RABU ABU TANDAI AWAL MASA PRAPASKA
Umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Didorong Perkuat Tobat dan Pertobatan Sejati
Ketapang, 18 Februari 2026.Umat Katolik di Ketapang secara khusus di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, memaknai perayaan Rabu Abu sebagai momentum awal memasuki Masa Prapaskah tahun 2026. Perayaan ini menjadi pintu gerbang menuju perjalanan rohani selama 40 hari sebelum Hari Raya Paskah, yang sarat dengan ajakan pertobatan, puasa, doa, dan amal kasih.
Ketua Bidang Liturgi dan Peribadatan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Bapak Hendrikus Hendri, S.S., yang juga merupakan Koordinator Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Ketapang, menegaskan bahwa Rabu Abu bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan undangan serius bagi umat untuk memperbaharui hidup.
Dalam refleksinya, ia mengutip dua kalimat yang selalu diucapkan saat penerimaan abu: “Ingatlah, manusia, bahwa engkau adalah debu dan akan kembali menjadi debu” (lih. Kej 3:19) serta “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:15). Kedua kalimat tersebut menjadi dasar spiritual bagi umat untuk menyadari kerapuhan manusia sekaligus panggilan untuk kembali kepada Allah.
Makna Rabu Abu
Rabu Abu adalah hari pertama Masa Prapaskah yang menandai dimulainya masa tobat selama 40 hari sebelum Paskah. Angka 40 dalam tradisi Kitab Suci memiliki makna rohani sebagai masa persiapan dan pemurnian. Nabi Musa berpuasa 40 hari sebelum menerima Sepuluh Perintah Allah (Kel 34:28). Nabi Elia berjalan 40 hari menuju Gunung Horeb (1Raj 19:8). Bahkan Tuhan Yesus sendiri berpuasa 40 hari 40 malam di padang gurun sebelum memulai karya pewartaan-Nya (Mat 4:2).
Angka 40 bukan sekadar hitungan matematis, melainkan simbol perjalanan iman. Masa ini menjadi waktu bagi umat untuk melakukan refleksi diri, memperdalam relasi dengan Tuhan, serta memperbaiki relasi dengan sesama.
Mengapa Jatuh pada Hari Rabu?
Penentuan awal Masa Prapaskah pada hari Rabu memiliki dasar perhitungan liturgis. Gereja menetapkan masa puasa selama 40 hari, namun hari Minggu tidak dihitung sebagai hari puasa karena setiap Minggu adalah peringatan Kebangkitan Kristus. Oleh sebab itu, masa Prapaskah berlangsung selama enam minggu ditambah empat hari. Jika dihitung mundur dari Hari Raya Paskah yang selalu jatuh pada hari Minggu, maka awal masa 40 hari tersebut dimulai pada hari Rabu.
Dengan demikian, Rabu Abu menjadi titik awal perjalanan tobat menuju kebangkitan bersama Kristus.
Mengapa Disebut “Rabu Abu”?
Abu dalam tradisi Kitab Suci merupakan tanda pertobatan dan kerendahan hati. Kisah pertobatan penduduk Niniwe (Yun 3:6) menunjukkan bagaimana mereka mengenakan kain kabung dan duduk dalam abu sebagai tanda penyesalan. Abu mengingatkan manusia bahwa ia berasal dari debu tanah dan suatu saat akan kembali menjadi debu.
Saat menerima abu, imam atau prodiakon mengucapkan salah satu dari dua formula liturgis: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” atau “Ingatlah bahwa engkau adalah debu dan akan kembali menjadi debu.” Ucapan ini bukan sekadar simbol, melainkan penegasan akan hakikat manusia yang fana dan kebutuhan akan pertobatan.
Dari Mana Abu Itu Berasal?
Abu yang digunakan pada Rabu Abu berasal dari daun palma kering yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya. Daun-daun palma tersebut dibakar dan diolah menjadi abu untuk digunakan dalam perayaan Rabu Abu tahun berikutnya.
Pembakaran daun palma memiliki makna simbolis yang mendalam. Daun palma yang dahulu melambangkan kemenangan Kristus saat memasuki Yerusalem, kini berubah menjadi abu yang menandai pertobatan. Transformasi ini mengajarkan bahwa kemuliaan tanpa pertobatan tidak memiliki makna. Umat diajak meninggalkan kesombongan dan dosa masa lalu untuk memulai hidup baru dalam Kristus.
Makna Liturgis Abu Palma
Terdapat dua makna penting dalam penggunaan abu dari daun palma:
Ajakan untuk Umat
Hendrikus Hendri, S.S. mengajak seluruh umat Katolik di Kabupaten Ketapang agar memanfaatkan Masa Prapaskah sebagai waktu pembaruan diri. Ia menekankan pentingnya tiga pilar utama Prapaskah: doa, puasa, dan amal kasih.
Doa memperdalam relasi dengan Tuhan. Puasa melatih pengendalian diri dan solidaritas terhadap sesama. Amal kasih menjadi wujud nyata pertobatan dalam tindakan konkret membantu mereka yang membutuhkan.
“Rabu Abu bukanlah akhir, tetapi awal perjalanan. Kita diajak meninggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru dalam Kristus,” ujarnya.
Momentum ini juga menjadi kesempatan untuk mempererat persaudaraan di tengah masyarakat. Dalam konteks kehidupan sosial yang penuh tantangan, pertobatan pribadi diharapkan berdampak pada pembaharuan sosial, menghadirkan nilai-nilai Injil dalam kehidupan sehari-hari.
Perayaan Rabu Abu tahun ini di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Umat mengikuti perayaan Ekaristi dengan sikap hening dan reflektif, menyadari bahwa tanda abu di dahi bukan sekadar simbol lahiriah, melainkan komitmen batin untuk berubah.
Mengakhiri refleksinya, Hendrikus Hendri kembali mengingatkan bahwa setiap orang dipanggil untuk kembali kepada Tuhan dengan hati yang tulus. “Debu mengingatkan kita akan kefanaan, tetapi pertobatan membuka jalan menuju kehidupan kekal,” tutupnya.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 18 Februari 2026

0 comments:
Posting Komentar