Ketapang, 30 Juli 2026.Semangat persaudaraan lintas agama kembali
terlihat di Kabupaten Ketapang melalui kegiatan ramah tamah dan diskusi yang
berlangsung di Pastoran Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang,
Selasa, 21 Juli 2026. Pertemuan yang dimulai pukul 10.50 WIB itu mempertemukan
para pemimpin agama, tokoh masyarakat, tenaga kesehatan, serta pegiat kerukunan
dalam suasana akrab sebelum Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo, Uskup Keuskupan
Surabaya, kembali ke Surabaya pada pukul 13.30 WIB di hari yang sama.
Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog yang
memperlihatkan kuatnya tradisi toleransi di Ketapang. Para peserta duduk
bersama menikmati makan siang dan aneka buah-buahan sambil berbincang mengenai
pentingnya menjaga persatuan, memperkuat persaudaraan, serta merawat kehidupan
masyarakat yang damai di tengah keberagaman agama, budaya, dan suku.
Tuan rumah kegiatan, R.P. Vitalis Nggeal,
C.P., yang akrab disapa Romo Ali, menyambut seluruh tamu dengan
penuh kehangatan. Baginya, persahabatan merupakan kekuatan utama dalam
membangun kehidupan bermasyarakat. Pertemuan sederhana tersebut menjadi bukti
bahwa dialog yang dibangun dengan saling menghormati mampu melahirkan kepercayaan
dan kerja sama demi kepentingan bersama.
Hadir dalam kesempatan itu Mgr. Pius Riana
Prapdi, Uskup Keuskupan Ketapang, yang menyampaikan apresiasi atas
terjalinnya hubungan baik antarumat beragama di Kabupaten Ketapang. Kehadiran
dua uskup dalam satu forum persaudaraan semakin mempertegas komitmen Gereja
Katolik untuk terus membangun komunikasi yang terbuka, menghormati perbedaan,
dan menghadirkan semangat persatuan di tengah masyarakat.
Turut hadir Ustadz Nanang Yusriq, yang akrab dikenal sebagai Cak Nanang dari Gusdurian Ketapang. Kehadirannya mencerminkan eratnya hubungan persaudaraan yang telah lama terjalin antara berbagai komunitas keagamaan di Ketapang. Dialog berlangsung hangat, penuh rasa hormat, serta diwarnai pertukaran gagasan mengenai upaya memperkuat toleransi dan kerja sama sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pertemuan tersebut hadir pula R.P.
F.X. Oscar Aris Sudarmadi, C.P., Bruder Pidi, C.P., Ketua Dewan
Pastoral Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Bapak Jeno Leo, Ketua II
Dewan Pastoral Paroki Bapak Andreas Didik Eko Purwantoro, para pengurus
Dewan Pastoral Paroki, para ketua lingkungan, Bapak Bundono Supradjaja (Pak
Aweng) selaku Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (MAKIN) Kabupaten
Ketapang, dr. Simon Yosonegoro Liem, Sp.MK., M.H.Kes., Kepala
Laboratorium Mikrobiologi RSUD dr. Agoesdjam Ketapang, serta berbagai tokoh
masyarakat lainnya.
Suasana penuh kekeluargaan semakin terasa
ketika seluruh tamu menikmati makan siang bersama. Hidangan yang disajikan
sederhana namun penuh makna menjadi simbol kebersamaan. Aneka buah-buahan yang
tersaji di meja melengkapi ramah tamah yang berlangsung santai. Percakapan
mengalir tanpa sekat, memperlihatkan bahwa perbedaan keyakinan tidak pernah
menjadi penghalang untuk saling mengenal, saling menghargai, dan saling
mendukung dalam membangun Kabupaten Ketapang.
Silaturahmi tersebut bukan sekadar pertemuan
seremonial. Dialog yang berlangsung selama lebih dari dua jam menjadi
kesempatan bagi para tokoh lintas agama untuk berbagi pengalaman, memperkuat
komunikasi, serta membangun komitmen bersama dalam menjaga keharmonisan yang
selama ini menjadi salah satu kekuatan Kabupaten Ketapang. Di tengah berbagai
tantangan kehidupan sosial, para peserta sepakat bahwa kerukunan harus terus
dipelihara melalui perjumpaan, komunikasi yang terbuka, dan kerja sama nyata
dalam berbagai bidang kehidupan.
Kehadiran Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo
di Ketapang sendiri berkaitan dengan pembukaan Temu Komunikasi Sosial Regio
Kalimantan yang berlangsung pada 20–22 Juli 2026 di Catholic Center
Keuskupan Ketapang. Namun, di sela-sela agenda tersebut, beliau menyempatkan
diri mengikuti silaturahmi lintas agama di Pastoran Paroki Santo Agustinus Paya
Kumang. Kehadiran itu menjadi simbol bahwa komunikasi yang baik tidak hanya
dibangun melalui media, tetapi juga melalui perjumpaan langsung yang melahirkan
persahabatan dan saling pengertian.
Pertemuan ini kembali menegaskan bahwa Ketapang
memiliki modal sosial yang kuat dalam menjaga kerukunan antarumat beragama.
Semangat saling menghormati yang tumbuh dari perjumpaan seperti inilah yang
terus memperkokoh Kabupaten Ketapang sebagai rumah bersama bagi seluruh
warganya, tanpa membedakan agama, suku, maupun latar belakang budaya.
Semangat persaudaraan yang terbangun dalam
silaturahmi tersebut tidak muncul dalam waktu singkat. Kabupaten Ketapang telah
lama dikenal sebagai daerah yang dihuni masyarakat dengan latar belakang agama,
suku, budaya, dan tradisi yang beragam. Keberagaman itu menjadi kekayaan yang
terus dirawat melalui dialog, saling menghormati, dan kerja sama dalam berbagai
bidang kehidupan. Karena itulah, pertemuan di Pastoran Paroki Santo Agustinus
Paya Kumang bukan sekadar agenda ramah tamah, melainkan cerminan budaya hidup
bersama yang telah mengakar di tengah masyarakat.
Bagi Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo, Uskup
Keuskupan Surabaya, persaudaraan merupakan fondasi penting dalam membangun
kehidupan bangsa. Beliau mengapresiasi suasana kekeluargaan yang dirasakan
selama berada di Ketapang. Menurutnya, hubungan yang harmonis antarpemeluk
agama menjadi modal berharga untuk menghadapi berbagai tantangan sosial pada
masa sekarang maupun masa mendatang.
Beliau menilai bahwa perjumpaan langsung
memiliki makna yang tidak tergantikan. Dialog yang dilakukan dengan hati
terbuka mampu menghilangkan prasangka, memperkuat rasa saling percaya, serta
menghadirkan semangat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat. Karena itu,
ruang-ruang perjumpaan seperti silaturahmi lintas agama perlu terus dipelihara
agar menjadi inspirasi bagi generasi muda.
Senada dengan itu, Mgr. Pius Riana Prapdi,
Uskup Keuskupan Ketapang, menegaskan bahwa kerukunan bukan sekadar slogan,
melainkan harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Menurut beliau, masyarakat
Ketapang telah menunjukkan bahwa perbedaan agama bukan alasan untuk hidup
berjauhan. Sebaliknya, keberagaman justru menjadi kesempatan untuk saling
mengenal, belajar satu sama lain, dan memperkuat persaudaraan.
Beliau mengajak seluruh elemen masyarakat untuk
terus menjaga komunikasi yang baik, menghindari sikap saling curiga, serta
mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Dengan demikian, suasana damai yang selama
ini terpelihara dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ustadz Nanang
Yusriq, atau yang akrab disapa Cak Nanang, menyampaikan bahwa
silaturahmi merupakan nilai yang diajarkan setiap agama. Pertemuan seperti ini
menjadi bukti bahwa dialog dapat membangun saling pengertian sekaligus
memperkuat rasa kebangsaan. Menurutnya, masyarakat Ketapang memiliki pengalaman
panjang hidup berdampingan secara damai sehingga harus terus menjaga warisan
tersebut.
Ia juga menilai bahwa komunikasi yang dibangun
secara langsung jauh lebih efektif dibandingkan hanya melalui media sosial. Dengan bertemu, berbincang, dan saling
mendengarkan, berbagai kesalahpahaman dapat dihindari sejak dini. Karena itu,
forum-forum persaudaraan perlu terus diperluas dengan melibatkan generasi muda,
tokoh adat, tokoh perempuan, dan berbagai unsur masyarakat lainnya.
Suasana akrab semakin terasa ketika seluruh tamu
menikmati makan siang bersama. Hidangan yang disiapkan oleh tuan rumah menjadi
sarana mempererat hubungan antarpeserta. Tidak tampak sekat jabatan maupun
perbedaan keyakinan. Seluruh tamu berbincang dalam suasana santai sambil
menikmati aneka buah-buahan yang disediakan sebagai pelengkap jamuan.
Di sela-sela ramah tamah, para peserta saling
bertukar pengalaman mengenai kehidupan masyarakat di lingkungan masing-masing.
Pembahasan tidak hanya menyentuh persoalan keagamaan, tetapi juga pendidikan,
kesehatan, pemberdayaan masyarakat, pelestarian budaya, hingga pentingnya
membangun kepedulian terhadap sesama. Percakapan berlangsung hangat dan penuh
rasa hormat sehingga menciptakan suasana kekeluargaan yang semakin erat.
Kehadiran dr. Simon Yosonegoro Liem, Sp.MK.,
M.H.Kes., Kepala Laboratorium Mikrobiologi RSUD dr. Agoesdjam Ketapang,
menambah warna dalam diskusi. Perspektif dari dunia kesehatan memperlihatkan
bahwa kolaborasi lintas sektor sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas
hidup masyarakat. Kerja sama yang dibangun melalui semangat persaudaraan akan
memudahkan berbagai pihak memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat tanpa
membedakan latar belakang.
Turut hadir pula Bapak Bundono Supradjaja
(Pak Aweng) selaku Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (MAKIN) Kabupaten
Ketapang. Kehadirannya memperlihatkan bahwa semangat kebersamaan di Ketapang
melibatkan seluruh unsur agama yang hidup berdampingan di daerah ini. Dalam
suasana penuh keakraban, para tokoh sepakat bahwa menjaga kerukunan merupakan
tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas pemerintah atau pemimpin agama.
Silaturahmi tersebut juga dihadiri R.P. F.X.
Oscar Aris Sudarmadi, C.P., Bruder Pidi, C.P., Ketua Dewan Pastoral
Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Bapak Jeno Leo, Ketua II Dewan
Pastoral Paroki Bapak Andreas Didik Eko Purwantoro, para pengurus Dewan
Pastoral Paroki, serta para ketua lingkungan. Kehadiran mereka menunjukkan
bahwa upaya membangun persaudaraan dimulai dari komunitas akar rumput yang
setiap hari hidup berdampingan dengan masyarakat.
Bagi masyarakat Ketapang, kehidupan yang damai
bukan hanya menjadi cita-cita, tetapi telah menjadi kenyataan yang terus
dirawat melalui kebiasaan saling mengunjungi, bekerja sama dalam kegiatan
sosial, membantu saat terjadi musibah, serta menghormati perayaan hari besar
setiap agama. Tradisi inilah yang membuat hubungan antarmasyarakat tetap
harmonis meskipun hidup dalam keberagaman.
Silaturahmi di Pastoran Paroki Santo Agustinus
Paya Kumang menjadi pengingat bahwa nilai toleransi tidak cukup diwujudkan
melalui kata-kata. Persaudaraan harus dipelihara melalui perjumpaan, komunikasi
yang jujur, dan kerja sama yang berkesinambungan. Ketika para pemimpin agama
mampu memberikan teladan hidup rukun, masyarakat pun akan semakin terdorong
untuk menjaga persatuan dan memperkuat semangat kebangsaan.
Silaturahmi lintas agama yang berlangsung di
Pastoran Paroki Santo Agustinus Paya Kumang menjadi penegasan bahwa
keharmonisan tidak tercipta dengan sendirinya. Kerukunan lahir dari kesediaan
setiap orang untuk membuka ruang dialog, menghargai perbedaan, dan membangun
kepercayaan melalui perjumpaan yang tulus. Nilai-nilai itulah yang tampak
selama ramah tamah berlangsung, ketika para tokoh agama, pemimpin Gereja,
tenaga kesehatan, serta tokoh masyarakat duduk bersama dalam suasana
persaudaraan tanpa memandang latar belakang keyakinan.
Kebersamaan tersebut sekaligus mengingatkan
kembali perjalanan panjang Kabupaten Ketapang dalam memelihara kehidupan yang
damai di tengah keberagaman. Sejak dahulu, masyarakat di Tanah Kayong dikenal
mampu menjaga hubungan yang harmonis antarsuku, antarbudaya, dan antaragama.
Berbagai kegiatan sosial, gotong royong, hingga perayaan hari-hari besar
keagamaan sering menjadi momentum yang mempererat hubungan antarmasyarakat.
Tradisi itu terus diwariskan sebagai bagian dari identitas daerah yang
menjunjung tinggi nilai persatuan.
Dalam konteks itulah, kehadiran Mgr.
Agustinus Tri Budi Utomo, Uskup Keuskupan Surabaya, memiliki makna
tersendiri. Selain memenuhi undangan membuka Temu Komunikasi Sosial Regio
Kalimantan yang berlangsung pada 20–22 Juli 2026, beliau juga menyempatkan diri
mengikuti silaturahmi lintas agama sebelum kembali ke Surabaya. Kehadiran
tersebut menjadi simbol bahwa komunikasi yang membangun persaudaraan tidak
hanya diwujudkan melalui mimbar, media, ataupun forum resmi, tetapi juga
melalui kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertemuan itu semakin bermakna karena dihadiri Mgr.
Pius Riana Prapdi, Uskup Keuskupan Ketapang, yang selama ini terus
mendorong terbangunnya hubungan baik dengan seluruh elemen masyarakat.
Kehadiran kedua uskup menunjukkan komitmen Gereja Katolik untuk terus mengambil
bagian dalam memperkuat kehidupan sosial yang damai, inklusif, dan menghargai martabat
setiap manusia.
Kehadiran Ustadz Nanang Yusriq (Cak Nanang)
dari Gusdurian Ketapang memperlihatkan bahwa dialog lintas agama di Ketapang
tidak berhenti pada hubungan formal antarlembaga. Persaudaraan tumbuh melalui
komunikasi yang hangat, rasa saling percaya, dan kemauan untuk bekerja bersama
demi kepentingan masyarakat. Semangat inilah yang menjadi kekuatan dalam
menghadapi berbagai tantangan kehidupan sosial di era yang terus berubah.
Suasana kekeluargaan juga tercermin dari
keterlibatan Bapak Bundono Supradjaja (Pak Aweng) selaku Ketua Majelis
Agama Konghucu Indonesia (MAKIN) Kabupaten Ketapang, dr. Simon Yosonegoro
Liem, Sp.MK., M.H.Kes., Kepala Laboratorium Mikrobiologi RSUD dr. Agoesdjam
Ketapang, R.P. F.X. Oscar Aris Sudarmadi, C.P., Bruder Pidi, C.P.,
Ketua Dewan Pastoral Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Bapak Jeno Leo,
Ketua II Dewan Pastoral Paroki Bapak Andreas Didik Eko Purwantoro, para
pengurus Dewan Pastoral Paroki, para ketua lingkungan, serta tokoh masyarakat
lainnya. Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa membangun
kerukunan merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan seluruh komponen
masyarakat.
Lebih dari sekadar menikmati makan siang
bersama dan aneka buah-buahan, para peserta membangun komunikasi yang penuh
keterbukaan. Percakapan yang berlangsung dalam suasana santai melahirkan
berbagai gagasan tentang pentingnya memperkuat pendidikan karakter, menumbuhkan
kepedulian sosial, serta menjaga ruang dialog sebagai sarana menyelesaikan
berbagai persoalan secara damai. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting
untuk memperkokoh kehidupan masyarakat yang rukun dan saling menghormati.
Bagi Kabupaten Ketapang, perjumpaan seperti ini
merupakan investasi sosial yang sangat berharga. Di tengah perkembangan
teknologi informasi yang begitu cepat dan derasnya arus informasi di media
digital, komunikasi secara langsung tetap memiliki kekuatan untuk mempererat
hubungan antarmanusia. Tatap muka memungkinkan setiap orang saling mendengar,
memahami sudut pandang yang berbeda, serta membangun rasa percaya yang menjadi
dasar kehidupan bersama.
Silaturahmi lintas agama di Pastoran Paroki Santo
Agustinus Paya Kumang juga memperlihatkan bahwa toleransi bukan sekadar konsep
yang diucapkan dalam pidato atau ditulis dalam dokumen. Toleransi tumbuh
melalui tindakan sederhana, seperti saling berkunjung, berbagi meja makan,
menghormati keyakinan orang lain, dan bekerja sama dalam berbagai kegiatan
kemasyarakatan. Dari langkah-langkah sederhana itulah lahir persaudaraan yang
kokoh dan mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan zaman.
Momentum tersebut diharapkan menjadi inspirasi
bagi masyarakat luas untuk terus merawat kebersamaan. Para tokoh agama telah
memberikan teladan bahwa perbedaan tidak harus menjadi sumber perpecahan.
Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi kekuatan apabila dibangun di atas rasa
saling menghargai, semangat melayani, dan komitmen untuk menghadirkan kedamaian
bagi semua.
Semangat persaudaraan yang terjalin dalam
pertemuan itu sejalan dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang menjunjung
tinggi persatuan dalam keberagaman. Ketapang kembali menunjukkan bahwa harmoni
dapat terus tumbuh apabila seluruh elemen masyarakat memilih jalan dialog,
kerja sama, dan saling menghormati sebagai dasar membangun kehidupan bersama.
Silaturahmi yang berlangsung pada Selasa, 21 Juli 2026, akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda ramah tamah. Pertemuan tersebut menjadi simbol kuat bahwa persaudaraan lintas agama merupakan modal utama dalam menjaga stabilitas sosial, memperkuat persatuan, dan membangun masa depan Kabupaten Ketapang yang damai, inklusif, serta penuh harapan."Semoga Ketapang senantiasa aman, damai, dan harmonis. Ketapang adalah rumah kita bersama, tempat keberagaman dirawat dalam semangat persaudaraan, saling menghormati, dan bekerja bersama demi kebaikan seluruh masyarakat."
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 30 Juli 2026

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
0 comments:
Posting Komentar