komitmen untuk bertumbuh dalam Roh Kudus. Ada beberapa poin penting yang ditekankan dalam renungan ini:
1. Seruan Yohanes Tetap Relevan untuk Dunia Modern
Di tengah dunia serba cepat dan penuh distraksi, manusia mudah jatuh dalam rutinitas rohani yang dangkal. Kata “Bertobatlah” tidak hanya berarti meninggalkan dosa, tetapi berbalik hati menuju Tuhan, memurnikan motivasi hidup, serta menata kembali relasi dengan sesama dan diri sendiri.
2. Jalan Pertobatan Tidak Mudah
Pertobatan bukanlah jalan yang glamor. Seperti Yohanes Pembaptis yang hidup dalam kesederhanaan dan asketisme, umat diajak untuk:
-
melepaskan ego dan kesombongan,
-
mengevaluasi kebiasaan,
-
mengakui kesalahan,
-
serta bersedia diproses oleh Tuhan.
Pertumbuhan rohani justru sering terjadi saat manusia mau merendah dan menyadari kerapuhan diri.
3. Buah Pertobatan Harus Nyata
Pertobatan tidak cukup diucapkan, tetapi harus terlihat dalam tindakan:
-
memberi maaf,
-
mengendalikan emosi,
-
meninggalkan kebiasaan buruk,
-
mengutamakan kasih,
-
tekun dalam doa meski tak selalu mudah.
4. Peringatan untuk Hati yang Mengeras
Yohanes menegur orang-orang yang merasa “cukup baik” dan mengandalkan identitas religius tanpa perubahan hidup. Renungan ini mengingatkan bahwa bahaya itu tetap nyata:
-
aktif dalam kegiatan gereja,
-
tetapi hati tidak berubah;
-
rajin berdoa,
-
tetapi mudah menghakimi sesama.
Tuhan tidak mencari penampilan, tetapi hati yang benar.
5. Roh Kudus Mengubah Hati
Dengan api Roh Kudus, Tuhan memurnikan luka, memperbaiki relasi, menghidupkan kembali iman, dan membentuk karakter baru. Pertobatan sejati membawa manusia semakin serupa dengan Kristus sendiri.
Homili RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP: Pertobatan sebagai Persiapan Menyambut Kristus
Dalam homilinya, RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP, menguraikan pesan dari bacaan Kitab Suci dan menghubungkannya dengan perjalanan Adven yang sedang dijalani Gereja.
Beliau menekankan beberapa poin penting:
1. Nubuat Mesias dalam Kitab Yesaya
Bacaan pertama berbicara tentang pemimpin yang dipenuhi Roh Tuhan, yang menghadirkan keadilan, damai, dan kebenaran. Nubuat ini sejalan dengan kedatangan Kristus pada peristiwa pertama (Inkarnasi) dan juga mengarah pada harapan umat akan kedatangan-Nya kembali pada akhir zaman.
2. Meneladani Kristus yang Adil dan Membawa Damai
Pastor Oscar mengajak umat untuk menolak segala bentuk perpecahan dan permusuhan. Dalam kehidupan sosial dan keluarga, umat dipanggil untuk menjadi pembawa damai, bukan provokator atau sumber masalah.
3. Yohanes Pembaptis: Suara di Padang Gurun
Yohanes Pembaptis adalah figur utama dalam masa Adven. Seruannya menggugah dan mengingatkan agar manusia tidak terperangkap dalam egoisme dan kesombongan. Pertobatan yang otentik harus menghasilkan buah nyata, bukan sekadar ucapan.
4. Kedatangan Tuhan Membawa Penghakiman
Gandum dan sekam menjadi simbol kehidupan orang benar dan mereka yang menolak panggilan Tuhan. Pastor Oscar mengingatkan bahwa Adven bukan sekadar mengingat kelahiran Yesus, tetapi juga mempersiapkan diri akan kedatangan-Nya kembali sebagai Hakim yang adil.
5. Persiapan Menyambut Natal adalah Perubahan Hati
Natal bukan tentang pesta atau dekorasi semata, melainkan tentang kesiapan batin. Pertobatan, keheningan doa, rekonsiliasi, dan tindakan kasih menjadi bentuk persiapan yang sejati.
6. Kitab Suci sebagai Sumber Pengharapan
Beliau menutup homili dengan ajakan untuk menjadikan Sabda Tuhan sebagai pelita hidup. Umat diajak untuk hidup dalam keselarasan, saling mendukung, dan bersatu hati menyongsong kedatangan Kristus Sang Pengharapan yang pasti.
Umat: Menghidupi Adven dalam Keseharian
Setelah perayaan Ekaristi, banyak umat mengungkapkan bahwa pesan pertobatan dan harapan dalam Misa Adven II ini sangat menyentuh kehidupan pribadi mereka. Beberapa umat menyampaikan bahwa dunia modern dengan kesibukan dan tekanan membuat mereka sering lupa memperhatikan kehidupan rohani.
Melalui bacaan dan homili hari ini, umat kembali diingatkan untuk:
-
lebih disiplin dalam doa,
-
meningkatkan kebiasaan membaca Kitab Suci,
-
memperbaiki relasi keluarga,
-
serta lebih sadar akan pentingnya hidup dalam damai dengan sesama.
Bagi sebagian umat, masa Adven menjadi waktu yang sangat istimewa untuk mengevaluasi perjalanan iman sepanjang tahun dan menyusun langkah baru agar semakin dekat dengan Tuhan.
Paduan Suara Lingkungan Santa Lusia: Memperkaya Suasana Liturgi
Paduan suara dari Lingkungan Santa Lusia menambah kekhidmatan Misa melalui lagu-lagu Adven bernuansa tobat dan pengharapan. Pemilihan lagu yang tepat, perpaduan harmoni yang lembut, serta iringan organ yang dimainkan dengan penuh penghayatan menjadikan musik liturgi hari itu terasa sangat menyentuh.
Melalui suasana musik yang menenangkan, umat dapat memasuki suasana doa yang lebih dalam, sehingga pesan liturgi Adven benar-benar meresap dalam hati.
Penutup: Adven sebagai Jalan Menuju Hati yang Baru
Perayaan Misa Minggu Adven II di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang hari ini menjadi momentum rohani yang kuat bagi umat. Seruan Yohanes Pembaptis kembali menggema:
“Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.”
Masa Adven mengingatkan bahwa kedatangan Kristus bukan suatu peristiwa jauh di masa lalu, tetapi selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari. Menyambut-Nya membutuhkan kesiapan hati, kemurnian niat, dan komitmen untuk berubah.
Melalui homili yang menyentuh, liturgi yang tertata indah, serta keterlibatan umat yang penuh sukacita, perayaan hari ini menggugah setiap orang untuk menata kembali hidup, menghilangkan sikap yang tidak berkenan kepada Tuhan, dan menyiapkan hati menjadi rumah yang layak bagi Kristus yang segera datang.
Dengan melangkah dalam pertobatan, umat dipanggil bukan hanya menantikan kelahiran Yesus pada Natal, tetapi juga menghadirkan-Nya dalam hidup sehari-hari melalui damai, kasih, dan kesetiaan pada Sabda Tuhan.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 7 Desember 2025
0 comments:
Posting Komentar