Refleksi Menjadi Jalan Pertumbuhan Iman: 183 Peserta T-SoM 2026 Antusias Menuliskan Kisah Hidup dalam Terang Tuhan

 


Ketapang, 18 Juli 2026.Suasana hening namun penuh makna menyelimuti Gedung Paroki Jerun Stoop, Kompleks Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, pada Jumat (10/7/2026) pukul 19.00–20.00 WIB. Sebanyak 183 peserta Teens School of Mission (T-SoM) 2026 mengikuti sesi refleksi harian yang dipimpin oleh RP. Petrus Maman Suparman, OSC, Direktur Diosesan (Dirdios) Karya Misi Kepausan Indonesia (KMKI) Keuskupan Bandung.

Kegiatan refleksi menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian Teens School of Mission (T-SoM) 2026 yang berlangsung pada 9–12 Juli 2026. Program pembinaan iman dan kepemimpinan remaja Katolik ini diikuti oleh peserta dari Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Sanggau, Keuskupan Sintang, Keuskupan Ketapang, serta sejumlah paroki lainnya yang mengutus para remaja terbaiknya untuk dibentuk menjadi pribadi yang misioner.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Keuskupan Ketapang, Rm. Alfonsus Widhiwiryawan, SX, Direktur Nasional (Dirnas) Karya Kepausan Indonesia (KKI), RP. Rovinus Longa, CP, Direktur Diosesan KMKI Keuskupan Ketapang, RD. Ferdinandus Paulus Niki Towary, Direktur Diosesan KMKI Keuskupan Makassar, serta Kak Ersa Marshanda, Staf Sekretariat Nasional (Setnas) Karya Misi Kepausan Indonesia (KMKI).









Sejak awal sesi, para peserta diajak memasuki suasana hening untuk kembali melihat perjalanan hidup mereka. Lampu ruangan dibuat lebih redup agar peserta dapat lebih mudah berkonsentrasi dan menyelami pengalaman pribadi. Masing-masing peserta memperoleh waktu untuk menuliskan kisah hidupnya pada lembar refleksi yang telah disediakan panitia.

Dalam pengantar materinya, RP. Petrus Maman Suparman, OSC mengawali refleksi dengan mengutip pemikiran filsuf Yunani kuno, Socrates melalui ungkapan yang sangat terkenal, "Hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak layak dijalani." Kutipan tersebut menjadi pintu masuk untuk mengajak seluruh peserta menyadari pentingnya refleksi dalam perjalanan hidup seorang murid Kristus.

Beliau menjelaskan bahwa refleksi bukan sekadar mengenang masa lalu ataupun larut dalam penyesalan. Sebaliknya, refleksi adalah proses melihat kembali pengalaman hidup agar seseorang mampu menemukan makna, nilai, dan arah hidup yang lebih baik.

Pada layar presentasi ditampilkan sebuah kalimat sederhana namun sangat mendalam, yakni:

"Kenali masa lalu, hidupi masa kini, bentuk masa depan."

Kalimat tersebut menjadi benang merah seluruh sesi malam itu. Peserta diajak menyadari bahwa masa lalu bukan untuk disesali, melainkan dijadikan guru yang membimbing kehidupan saat ini demi masa depan yang lebih baik.

Dalam pemaparannya, RP. Petrus Maman Suparman, OSC menjelaskan bahwa kata refleksi berasal dari bahasa Latin, yakni Reflectere, yang terdiri atas dua kata, yaitu Re yang berarti kembali dan Flectere yang berarti membengkokkan atau mengarahkan kembali.

Dengan demikian, refleksi berarti proses kembali kepada pengalaman hidup untuk menemukan makna yang lebih mendalam. Dalam pendampingan remaja Katolik, refleksi dipahami sebagai proses kembali melihat pengalaman hidup agar seseorang menemukan nilai kehidupan sekaligus arah panggilan Tuhan.

Beliau kemudian menjelaskan tiga tahapan utama refleksi.

Tahap pertama adalah merenung, yakni melihat kembali seluruh pengalaman hidup secara jujur tanpa menutupi kenyataan.

Tahap kedua adalah mengenal, yaitu menemukan nilai dan pembelajaran dari pengalaman tersebut.

Tahap ketiga ialah mengarah, yakni menentukan langkah hidup yang lebih baik setelah memperoleh kesadaran baru.

Menurutnya, refleksi sejati selalu menghasilkan perubahan sikap. Bila seseorang selesai berefleksi tetapi tidak memiliki niat memperbaiki diri, maka proses refleksi belum mencapai tujuan yang sebenarnya.

Di hadapan seluruh peserta, beliau juga menyampaikan dua kutipan motivasi yang mendapatkan perhatian besar dari para remaja.

"Luangkan waktu untuk berhenti sejenak, agar kita bisa melihat jalan yang Tuhan tunjukkan."

Kemudian dilanjutkan dengan kutipan,

"Refleksi bukan sekadar melihat ke belakang, tetapi untuk melangkah lebih bijak ke depan."

Suasana semakin hening ketika seluruh peserta mulai memasuki proses menuliskan pengalaman hidup masing-masing. Mereka diminta memilih satu pengalaman paling berkesan yang pernah dialami.

Dalam panduan refleksi tersebut, peserta diminta menuliskan pengalaman masa lalu secara lengkap dalam dua paragraf. Setelah itu mereka diminta menuliskan reaksi, perasaan, pembelajaran yang diperoleh, kemudian mencari makna atau pesan Tuhan melalui terang Kitab Suci.

RP. Petrus Maman Suparman, OSC menegaskan bahwa tujuan utama refleksi bukan untuk mencari kesalahan orang lain.

Sebaliknya, refleksi adalah proses melihat diri sendiri secara jujur.

Beliau menampilkan tiga poin penting yang harus dimiliki setiap orang ketika melakukan refleksi, yaitu:

Melihat diri sendiri dengan jujur.

Mengevaluasi masa lalu untuk belajar.

Bertumbuh menuju masa depan yang lebih baik.

Ia menambahkan bahwa refleksi bukan ruang untuk menghakimi diri sendiri, melainkan kesempatan untuk mengenali kelemahan agar mampu memperbaiki langkah kehidupan.

Menurutnya, seseorang tidak akan pernah bertumbuh apabila selalu sibuk menyalahkan orang lain.

Sebaliknya, orang yang berani melihat dirinya sendiri akan semakin dewasa dalam iman.

Selanjutnya peserta diajak memahami tiga sikap penting dalam refleksi.

Pertama, melihat dengan jujur, yakni menilai diri apa adanya tanpa kepalsuan.

Kedua, memahami dengan hati, yakni menemukan makna di balik setiap pengalaman hidup.

Ketiga, bertumbuh untuk misi, yaitu menggunakan hasil refleksi sebagai bekal melayani Tuhan dan sesama.

Materi juga menegaskan bahwa refleksi membutuhkan tiga unsur penting, yakni kesadaran, ruang, dan waktu.

Refleksi bukan tindakan spontan yang dilakukan sambil lalu.

Seseorang membutuhkan tempat yang tenang, waktu yang cukup, serta hati yang terbuka agar mampu mendengarkan suara Tuhan dalam perjalanan hidupnya.

Beliau mengajak seluruh peserta untuk menyediakan waktu secara rutin melakukan refleksi pribadi karena dari sanalah seseorang belajar mengenali dirinya sendiri.

Manfaat refleksi juga dipaparkan secara sederhana namun mendalam.

Melalui refleksi seseorang akan menjadi lebih sadar terhadap dirinya.

Ia juga akan semakin mengetahui arah hidupnya.

Selain itu, refleksi membantu seseorang bertumbuh menjadi pribadi yang lebih matang, rendah hati, dan bijaksana.

Dalam bagian berikutnya peserta memperoleh langkah-langkah praktis melakukan refleksi.

Pertama, menyadari tujuan hidup.

Kedua, merencanakan langkah yang akan dilakukan.

Ketiga, menyediakan ruang yang tenang agar mampu mendengarkan suara Tuhan.

Tidak berhenti sampai di sana, RP. Petrus Maman Suparman, OSC juga membagikan enam panduan praktis menulis refleksi.

Peserta diminta memilih satu pengalaman paling berkesan.

Kemudian menemukan pembelajaran hidup dari pengalaman tersebut.

Selanjutnya mendengarkan pesan Tuhan melalui terang Kitab Suci.

Setelah itu membuat niat pribadi untuk berubah.

Kemudian menyusun satu kutipan singkat yang mewakili keseluruhan pengalaman.

Terakhir, peserta diminta menentukan judul refleksi yang menarik.

Seluruh proses dilakukan dengan penuh kesungguhan.

Hampir seluruh peserta tampak tenggelam dalam tulisan mereka masing-masing.

Sebagian bahkan terlihat meneteskan air mata ketika mengingat kembali pengalaman hidup yang penuh perjuangan.

Di akhir sesi, beberapa peserta secara sukarela maju ke depan untuk membagikan hasil refleksi mereka.

Mereka menceritakan kisah kehidupan yang beragam, mulai dari pengalaman kehilangan anggota keluarga, perjuangan menghadapi kegagalan, proses berdamai dengan diri sendiri, hingga pengalaman menemukan kembali kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Kesaksian demi kesaksian tersebut menghadirkan suasana haru.

Banyak peserta lainnya memberikan tepuk tangan sebagai bentuk dukungan dan penghargaan atas keberanian teman-temannya membuka pengalaman hidup di hadapan seluruh peserta.

Salah satu contoh refleksi yang ditampilkan malam itu berjudul "Anita Yang Tangguh" karya Evany Tampubolon (TSOM #3).

Dalam refleksi tersebut terselip sebuah kutipan yang menyentuh hati peserta.

"Setiap kisah adalah cermin, setiap refleksi adalah langkah, setiap pengalaman adalah guruku."

Kalimat tersebut menjadi gambaran bahwa setiap perjalanan hidup selalu mengandung pelajaran berharga apabila seseorang mau berhenti sejenak untuk merenungkannya.

Kehadiran Mgr. Pius Riana Prapdi bersama para imam, pembina, dan pengurus KMKI semakin memberikan semangat bagi para peserta.

Mereka tidak hanya menyaksikan jalannya refleksi, tetapi juga memberikan perhatian kepada para remaja yang sedang dibentuk menjadi generasi muda Katolik yang siap diutus menjadi pewarta Injil.

Melalui kegiatan refleksi harian ini, T-SoM 2026 kembali menegaskan bahwa pembinaan iman bukan hanya dilakukan melalui materi, permainan, maupun dinamika kelompok.

Lebih dari itu, pembinaan iman harus menyentuh hati setiap peserta agar mereka berani mengenali diri sendiri, memperbaiki kehidupan, dan melangkah menuju masa depan dengan penuh harapan.

Sesi refleksi malam itu akhirnya ditutup dengan doa bersama, memohon agar setiap pengalaman hidup yang telah dituliskan tidak berhenti sebagai catatan di atas kertas, tetapi sungguh menjadi benih perubahan dalam kehidupan para peserta.

Dengan penuh antusias, 183 peserta meninggalkan ruangan sambil membawa lembar refleksi mereka sebagai pengingat bahwa setiap pengalaman, baik suka maupun duka, dapat menjadi jalan untuk semakin mengenal Tuhan.

Refleksi yang dipimpin RP. Petrus Maman Suparman, OSC, Direktur Diosesan (Dirdios) KMKI Keuskupan Bandung, menjadi salah satu momen paling berkesan dalam rangkaian Teens School of Mission (T-SoM) 2026. Dari proses sederhana menulis pengalaman hidup, para remaja belajar bahwa pertumbuhan iman dimulai dari keberanian melihat diri sendiri dengan jujur, menemukan makna di balik setiap peristiwa, dan melangkah dengan semangat baru untuk menjadi saksi Kristus di tengah Gereja dan masyarakat.

 📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 18 Juli 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar