didampingi oleh Pastor Vikaris ex officio RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP.
Rabu Abu 2026: Abu yang Mengantar Umat Menuju Pertobatan Sejati
Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Keuskupan Ketapang Memulai Masa Prapaskah dengan Ibadat Khidmat dan Penuh Makna
Ketapang, Rabu, 18 Februari 2026.Kalender Liturgi Gereja Katolik menetapkan hari ini sebagai Rabu Abu, hari Pantang dan Puasa, sekaligus peringatan Santo Flavianus, dengan warna liturgi ungu yang melambangkan pertobatan, keheningan, dan harapan akan pembaruan hidup. Umat Katolik di seluruh dunia memasuki Masa Prapaskah, masa tobat selama 40 hari sebagai persiapan menyambut Paskah.
Di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, yang berada dalam wilayah Keuskupan Ketapang, perayaan Ekaristi Rabu Abu dilaksanakan dengan penuh kekhusyukan pada pukul 18.00 WIB. Misa dipimpin oleh RP. Vitalis Nggeal, CP., didampingi oleh Pastor Vikaris ex officio RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP.
Gereja Memulai dengan Abu, Bukan Kemeriahan
Berbeda dengan suasana pesta dan perayaan meriah, Gereja justru membuka masa liturgi penting ini dengan tanda yang sederhana: abu. Abu yang dibubuhkan di dahi umat berasal dari daun palma yang telah diberkati pada Minggu Palma tahun sebelumnya. Dari daun yang dahulu dielu-elukan sebagai simbol kemenangan Kristus, kini menjadi abu simbol kefanaan manusia.
Dua kalimat ini merangkum makna terdalam Rabu Abu: kesadaran akan keterbatasan manusia dan panggilan untuk kembali kepada Allah.
Injil Matius 6:1–6, 16–18: Iman yang Tidak Dipamerkan
Dalam khotbah di bukit, Yesus mengajarkan tiga praktik utama kehidupan rohani: sedekah, doa, dan puasa. Namun, Ia menekankan bahwa semua itu tidak boleh dilakukan demi pujian manusia.
Yesus tidak menolak praktik keagamaan. Ia justru memurnikannya dari motivasi yang salah. Ia menegaskan bahwa Allah melihat apa yang tersembunyi yang tidak dipuji, yang tidak dipamerkan, yang tidak dipublikasikan.
Homili RP. Vitalis Nggeal, CP.: Abu yang Sederhana, Makna yang Mendalam
Dalam homilinya, RP. Vitalis Nggeal, CP. menegaskan bahwa Gereja universal memasuki masa tobat yang dibuka dengan Rabu Abu sebagai tanda awal perjalanan rohani menuju Paskah.
“Abu adalah simbol yang sangat sederhana, namun menyimpan pertanyaan yang mendalam,” ungkapnya. “Rabu Abu bukan sekadar tradisi tahunan. Ia berbicara tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita akan kembali.”
Beliau menyoroti bahwa dunia saat ini dipenuhi budaya pencitraan. Banyak orang melakukan kebaikan agar dilihat dan dipuji. Namun Injil hari ini mengajak umat untuk kembali pada relasi yang jujur dengan Tuhan.
“Masa Prapaskah adalah masa pemurnian. Empat puluh hari bukan angka sembarangan. Empat puluh tahun umat Israel berjalan di padang gurun. Empat puluh hari Tuhan Yesus berpuasa sebelum memulai karya-Nya. Empat puluh hari adalah masa pembentukan dan pendewasaan iman.”
Pastor Vitalis juga mengingatkan bahwa Gereja tidak memulai perjalanan Prapaskah dengan pesta meriah, tetapi dengan abu—tanda kerendahan hati.
“Sebelum berbicara tentang kebangkitan, kita harus jujur bahwa kita adalah debu. Semua yang kita banggakan suatu hari akan kembali menjadi debu.”
Beliau mengutip ajaran Santo Agustinus tentang kerendahan hati sebagai dasar kehidupan rohani. Tidak ada orang suci tanpa rahmat pertobatan.
Abu di dahi, lanjutnya, akan hilang ketika kita mandi. Namun pertobatan tidak boleh hilang bersama air yang membasuh wajah. Pertobatan harus nyata dalam doa, puasa, dan amal kasih.
Pertobatan Sejati di Tengah Dunia Modern
Dalam refleksi lebih luas, homili juga menyinggung pesan Paus Fransiskus yang pada tahun 2020 menekankan bahwa pertobatan bukan sekadar perubahan lahiriah, tetapi perubahan arah hidup dari dosa menuju kasih Allah.
Pertobatan mencakup:
Pertobatan batiniah
Pertobatan pastoral
Pertobatan ekologis
Pertobatan sosial
Di tengah krisis dunia, Gereja dipanggil untuk kembali pada keheningan doa dan kerendahan hati.
Sedekah, Doa, dan Puasa: Tiga Pilar Prapaskah
1. Sedekah: Memberi Tanpa Mengumumkan
Sedekah sejati bukan soal jumlah, tetapi soal kasih yang tulus. Di era media sosial, godaan untuk memamerkan kebaikan sangat besar. Namun Injil hari ini mengajak umat untuk memberi tanpa perlu diumumkan.
2. Doa: Relasi yang Personal
Doa bukan sekadar kata-kata indah, tetapi perjumpaan dengan Allah. Doa yang tersembunyi membentuk hati yang rendah dan peka.
3. Puasa: Melatih Hati
Puasa bukan menyiksa tubuh, melainkan melatih pengendalian diri dan solidaritas terhadap sesama.
Makna Abu: Dari Palma Menjadi Debu
Abu berasal dari daun palma tahun sebelumnya daun yang dahulu melambangkan pujian saat Yesus memasuki Yerusalem. Kini menjadi abu, mengingatkan bahwa kemuliaan duniawi bersifat sementara.
Tradisi Gereja awal menunjukkan bahwa orang berdosa berat mengenakan kain kabung dan abu sebagai tanda pertobatan. Seiring perkembangan Gereja, praktik ini diperluas untuk seluruh umat sebagai tanda universal bahwa setiap orang membutuhkan rahmat pertobatan.
Rabu Abu sebagai Undangan
Rabu Abu adalah undangan:
Apakah kita masih memiliki relasi yang hidup dengan Tuhan?
Apakah kita menyadari dosa-dosa kita?
Apakah kita mau berubah?
Masa Prapaskah bukan sekadar rutinitas liturgis, tetapi perjalanan rohani menuju pembaruan hati.
Keterlibatan Umat Paroki
Perayaan Ekaristi di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang berlangsung tertib dan penuh partisipasi. Umat dari berbagai lingkungan hadir memenuhi gereja. Koor Lingkungan Santo Rafael membawakan lagu-lagu bernuansa tobat yang mendukung suasana reflektif.
Pembubuhan abu dilakukan dengan tertib. Umat maju satu per satu, menundukkan kepala, menerima tanda salib dari abu, dan kembali ke tempat duduk dalam keheningan doa.
Suasana gereja terasa hening dan penuh permenungan.
Masa 40 Hari: Perjalanan Menuju Paskah
Masa Prapaskah berlangsung selama 40 hari (tidak termasuk hari Minggu). Angka 40 dalam Kitab Suci melambangkan masa pembentukan:
40 tahun bangsa Israel di padang gurun
40 hari Musa di Gunung Sinai
40 hari Elia berjalan menuju Horeb
40 hari Yesus berpuasa di padang gurun
Angka 40 adalah simbol kesabaran, pengujian, dan pemurnian.
Gereja yang Rendah Hati
Injil Matius 6 mengingatkan Gereja agar tidak terjebak dalam pencitraan. Pelayanan bukan panggung kemuliaan manusia, melainkan sarana menghadirkan kasih Allah.
Gereja dipanggil untuk melayani tanpa sorotan, mencintai tanpa syarat, dan setia tanpa tepuk tangan.
Penutup: Abu yang Mengantar pada Harapan
Rabu Abu bukan akhir, melainkan awal. Abu bukan simbol keputusasaan, tetapi awal harapan. Dari debu kita berasal, namun kita dipanggil menuju kebangkitan.
Ketika abu di dahi perlahan memudar, semoga semangat pertobatan tidak ikut memudar. Masa Prapaskah adalah kesempatan untuk kembali, memperbaiki relasi, memperdalam doa, memperbanyak amal kasih, dan memurnikan hati.
Di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Rabu Abu 2026 menjadi momentum rohani yang meneguhkan umat untuk melangkah bersama dalam perjalanan iman menuju Paskah dari abu menuju terang kebangkitan.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 18 Februari 2026
0 comments:
Posting Komentar