Ketua Bidang Liturgi Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Tegaskan Makna Pantang dan Puasa Jelang Masa Prapaskah di Ketapang

 


Foto Bapak. Hendrikus Hendri,S.S

Ketua Bidang Liturgi Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Tegaskan Makna Pantang dan Puasa Jelang Masa Prapaskah di Ketapang

Ketapang, 20 Februari 2026. Menyongsong Masa Prapaskah tahun 2026, Ketua Bidang Liturgi dan Peribadatan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Hendrikus Hendri, S.S., mengingatkan umat Katolik tentang pentingnya memahami dan menghayati makna pantang dan puasa sebagai wujud pertobatan serta pengendalian diri.

Selain mengemban tugas sebagai Ketua Bidang Liturgi dan Peribadatan,Bapak. Hendrikus Hendri,S.S juga merupakan Koordinator Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Ketapang di wilayah Keuskupan Ketapang. Dalam keterangannya di Ketapang, ia menegaskan bahwa pantang dan puasa bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan panggilan iman yang memiliki makna rohani mendalam.

Makna Pantang dan Puasa

Hendrikus menjelaskan bahwa pantang adalah tindakan menghindari makanan atau kebiasaan tertentu sebagai bentuk pengorbanan. Secara tradisional, pantang sering diartikan sebagai tidak mengonsumsi daging. Namun, esensinya lebih luas, yakni menahan diri dari sesuatu yang disukai sebagai bentuk latihan rohani.

Sementara itu, puasa adalah makan kenyang hanya satu kali dalam sehari. Tujuan puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan melatih pengendalian diri, kerendahan hati, dan kepekaan terhadap sesama.

“Berpantang dan berpuasa adalah sarana untuk melatih pengendalian diri dan membangun kesadaran rohani. Kita diajak untuk turut merasakan sedikit penderitaan Yesus serta mempersatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan-Nya di kayu salib demi keselamatan dunia,” ungkap Hendrikus.

Hari Jumat Sebagai Hari Pantang

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa setiap hari Jumat sepanjang tahun adalah hari pantang bagi umat Katolik. Hal ini sesuai dengan ketentuan Kitab Hukum Kanonik (KHK Kanon 1250–1251), yang menetapkan hari Jumat sebagai hari tobat, kecuali jika bertepatan dengan hari raya atau oktaf Natal dan Paskah.

Selain itu, Hari Rabu Abu juga merupakan hari pantang dan puasa yang wajib dijalankan oleh umat yang memenuhi syarat. Penetapan hari-hari tersebut bertujuan agar umat memiliki ritme pertobatan yang teratur dalam kehidupan iman mereka.

“Hari Jumat adalah peringatan akan wafat Tuhan Yesus. Maka sudah sepantasnya kita menghayatinya sebagai hari tobat,” jelasnya.

Pantang Tidak Terbatas pada Makanan

Dalam kesempatan tersebut, Hendrikus juga menekankan bahwa pantang tidak terbatas pada makanan atau minuman saja. Jika karena alasan tertentu seseorang tidak dapat berpantang makanan, maka dapat memilih bentuk pantang lain yang lebih relevan dan menantang secara pribadi.

Contohnya, pantang menonton televisi, berbelanja berlebihan, pergi ke bioskop, bergosip, bermain gim, atau kebiasaan lain yang bersifat mengikat dan menghabiskan waktu. Bahkan, menurutnya, akan lebih baik jika pantang makanan atau minuman digabungkan dengan pantang kebiasaan tertentu agar latihan rohani menjadi lebih bermakna.

“Pantang yang sejati adalah ketika kita berani meninggalkan sesuatu yang paling kita sukai demi pertumbuhan iman,” tegasnya.

Puasa Minimal dan Anjuran Selama Prapaskah

Dalam setahun, Gereja mewajibkan puasa minimal dua kali, yakni pada Hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Namun, bagi umat yang mampu secara fisik dan kesehatan, dianjurkan untuk berpuasa pada tujuh hari Jumat selama Masa Prapaskah.

Ketika berpuasa, umat diperbolehkan makan kenyang hanya satu kali sehari, yang dapat dipilih pada pagi, siang, atau malam hari. Kendati demikian, makan kenyang tidak berarti berlebihan. Tidak diperkenankan adanya tambahan makanan lain seperti camilan atau makanan ringan di luar ketentuan.

“Puasa adalah latihan disiplin diri. Kita belajar mengendalikan keinginan dan tidak menuruti hawa nafsu. Ini adalah latihan rohani yang sangat berharga,” tambahnya.

Pengendalian Diri dan Solidaritas

Hendrikus menekankan bahwa inti dari pantang dan puasa adalah pengendalian diri. Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan konsumtif, umat Katolik diajak untuk berhenti sejenak, merenung, dan mengarahkan kembali hidup kepada Tuhan.

Melalui pengendalian diri, umat juga dilatih untuk lebih peka terhadap penderitaan sesama. Dengan merasakan lapar dan kekurangan, umat diharapkan semakin memiliki solidaritas terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan setiap hari.

Pantang dan puasa bukan sekadar kewajiban hukum Gereja, tetapi merupakan jalan pertobatan yang konkret. Dari tindakan sederhana menahan diri, umat diajak untuk memperdalam relasi dengan Tuhan dan sesama.

Aksi Puasa Pembangunan (APP)

Dalam rangka Masa Prapaskah, umat Katolik juga diajak untuk berpartisipasi dalam Aksi Puasa Pembangunan (APP). Hendrikus menjelaskan bahwa dana APP yang dikumpulkan umat bukan sekadar sejumlah uang, melainkan hasil dari pengorbanan nyata melalui pantang dan puasa.

Derma atau dana APP hendaknya diambil dari “harga” pantang dan puasa yang dipilih. Artinya, nilai dari sesuatu yang dipantangkan atau dihemat itulah yang kemudian disisihkan dan dimasukkan ke dalam amplop APP sebagai wujud silih dan solidaritas.

“APP bukan hanya soal rupiah, tetapi soal hati. Uang yang kita persembahkan adalah tanda kasih dan kepedulian kita terhadap sesama,” ujarnya.

Dana yang terkumpul melalui APP nantinya akan digunakan untuk mendukung program sosial dan pemberdayaan umat, khususnya bagi mereka yang membutuhkan.

Ajakan Menghayati Prapaskah dengan Sungguh

Menutup keterangannya, Hendrikus Hendri mengajak seluruh umat Katolik di wilayah Ketapang untuk menghayati Masa Prapaskah dengan sungguh-sungguh. Ia berharap pantang dan puasa tidak dijalankan sekadar formalitas, tetapi benar-benar menjadi sarana pertumbuhan iman.

“Mari kita jalani pantang dan puasa dengan penuh kesadaran, bukan karena kewajiban semata, tetapi karena cinta kepada Tuhan. Dari pengorbanan kecil kita, semoga lahir pertobatan yang nyata dan hidup yang semakin berkenan di hadapan-Nya,” pungkasnya.

Dengan pemahaman yang benar tentang pantang dan puasa, diharapkan umat Katolik di Ketapang semakin siap menyambut Paskah dengan hati yang diperbarui, penuh sukacita, dan semangat berbagi kepada sesama.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 20 Februari 2026


About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar