MINGGU PRAPASKAH I DI PAROKI SANTO AGUSTINUS PAYA KUMANG
Mencoba Tuhan atau Percaya Sepenuhnya?” – Refleksi Injil Matius 4:1–11
Ketapang Minggu 22 Februari 2026.Umat Katolik di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, merayakan Minggu Prapaskah I pada Minggu, 22 Februari 2026, dalam suasana khidmat dan penuh permenungan. Hari Minggu ini bertepatan dengan Pesta Tahta Suci Santo Petrus serta peringatan Santa Margaretha dari Cortona, Pengaku Iman, dengan warna liturgi ungu yang melambangkan pertobatan dan pengharapan.
Perayaan Ekaristi dimulai pukul 07.00 WIB dan dipimpin oleh RP. Vitalis Nggeal, CP. Sejak pagi hari, umat telah memenuhi gereja dengan hati yang siap memasuki masa Prapaskah masa empat puluh hari perjalanan rohani menuju Paskah.
Petugas liturgi pada perayaan ini adalah:
Lektor: Saudari Agustina Rosa Marhen
Pemazmur: Dianisia Patria Gita Astrie
Organis: Bapak Yulius Sudarisman
Dirigen: Ibu Yohana Dani Oneng Wahyuni
Koor: Lingkungan St. Philipus
Lantunan nyanyian pembuka yang lembut namun penuh makna mengantar umat memasuki misteri iman dengan suasana tobat yang mendalam. Warna ungu yang mendominasi altar dan busana liturgi semakin menegaskan bahwa masa Prapaskah telah dimulai sebuah masa refleksi, pertobatan, dan pembaruan diri.
Padang Gurun dalam Hidup Kita
Dalam homilinya, RP. Vitalis Nggeal, CP mengajak umat merenungkan Injil hari itu, yakni Matius 4:1–11, tentang pencobaan Yesus di padang gurun.
Beliau membuka homili dengan menegaskan bahwa Injil hari ini tidak lepas dari tema pencobaan. Setelah dibaptis di Sungai Yordan, Yesus tidak langsung masuk ke dalam kemuliaan pelayanan publik-Nya. Sebaliknya, Ia dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk berpuasa selama empat puluh hari dan empat puluh malam.
“Dalam perjalanan iman kita,” ujar RP. Vitalis, “semua orang memiliki padang gurunnya masing-masing.”
Padang gurun itu bisa berupa:
kelelahan fisik dan batin,
keraguan dalam iman,
kerapuhan hati,
konflik keluarga,
luka batin yang belum sembuh,
atau kegagalan yang membuat kita merasa sendirian.
Yesus masuk ke padang gurun bukan untuk mencari penderitaan, tetapi untuk menunjukkan kepada kita cara menghadapi pencobaan. Ia dicobai saat lemah secara fisik, saat lapar, saat sendirian. Dan justru dalam kelemahan itulah iblis datang.
RP. Vitalis menegaskan bahwa pencobaan sering datang saat kita lelah, kecewa terlalu dalam, atau ketika hati terasa kosong. Pada saat-saat seperti itu, godaan menjadi sangat nyata dan terasa masuk akal.
Namun Injil hari ini bukan kisah kekalahan, melainkan kemenangan. Penyertaan Tuhan selalu lebih kuat daripada godaan apa pun.
Pencobaan Pertama: Batu Menjadi Roti
“Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.”
Menurut RP. Vitalis, persoalannya bukan pada roti itu sendiri, melainkan pada cara memperolehnya. Iblis tidak memulai dari sesuatu yang tampak jahat. Ia memulai dari sesuatu yang terlihat wajar dan masuk akal.
“Demi keluarga, kadang orang menghalalkan segala cara. Demi sukses, orang rela mengorbankan nilai,” ungkap beliau.
Di sinilah letak bahaya pencobaan: bukan pada hal besar dan kasar, tetapi pada kompromi kecil yang perlahan mengaburkan kebenaran.
Yesus menjawab, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”
Firman Tuhan menjadi pedang rohani yang kuat. Setiap kali dicobai, Yesus tidak berdialog panjang dengan iblis. Ia langsung kembali pada Firman Allah.
RP. Vitalis mengajak umat untuk membaca Kitab Suci di rumah. Firman itu akan menjadi kekuatan saat kita diuji. Tanpa Firman, kita mudah goyah. Dengan Firman, kita memiliki pegangan yang kokoh.
Pencobaan Kedua: Mencobai Tuhan
Pencobaan kedua lebih halus. Iblis bahkan mengutip Kitab Suci dan meminta Yesus menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah agar malaikat datang menyelamatkan-Nya.
Yesus menjawab, “Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu.”
Tanpa sadar, manusia bisa berubah dari percaya menjadi menuntut. Iman sejati bukanlah memaksa Tuhan membuktikan diri-Nya, tetapi percaya bahkan ketika Ia tampak diam.
RP. Vitalis mengingatkan bahwa dalam sejarah Gereja, banyak kejatuhan terjadi bukan karena dosa besar yang mencolok, tetapi karena relativisme dan pengaburan kebenaran. Perbedaannya sering tipis, namun konsekuensinya besar.
Sebagai orang Katolik, kita dipanggil untuk berjuang dengan cara Katolik jujur, benar, dan setia.
Pencobaan Ketiga: Jalan Pintas Menuju Kemuliaan
“Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.”
Inilah puncak pencobaan: kekuasaan tanpa salib, kemuliaan tanpa pengorbanan, sukses tanpa ketaatan.
RP. Vitalis menekankan bahwa dalam hidup, sering kali kita tergoda memilih jalan pintas. Kita ingin hasil cepat, keberhasilan instan, dan pengakuan segera. Namun kerajaan Allah tidak dibangun dengan kompromi.
Prapaskah adalah kesempatan untuk belajar setia, bukan sekadar berhasil.
Masa Prapaskah sebagai Padang Gurun Rohani
Dalam renungan lebih lanjut, umat diajak melihat bahwa masa Prapaskah adalah padang gurun rohani yang diberikan Gereja. Bukan untuk menyiksa, tetapi untuk memurnikan.
Di padang gurun:
kita belajar sunyi,
kita belajar jujur pada diri sendiri,
kita belajar mengenali kelemahan,
kita belajar bergantung pada Tuhan.
RP. Vitalis mengajak umat untuk tidak takut menghadapi krisis iman atau luka batin. Tuhan paling dekat justru saat kita lemah.
“Kita kering di padang gurun karena konflik dan kelelahan,” katanya. “Tetapi jangan takut. Kenalilah kelemahan-kelemahan kita. Dari situlah Tuhan bekerja.”
Liturgi yang Menghidupkan Iman
Perayaan Ekaristi berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Bacaan dibawakan dengan jelas oleh Saudari Agustina Rosa Marhen. Mazmur dinyanyikan dengan penuh penghayatan oleh Dianisia Patria Gita Astrie.
Alunan organ yang dimainkan Bapak Yulius Sudarisman serta arahan koor oleh Ibu Yohana Dani Oneng Wahyuni menghadirkan suasana doa yang mendalam. Lingkungan St. Philipus sebagai koor utama hari itu menyanyikan lagu-lagu bertema pertobatan yang menyentuh hati umat.
Setiap unsur liturgi seakan menyatu dalam pesan utama hari itu: bertobat dan percaya kepada Injil.
Relevansi bagi Umat Zaman Ini
Renungan Minggu Prapaskah I ini sangat relevan dengan kehidupan umat di zaman modern.
Tiga pencobaan Yesus masih sangat nyata dalam hidup kita:
Kenyamanan – ketika iman dianggap mengganggu gaya hidup.
Sensasi – ketika iman dipamerkan demi pujian.
Kekuasaan – ketika kita ingin mengendalikan segalanya tanpa Tuhan.
Namun kemenangan Yesus menunjukkan bahwa pencobaan bukan akhir cerita. Setelah iblis pergi, malaikat-malaikat datang melayani-Nya.
Ini adalah janji pengharapan: Allah tidak pernah meninggalkan orang yang setia.
Harapan di Awal Prapaskah
Minggu Prapaskah I menjadi awal perjalanan panjang menuju Paskah. RP. Vitalis menutup homilinya dengan doa agar masa Prapaskah ini menjadikan hidup umat semakin serupa dengan Tuhan.
“Semoga kita tidak hanya menjalani Prapaskah sebagai rutinitas,” ujarnya, “tetapi sebagai perjalanan pertobatan yang sungguh-sungguh.”
Perayaan Ekaristi ditutup dengan berkat penutup dan umat meninggalkan gereja dengan hati yang lebih diteguhkan.
Minggu pagi itu bukan sekadar ibadah rutin. Ia menjadi momentum untuk kembali menyadari bahwa dalam setiap padang gurun kehidupan, Tuhan berjalan bersama.
Doa Penutup
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 22 Februari 2026
0 comments:
Posting Komentar